Senin, 08 Oktober 2012

Sayyid Yahya Alqadrie : Ulama Bersahaja

By  SAY Qadrie

Biografi cucu Panglima Paku Alam Segeram

Sayyid Yahya Alqadrie, Ulama Sabilillah : 1921 - 2005   84 tahun


--" Barangsiapa menghendaki kemuliaan , maka (  ketahuilah ) kemuliaan itu semua nya milik Allah.  Kepada Nya lah akan naik perkataan - perkataan  yang baik,  Dan amal kebajikan  Dia akan mengangkat nya.  Adapun orang - orang yang merencanakan kejahatan mereka akan mendapat azab yang sangat keras dan rencana jahat mereka akan hancur",-- (QS. Al fatir ,35:10)




Gambar : 
Allahyarham Sayyid Yahya bin Sayyid Muhammad  
bin Sayyid Ibrahim  bin Sayyid Abubakar bin Sayyid Husein Alqadrie 
Tuan Besar Mempawah
( Pakai Jas Hitam)
Biasa dipanggil Wan Yahya, Wan Kundor, Tok Kundoi, Tok Ami. 
Lahir ; 21 Juni 1921. Menutup mata tahun, Maret 2005. Di  Usia : 84 tahun
Generasi  ke : 38 dari  Rasullullah 




Biografi dan Sejarah hidup,:

Sayyid Yahya bin Muhammad :, 
bin Sayyid Ibrahim Panglima Hitam Paku Alam Segeram 
bin Sayyid Abubakar  Panglima Laksamana Pertama
Bin Sayyidus Syarif  Husein Tuan Besar Mempawah

(Ulama Sabilillah yang tak  dikenal)



1.Keturunan , Kelahiran dan Asal usul nya:


      Sayyid Yahya bin Mohammad Alqadrie, 

     Bergelar Wan Kundoi, atau ( Tok Ami, dimasa tua nya ), dilahirkan dari keluarga sederhana di Desa Sungai Belanga Kabupaten Pontianak, masuk Wilayah Desa Sungai Purun besar sekitar kurang lebih 36 Kilometer dari pusat kota Pontianak arah ke Utara ( Sungai Pinyuh ). 

     Beliau lahir pada tanggal,: 21 Juni tahun 1921 M, 

   Se zaman dengan kekuasaan Sultan Muhammad Al Qadri yang berkuasa di Pontianak, (15   Maret 1895 - 24 Juni 1944 ), dan,  Syarif Saleh Raja Kubu ke.VIII, Naik Tahta, 1921 - Mereka berdua ini Syahid dibawah kekuasaan Jepang. 
   

     Anak ke empat dari lima saudara ini, masing - masing :


1. Wan Daud bin Mohammad:, ( Makam di Jungkat,  wafat usia 96 tahun )

   10 anak. 8 laki-laki, : Ali, (Umar 84 th, 2020), Ismail, ( Abubakar,80 th 2020) Hitam, Puteh, Mahmud, Ibrahim,( 60 tahun 2020,menatap di Bakau ) dan hanya 2 perempuan: Maimunah dan Maryam.  Menetap di Pontianak, sejak tahun 1939. 


2. Wan Mansur bin Mohammad : ( Makam di Mengkacak. Mempawah)

    9 anak, : 3 laki -laki,, dimakamkan wakaf Syarif Alit Mengkacak dekat tempat kediaman putri nya Syf.Fatimah ( Kecik). Saudarinya bernama Syf. Lusiana, dipanggil Alus. Anak laki -laki,: Usman, Abubakar, dan 1 putra mungkin wafat tidak meninggalkan keturunan.  Sisa nya perempuan, sebagian wafat kecil. 

    Diantara putranya : 1.Abubakar (Wan Akai) anak cucu nya di Mempawah,( Sy. Ahmad Ngabang, Sy. Juliansyah, Mustami, Ivan dll.)  dan keturunan  2. Wan Usman bin Wan Mansur, anak cucu nya : ( Sy.Romi, Rano, Juliansyah, Syf. Sri Naningsih, Gozali, Merry, dll. )  Menetap di Singkawang. Kalbar.


3.Syarifah Seha /Nurseha  binti  Mohammad,: ( Makam di Sei Purun Besar ) 

     8 anak, : 6 laki- laki,  dan , 2  perempuan. Diantara nya :  Syarif Harun, Salim, Amien, A Kadir (Obot), Jafar. Perempuan:  Syf. Halijah, Syf. Kamaria, ( bin /binti : Syarif Mahmud Alkadrie, jalur Muhammad Ting). Sei  Purun Besar. Anak cucu nya diantara nya : Sy. Faisal, Farhan, Fadiel bin Amien bin Mahmud,  A Rahman bin Abdul Kadir, Juli Hamzah bin Saleh, Agus  menetap di Kuching, Syf. Aminah (wafat) mendiang istri Sy. Kamaruzzaman bin Alwi Almuthahar, Pararel Tol. 
     Dan banyak  lagi  yang menetap di Siantan Pontianak


4. Wan Yahya / Wan Kundoi  bin Mohammad:  ( Makam to Keme" 84 th 2005 )

       Memiliki 6 anak,:  5 laki -- laki , dan  1 perempuan, 1 wafat kecil.  Salah satu nya bungsu : Syarifah Zubaidah/Ninik, usia 40  tahun 2020. 


5. Syarifah Rugayyah binti Mohammad : ( Makam Sei Purun, 96 th 2015 ) 

    7 anak,: 5  laki- laki,  dan , 2 perempuan. Keturunan nya : Syarif Abdul Kadir, Kasim, Jafar, Yahya, dan Syarif Alwi bin Syarif Khalid, usia 51 tahun, 2020. Sei Purun. Anak perempuan : Syarifah Fatimah dan Syarifah Halimah. Batulayang. Pontianak Utara. 





Keterangan Haji Syarif Yasin bin Zein Al Qadri
Keturunan Syarif Abdullah bin Yahya Maulana Al Qadri
Loloan Jembrana Bali 



Orang tua Wan Yahya@38 bernama : 

       "Sayyid Mohammad @37( makam Sei Belanga, Purun ) bin  Sayyid Ibrahim Panglima Hitam Paku Alam Segeram Natuna@36 , ( di makamkan di Segeram , Natuna ) bin  Sayyid Abubakar, Panglima Laksamana Pertama@35  ( dimakamkan di Mariana)  Bin Sayyid Husein Tuan Besar Mempawah,@34 bin Sayyid Ahmad,@33 bin Sayyid Husein@32 , bin Sayyid Muhammad  Al Qadri".@31 


       Ahli waris dan anak keturunan beliau semasa hidup nya  sempat mencatat langsung secara detail,   dari beliau apa yang sering beliau ceritakan secara lisan itu. Dan hal yang paling diingat adalah bahwa beliau adalah :

         Generasi ke 38 dari Rasullullah. 

       Beliau juga menyebutkan banyak kaum kerabatnya di Pulau Tujuh. 

       Pulau Tujuh sekarang masuk wilayah Provinsi Riau Kepulauan. 

       Natuna , Tarempa, Midai, Serasan, Seratas, Sedanau, Siantan, dan lain lain. 







Kami  memahami hadist berikut ini dengan baik,: 

  *Tidaklah seseorang menisbatkan kepada selain ayahnya sedang dia mengetahui melainkan dia telah kufur kepada Allah. Dan barangsiapa yang mengaku-ngaku sebagai suatu kaum dan dia tidak ada hubungan nasab dengan mereka, maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di neraka”  (HR. al-Bukhori, No. 3508 dan Muslim, No. 112)*

Dan dalam Shahih al-Bukhori, No. 3509 dari hadits Watsilah bin al-Asqa’zia berkata:  Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

  “Seungguhnya sebesar-besar kedustaan adalah penisbatan diri seseorang kepada selain ayahnya atau  dia berkata atas nama Rasulullah apa yang tidak beliau katakan”.   

Nauzubillah,..!




Titah Sri Paduka Yang Maha Mulia
 Allahyarham Sultan Syarif Abubakar bin Pangeran Syarif Mahmud
bin Sultan Syarif Muhammad Alkadrie
Sultan  Pontianak ke .VIII  



Susunan lengkap nasab nya ;


     Sayyid Yahya, bin Sayyid Muhammad, bin Sayyid Ibrahim, bin Sayyid Abubakar. (** Ibrahim bin Abubakar ini mempunyai saudara bernama : Jamalullail dan Yusuf,  dan ibu mereka : (**Istri dari Sayyid Abubakar ini ) --, Bernama  Syarifah Aminah, Inche Minah,  berasal dari Trengganu. Tanah Melayu. Malaysia Barat sekarang. 

    Beliau ( Wan Kundoi) di besarkan dengan bimbingan kedua orang tua nya, yang mengajarkan mengaji dan membaca quran sejak dini. Di usia sekolah, beliau bersekolah di Madrasah yang ada disekitar situ pada masa itu, dan sempat belajar di Nusapati  ( Sungai Cina dulu namanya ) 

   Beliau, Sayyid Yahya dilahirkan pada tanggal : 21 juni tahun 1921, dan wafat pada tahun 2005, di usia 84 tahun, dimakamkan di pemakaman umum Wan Ke"me, Jalan Tanjung Raya. I. Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur. Kotamadya Pontianak . Provinsi Kalimantan Barat. Republik Indonesia



2. Pendidikan, 

Dimasa remaja, 

     Beliau belajar dengan beberapa guru yang sezaman dengan masa nya, sekitar tahun : 1935- 1940. Guru guru beliau tersebar mulai dari Sungai Purun Besar, Almarhum Sayyid Mahmud Alqadrie, ( Penggawe/Kepala Kampung Sungai Purun Besar, kakak iparnya, suami dari Almarhumah Syarifah Seha ( Bu Sehot ) binti Sayyid Muhammad) juga merupakan guru beliau ( dipanggil Bang Mamot , suami kakak perempuan beliau) 

     Kemudian: Di Nusapati, Sungai Pinyuh, Mempawah, dimana banyak terdapat murid -murid dari garis Habib Husein Tuan Besar Mempawah, dan murid dari Syaihk Ali Faqih Al Pattani. ( Mufti agama kerajaan Amantubillah Mempawah, menggantikan Habib Husein AlQadrie )




Bersama Istri Beliau 


    Beliau (Wan Kundor) mempelajari beberapa jenis ilmu, diantara nya ; Fiqih, Ushul Fiqih, Tauhid, Sifat dua puluh, Nahwu, bahasa Arab, dan menelaah kitab-kitab kuning, diantara nya : Kasyiful Asrar, yang sering disimpan nya di bawah bantal, karena sering nya di baca dan di kaji.

  Bekal ini mengisi dada dan ghirah kehidupan, yang akan menjadi dasar perjuangan dan pergerakan beliau pada masa berikut nya.



Makam Ayah  beliau  Wan Mohammad  bin Ibrahim
Sei Belanga. Purun Besar
Berdiri :  
Syarif Abubakar, bin Daud , bin Mohammad , bin Ibrahim, 76 tahun 2020.   



3. Perjuangan di Zaman Penjajahan Jepang dan masa Transisi kemerdekaan


    Di zaman penjajahan jepang beliau bergabung dengan kesatuan Kaigun Heiho, angkatan laut Jepang, yang berkuasa di Kalimantan Barat dan sekitarnya.

    Mendapatkan pelatihan militer tempur, selayak nya tentara. Kesatuan yang beliau ikuti adalah kesatuan tempur taktis di lapangan, bukan dari kesatuan  "Kampetai," ( Polisis Rahasia Jepang yang sangat ditakuti di zaman itu ) 

  Pada masa pergerakan kemerdekaan, setelah tentara Jepang dilucuti oleh pasukan sekutu, beliau kemudian berhenti dari militer dan menjalani kehidupan normal.



WanYahya, di usia 62 thn, bersama ketiga anak nya, th,1983
Berdiri : Syarif Abdullah, 
Duduk : Syarif Mustafa, Syarifah  Zubaidah 


   Masa ini dipergunakan untuk kembali memperdalam ilmu ilmu agama dan pemahaman keagamaan. Beliau sempat berguru dengan beberapa ulama besar diantara nya : Haji Ismail Mundu, Habib Mukhsin Al Hinduan tarekat Naksyabandiyah, H. Abdurrani Mahmud, dan Habib Saleh Alhaddad, mereka adalah beberapa diantara ulama yang cukup dikenal di zaman itu.

    Sayyid Yahya mendalami keilmuan ini, sambil berguru, belajar dan bekerja. Beliau menyempatkan waktu nya untuk hadir di setiap pengajian umum maupun pengajian khusus yang diselenggarakan oleh para ulama ini.



Istri Almarhum Wan Kundoi/ Syarif Yahya, 
-  Syarifah Aminah binti Syarif  Said Alkadri, 77 th, 2020 -
asal dekat makam Wan Said Wali, Dalam Bugis, Pontianak Timur



4. Kiprah nya di Perjuangan Ke agama an


     Dapat dikatakan, bahwa kiprah beliau dimulai sekitar tahun : 1970 an, bertempat disebuah Mushollah di desa Sungai Belanga, Kabupaten Pontianak, dekat Sei Purun Besar, beliau mendirikan Madrasah Pertama nya.  Memberikan pelajaran membaca Quran, bahasa arab, nahwu, Tajwid, dan Thaharah.

   Madrasah ini menampung murid usia 5 tahun hingga usia remaja. Sedangkan buat ibu-ibu dan bapak-bapak, diselenggarakan dari rumah kerumah, secara bergiliran.  Demikianlah proses ini berjalan sekitar dua tahun, hingga tahun 1972, beliau hijrah ke kota Pontianak, menetap bersama keluarga nya.


@ Majlis Taalim di rumah-rumah, Mushollah, Mesjid,
 seluruh Kalbar


      Di kota Pontianak, beliau sambil bekerja di siang hari nya, pada malam hari nya di isi dengan mengajarkan ilmu -ilmu dasar kepada beberapa murid-murid nya, dari rumah kerumah.


     Masa itu sekitar tahun : 1975 - 1990, tercatat diantara majlis rutin yang diadakan seminggu sekali adalah dirumah ; Habib Abdurrahman Syahab  dan rumah Habib Ali Baragbah, di kampung Arab, Pontianak Timur.  Pengajian ini di hadiri Putra Putri beliau, dan beberapa kerabat dekat penyelenggara.

   Termasuk Sayyid Mohdar ( Odat ) bin Ali Baragbah, Mantan Ketua Rabithah Alawiyah Pontianak, ketika masih belia, adalah salah satu murid beliau.

Pembahasan meliputii ilmu-ilmu tauhid, atau Sifat dua puluh, Fardhu kipayah, Fiqih, dan pemahaman ke agamaan lainya.

      Hal ini tidak terbatas hanya di kawasanm kota Pontianak saja, beliau juga aktif berdakwah dibeberapa tempat, mushollah, surau dan masjid di seputar kota Pontianak.


      Terbukti dari dokumentasi berupa buku perjalanan, ( masih ada tersimpan rapi ) yang berisi penuh dengan stempel dari instansi terkait, Mulai: Rt, Rw, Lurah, Camat, Koramil, Babinsa, KUA, tokoh masyarakat setempat.  Mulai dari seputar kota, hingga hampir seluruh wilayah Kalimantan Barat. Bahkan sampai ke Kuching, Sarawak, Malaysia Timur. 



 5. Jangkauan wilayah da"wah beliau mencakup:


Membentang sebelah Timur Kota pontianak;


    Kpg Tambelan, Banjar Serasan, Kpg Kapur, Parit Mayor, Kubu Raya, sungai Ambawang, Retok, tanjung susur, Sukalanting, Sukadana, Siduk, Dusun Besar, Dusun Kecil, Pulau Maya, Karimata, Ketapang, Sei Nipah, Telok Pakedai, dsk


Membentang sebelah Barat kota pontianak:


     Perumnas.I, Perumnas.II, Perumahan Yuka, Sei Jawi Dalam, Sei Jawi Luar, Sei Kakap, hingga ke Dusun Sepok Laut, (dimana pada masa tua nya, beliau memilih menetap disini, hingga akhir hayat nya. Akan tetapi jenazah nya dibawa pulang ke Kota Pontianak, dan dimakamkan ditempat yang dekat dengan kerabat nya.)


Membentang Sebelah Utara kota pontianak:


     Mulai dari Batulayang, Sei Nipah, Sei Purun Besar, Sei Pinyuh, desa Galang, Anjungan, Ngarak, Pahauman, Sidas, Darit, Nusapati, Bakau Kecil, Bakau Besar, Desa Sinam, sampai ke Mandor, Ngarak, dsk.

Berikutnya: Mempawah, Pemangkat, Singkawang, Sambas, Sekanan, Sendoyan, Nyelak, Semparuk, Sebatu,  Batulayar, Kartiasa, Paloh, Liku,  Jawai, Sei Kunyit, Sei Duri, dsk, adalah tempat yang pernah disinggahi oleh beliau semasa hidup nya.

     Perjalanan ini dibiayai dengan dana pribadi, dari dagangan kecil-kecilan, berupa buku buku agama, komik-komik agama, tasbih, songkok, dupa, dan barang-barang sejenis nya, yang digunakan buat ongkos transport, dari suatu tempat ke tempat lain nya.


Dengan modal keikhlasan, 

    Beliau istiqomah menyebarkan ajaran agama yang di yakini nya, sesuai dengan ilmu yang dimiliki, itulah yang diajarkan. Beliau tak pernah mengeluh, atau merasa sia-sia, sebab beliau berkeyakinan, :"Bahwa Allah pasti akan membalasnya!".



Makam Sayyid Yahya bin Mohammad/ Wan Kundoi
Kompleks Pemakaman Wan Ke"me. Tanjung Raya.I. 
Tampak diatas pusara kedua putra beliau :
Wan Mustafa dan Wan Iskandar. tahun. 2019  



6. Sebagai pencari dana buat pembangunan tempat ibadah,


    Disebabkan kegiatan beliau yang banyak bergerak, dan mendatangi satu tempat ke tempat lainya, maka kemudian ada beberapa panitia Mesjid, Mushollah, Madrasah, yang sedang  membangun, menitipkan daftar sumbangan (List) barangkali ada kaum muslim yang mau dan ikhlas menyumbangkan, buat amal jariyah membangun sarana tersebut.


Sayyid Yahya, atau Ami Yahya, atau Wan yahya, alias Wan Kundoi, : kemudian membantu panitia tersebut dengan menyampaikan kepada peserta pengajian nya, setelah selesai dawah, bahwa : 


    "Ia di amanati "Tabungan Akherat' oleh panitia Mesjid"A' atau Mesjid "B", nah siapa yang mau menabung, silahkan isi sendiri daftar nya, Insya allah, nanti akan saya sampaikan kepada panitia yang berhak.'" demikian yang beliau katakan. 

     Untuk memisahkan masing -masing sumbangan tersebut, beliau menempatkan nya dalam sebuah sapu tangan yang berbeda warna, sebagai penanda, hal ini tidak asing bagi para murid-murid nya, yang pernah menghadiri pengajian beliau, diberbagai tempat yang di singgahi.


   Tapi apa yang dilakukan ini, kemudian  sempat menjadi Fitnah, bahwa beliau pekerjaan nya adalah -"Meminta-minta"- padahal,:" Nauzubillah, Sayyid Yahya, jauh dari apa yang mereka Fitnahkan!!"


Meskipun demikian, 

   Beliau tetap berjalan sebagaimana harus nya, kesetiap tempat, dan daerah, memperkenalkan ilmu Allah, mentauhidkan ummat, dengan tauhid yang benar, mengajarkan kebaikan dan kebersamaan, memuliakan manusia lain, menganjurkan saling tolong menolong dan bahu membahu, menyadarkan bahwa Muslim bersaudara, penderitaan saudara adalah penderitaan kita juga, menyadarkan bahwa hidup adalah ;

"Sebuah persiapan menuju kematian, bawalah bekal yang banyak, agar kita lepas dari azab kubur dan azab neraka nanti, di mahsyar!" itulah sebagian petuah beliau.



Kak Jasima 60 th 2020, Putri asuh Wan Yahya
dari Istri terdahulu



7. Hijrah ke Kuching, Sarawak, Malaysia Timur  tahun ; 1985


      Wan yahya ini juga pernah sekitar tahun 1984 - 1985, berjalan sampai ke Paloh ( utara Kalbar ) dan bertahan di tempat pangkat keponakanya, yang saat itu menjabat Camat Paloh.  Syarif Saleh Alkadrie, BA. ( Istri beliau bernama Ida, atau Farida putri dari Syarif Harun eks Camat  Segedong ).

    Dari Paloh beliau melanjutkan perjalanan lewat laut bersama sahabatnya Sayyid Ja"far, menggunakan kapal kayu yang di nakhodai : Sayyid Abdillah bin Ja Far, hingga tembus ke Sarawak, Kuching, Malaysia Timur. 

Disana beliau juga berdakwah, sambil mencari keberadaan abang sepupu nya, Wan Hamid, yang dulu berprofesi sebagai Nakhoda Kapal. 

  Setelah melewati perjuangan yang cukup gigih, bertanya kesana kemari, Alhamdulillah, Allah mempertemukan dengan pangkat keponakan nya, putra dari Wan Hamid ini, bernama Wan Dahlan bin Tku Hamid. Asal dari Pulau Sedanau, yang kemudian menetap di Sarawak. di Kampung Baru. Kota Samarahan. Muara Tuang. Kuching. Malaysia Timur.  --,  


Putra Putri Wan Yahya 
semasa bersekolah di SRK Meranek Sarawak
Zubaidah, Mustafa, Iskandar
sekitar  1985 - 1988
Saat itu beliau sudah berusia  64 tahun 1985



Berdasarkan keterangan dari Sayyid Abdurrahman Al-Kadri, (Ranai) : 

     Bahwa beliau semasa kecilnya bertemu dengan Wan Hamid dan Wan Dahlan ini. Beliau juga menyebutkan bahwa di Pulau Serasan, khususnya, serta pulau sekitarnya banyak keluarga Alkadrie yang hidup dan menetap sejak ratusan tahun yang lalu.  Disana ( Pulau Tujuh)  juga ditemukan makam tua keluarga Al Kadri. 


alhasil,  

              Tak dapat dibayangkan kegembiraan anak keponakan dan keluarga besar mereka, dapat bertemu kembali dengan saudara mara nya, setelah  sekitar 40 tahun terpisah. 


Jongkok dekat anak kecil : Wan Fathi bin Wan Dahlan
Laki - laki paling kiri : Syarif Abdullah bin Yahya
Sarawak - tahun 1988


Sekitar tahun, 1985

       Beliau, Wan Yahya, memboyong keluarganya, anak dan istrinya untuk hijrah ke Sarawak, menempati rumah sederhana yang disiapkan murid - muridnya di Desa Meranek, Bahagian Muara Tuang, Wilayah Kota Samarahan, Kuching, Sarawak, Malaysia Timur. 


      Hanya bertahan kurang lebih, 3 tahun, atau sekitar tahun 1988, beliau terpaksa kembali ke Pontianak, karena kendala  sekolah anak - anak nya, yang tidak bisa melanjutkan pendidikan setamat nya dari Darjah, atau, SRK, Sekolah Rendah Kerajaan, setingkat SD, sekolah Dasar di Indonesia. Karena persoalan ke Imigrasian di negeri itu.



Kaum kerabat beliau 
Wan Zainal makam Peniraman 



8. Masa pengabdian Beliau kepada Jihad  Fisabilillah, 


Beliau semasa hidup nya pernah mewasiatkan bahwa ; 

    Batas perjuangan nya menggapai dunia adalah usia, 55 tahun, berhasil atau tidak, maka sisa usia nya akan diwakafkan bagi agama allah, mencari ridha Allah, mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak tabungan buat akherat!" . Urusan keluarga nya di titipkan pada Allah," itu bahasa dan kalimat yang diwasiatkan.


    Dengan perjuangan ini, dimulai sekitar tahun :1970 hingga wafat nya :2005, atau sekitar  kurang lebih : 35 tahun, beliau telah menyampaikan apa yang harus disampaikan, mengajarkan apa yang harus diajarkan, dan senantiasa menasehati ummat, tiap tempat, dimana saja beliau datang. 


    Hingga  ajal menjemput di atas tempat tidurnya pada usia : 84 tahun, selepas Shalat Zohor, di Desa Sepok Laut, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Pontianak. 


   Jenazahnya kemudian di bawa pulang ke kota Pontianak. Dimakamkan di Pemakaman Umum Tok Kemek. Sayyid Yahya, Tok Ami  atau Wan Kundoi, meninggalkan keturunan dari Istri yang dinikahi nya yang ke empat kali nya, ( Karena Istri Pertama sampai ke tiga , tidak dikaruniai  keturunan) . 


Syarif Abdullah bin Yahya AlKadrie
Dalam salah satu acara di Istana Kadriah



9. Keturunan Wan Yahya bin Mohammad Al Kadrie


         Keturunan  Wan Yahya  atau Wan Kundoi adalah  sbb :

1. Abdullah Alqadrie bin Yahya Al Kadrie, 55 tahun 2020: ( ketika dilahirkan usia beliau sudah sekitar 45 tahun)  Menetap di Surabaya. Jawa Timur. Sejak 1990. 

  
2. Syarif Ahmad bin Yahya Al Kadrie, 50 tahun 2020. Menetap di Malang Selatan


3. Syarif Mustafa bin Yahya Al Kadrie, 45 tahun 2020. Menetap di Batulayang. 


4. Syarif Iskandar  bin Yahya Al Kadrie, 42 tahun 2020.Menetap di Batulayang. 


5.Syarifah Zubaidah, dipanggil Ninik, 40 tahun 2020, anak bungsu, ketika dilahirkan usia beliau sudah diatas  60 tahun  ( Dinikahi  Sy. Usman bin Mansur Alkadrie ) Menetap di Batulayang)



10. Warisan yang diserahkan di jalan Allah, 


     Tak terhitung berapa banyak masjid, mushollah, surau yang dibangun dengan bantuan beliau, hingga akhir hayat nya. 


Salah satu bukti yang masih dapat dilihat hingga hari ini adalah :

       Masjid Baiturrahman,: 

    Terletak dipinggir jalan di desa Batulayang Kecamatan Pontianak utara, tepat dipinggir jalan raya, Pontianak - Jungkat, sekitar 12 km dari pusat kota Pontianak. Bersebelahan dengan rumah kediaman Syarif Usman bin Said AlKadrie, di sebelah barat nya. 

Berdekatan dengan kompleks pemakaman Kesultanan Pontianak, Makam Kesultanan Batulayang, tempat dimana kaum kerabat  nya disemayamkan.

Mesjid ini dibangun bersama kedua orang murid nya, yaitu :


        Sayyid Hasyim dan Sayyid Effendy bin Raihan/Haji Pandi :

       Penduduk Batulayang, ( Kedua nya meninggal lebih dulu dari beliau), bersama Sayyid Yahya, atau Habib Yahya, atau Wan Kundur/ Wan Kundoi, alias Tok Ami,:  -"yang mengupayakan berbagai cara, agar mesjid ini berdiri sempurna.-" 


       Beliau juga ditunjuk sebagai guru pembimbing tetap sejak tahun 1977 di mesjid ini, dengan jadwal, 4 x dalam satu  bulan, oleh Syarif Hasyim Alkadrie, atau Sayyid Hasyim, yang ketika itu menjabat sebagai Panitia Pembangunan Masjid. 

      Ada bukti tertulis di buku catatan perjalanan beliau. 

Semoga Tabungan beliau diterima Allah, dan Ruh Nya di tempatkan disisi Allah,


                Alfatehah,........



Kaum kerabat beliau di Sarawak dsk 

Keturunan Wan Dahlan ( duduk )  bin Tku Hamid Al Qadri
Menetap di Kampung Baru Kota Samarahan Muara Tuang
Kuching - Sarawak . Malaysia  Timur

Belakang Kiri ke kanan : 
Wan Fathi, Wan Fauzan, Wan Faizal, Wan Fauzi, Wan Fadly ( Habib )

 Susunan lengkap nasabnya : 
 Wan Dahlan, bin Tku Syarif Hamid, ( 85 tahun 2022 ) , 
bin Syarif Muhammad Natuna   bin Syarif Yusuf Segeram,
 bin Syarif Abubakar Panglima Laksamana Tua,  
bin Habib Husein Tuan Besar Mempawah - Al Kadri Jamalullail  
Generasi ke : 39 dari Rasullullah  




 Sayyid Yahya  dan Hikmah Hidup nya :

     Sepanjang hidupnya beliau tidak pernah berkelahi dengan orang lain. 
     Meskipun pernah beliau di hina, di caci maki, di usir dari rumah yang dibangun nya dengan susah payah diatas tanah yang di izinkan untuk di bangun ( numpang tanah) di Desa Mandor  dulu.


   Dimanapun kehadiran nya selalu membangun suasana hangat, penuh keceriaan, dan tidak pernah kelihatan beliau murung atau sedih sepanjang hidup nya.  Beliau juga sangat pengasih dan penyayang kepada anak - anak nya. Maka nya tidak jarang, kadang beliau mengajak salah satu anak nya ketika keliling ber Da"wah.  


   Sepanjang usia nya beliau  penganjur silaturrahmi dan tidak segan mendatangi keponakan bahkan pangkat cucu nya dimana saja . Itulah yang mungkin menjadikan usia nya di panjangkan Allah, sampai 84 tahun hidup nya.  



Kalimat yang sangat berkesan  adalah ,:


  " Bumi Allah ini luas. Kalau kalian sempit hidup di suatu daerah, keluarlah, hijrah lah. Kalau sempit rizki mu di darat, cari dilaut. Kalau sempit di barat, carilah di timur.  Karunia Allah ada bertebaran di mana - mana, tinggal kita saja bagaimana cara memungut dan mendapatkan nya. Kalau sudah dapat, jangan lupa sadaqah , berbagi dan bersyukur,!" 


 "Tidak akan hina orang yang ingin dimuliakan Allah, dan tidak akan pernah menjadi mulia, mereka yang dihinakan Allah,!"


Wan Dahlan bin Tku Hamid A Qadri
bersama putri bungsunya  Syarifah Mariam 
Foto tahun 2021


11. Kaum kerabatnya dari sebelah ayah : 


      Wan Mohammad bin Ibrahim ( Makam Sei Belanga, Purun Besar 


     Tercatat ada di buku tulisan Syarif Jafar bin Sultan Hamid.I. angka tahun 1857,M menyebutkan : beliau ini mempunyai saudara bernama : Syed Mustafa, yang mungkin merantau ke Brunei, kemudian menikah dengan Dayang Masgi, dan menurunkan  banyak keturunan di Pulau Tujuh 

----------------------------


"Data tambahan Keturunan 

Sayyid Ibrahim bin Abubakar bin Habib Husein Al kadrie ": 

    Diketahui ternyata  Sayyid Ibrahim bin Abubakar Alkadrie, 

    Menikahi  dua perempuan di Pontianak  , bernama : 

          >>    1. Syarifah Nur , dan 

          >>    2. Syarifah Sifa
------------------------



 >> I. Syarifah Nur, ( Istri Pertama ) menurunkan keturunan  2 Putra:  

    > I.1. Sayyid Ahmad bin Ibrahim bin Abubakar   ke Natuna

     > I.2. Sayyid Muhammad bin Ibrahim bin Abubakar Sei Purun 

 ----------------


       >  I. 2. Wan Sayyid  Muhammad bin Ibrahim, 
-------------

      ( istri beliau bernama Syarifah Tora )  Sayyid Muhammad bin Ibrahim, bin Abubakar, bin Habib Husein : makam di Sei Belanga. Sei Purun Besar. (  Ayah Wan Yahya ini ) menurunkan keturunan  yang sangat banyak, baik dari anak laki - laki nya, maupun dari anak perempuan nya. (Lihat kembali diatas tadi ).  

I.2.1. Wan Syarif Daud bin Mohammad bin Ibrahim  ( makam di Jungkat ) 

I.2.2. Syarifah Seha / Nurseha  binti Mohammad bin Ibrahim ( makam Sei Purun)

I.2.3. Wan Syarif Mansur bin Mohammad bin Ibrahim (makam Mengkacak ) 

I.2.4. Wan Syarif Yahya bin Mohammad bin Ibrahim ( makam  Pontianak) 

I.2.5. Syarifah Rugayyah binti Mohammad bin Ibrahim ( makam Sei Purun)   


------------------------------------




>>  II. Syarifah Sifa, ( Istri Kedua )menurunkan  5 anak


    Keturunan ini  banyak menetap di Kampung Siantan dulu sekitar 50 tahun yang lalu. Mereka menempati sepanjang pinggiran Sungai Landak. Daerah ini Sekarang masuk wilayah Pontianak Utara. 
Diantara nya, 

  II.2. Syf. Seha binti Ibrahim, menurunkan  :  Syf. Tairah. cucu

  II.3. Syf. Ketang binti Ibrahim ( Bu Ketang, Nek Ketang ), menurunkan : 

  II.3.1.Syf. Nur  cucu Ibrahim, dari anak perempuan nya di Siantan. Pontianak

 II.3.2.Syf. Godang (Bu Godang) cucu Ibrahim dari anak perempuan nya  di Siantan : Ibu Syarif Umar Unilever

 II.3.3.Syarif Kadir, bin ?  Pontianak. Cucu  dari anak perempuan  Ibrahim bin Abubakar

 II.3.4. Syarif Mahmud , bin ?  Pontianak. Cucu dari anak perempuan nya Ibrahim bin Abubakar.



II.4. Syf. Locong binti Ibrahim, ( nama asli belum diketahui ) menurunkan ,: 

II.4.1. Syf. Secon Binti ? :  ( Nek Con, Bu Econ )  : cucu  Ibrahim bin Abubakar dari anak perempuan nya di Kpg. Siantan Pontianak Utara ; Nenek sebelah ibu dari keluarga besar:(Syarif Usmulyani, Usmulyadi, Usmardan, Usmulyono, Syarif Ali Yansyah : Bin Usman Alkadrie. Asal di Gg.17 Pontianak) 

         Syf. Secon adalah ibu dari Ibunda mereka,: Syf. Melion Binti  Ali Al Qadry. 

 II.4.2. Syf. Cantek Binti? :( Cucu Ibrahim bin Abubakar dari anak perempuannya di Kpg. Siantan Pontianak Utara . Banyak anak cucu nya, diantara nya : Sy. Mansur, Sy. Ismail, Sy. Mustafa (Alm),  Sy. Hamid. Pontianak. )


Kaum kerabat beliau
  Syarifah Melion binti Ali .Gang.17  Pontianak. 
Usia 70 an tahun 2018.


            > II.5. Syf. Fatimah binti Ibrahim, Bin Abubakar , menurunkan :

II.5.1. Syarif Hasan bin  ?, Cucu Ibrahim dari anak perempuan nya,

II.5.2. Syf.Hafsah binti  ? Cucu Ibrahim, Pontianak dari anak perempuan



           > II.6. Syarifah Zam - Zam binti  Ibrahim, 

        Menikah dengan Wan Said tukang. Menetap dekat makam Wan Said Wali, Kpg. Dalam Bugis, Pontianak, ( Bibi sekaligus mertua  Wan Yahya  ), menurunkan keturunan,  Cucu Ibrahim dari anak perempuan nya :  

II.6.1. Syarif Saleh bin  Wan  Said, Cucu Ibrahim dari anak perempuan nya  ( tidak punya keturunan. Wafat sebelum menikah) Cucu Ibrahim dari anak perempuan.

II.6.2. Syarif Ahmad bin Wan  Said, ( Dipanggil  Mi Atong, Ta"tong ) Ayah dari : Sy.Usman.1., Usman2, Ibrahim, Syf. Nur, si Pon, Asnah, Hamidah, dan Momoy. ( Dari 2x menikah )

II.6.3. Syf. Safiah  binti Wan Said, menikah dengan Sy. Hasan Alkaf. (Bu Pon) Ibu dari ; Sy.Ali Alkaf, dan Syf. Seca Alkaf, serta Sy.Kasim Alkaf.

II.6.4.Syf. Aminah binti  Wan Said, (  dinikahi Wan Yahya ini.  )

II.6.5. Syf. Fatimah binti Wan Said, ( dipanggil si Puteh, Bu Teh) menikah dengan Sy. Ibrahim bin Usman, beliau adalah keturunan dari Syarif Muhammad bin Habib Husein tuan besar Mempawah ( nama beken Sis Usfah), ayah dari :  Sy. Helmi, Syf. Halijah, Syf. Juliah, Sy. Yansyah. --, Menetap di Kp. Dalam Bugis. Jalan Tanjung Raya .I. Gang Stabil , Pontianak  Timur  ( Dekat makam Tok Wan  Said Wali )  Wafat usia  78 tahun 2022. 

-------------------
Kaum Kerabat beliau di Pulau Tujuh
Sayyid Abdurrahman bin Mahmud, bin Hasan,  bin Muhammad Natuna , Bin  Yusuf  Segeram Al Qadri Pulau Tujuh
Natuna, Sedanau, Serasan, Midai, Tarempa, Siantan,  dsk



"#, Keterangan lisan Wan Yahya Almarhum, " 

         Menurut  keterangan dari beliau ,:

   " Sayyid Abubakar, Tuan Abu, Panglima Laksamana Pertama. I, ( Tok Abu Kramat, demikian biasa beliau menyebut nya ) memiliki beberapa anak  laki - laki,  diantara nya : "Sayyid Ibrahim, Sayyid Jamalullail, dan Sayyid Yusuf.   Serta banyak kaum kerabat nya di Pulau Tujuh : , Serasan, Sedanau, Tembelan, Midai, Terempa, Siantan, Natuna, dsk ". 

Sekarang masuk wilayah Provinsi  Riau Kepulauan 


      Makam Ibrahim bin Abubakar , Panglima Hitam Paku Alam ( Tok Aem, baru ditemukan 2022, di Segeram, Natuna ) dan  Jamalullail bin Abubakar  serta  Abdurrahman dan Yusuf serta Muhammad Natuna. 


    Keturunan  Abubakar ini  memang ada yang menikah dan menetap di Pulau Midai, Serasan, Terempa, Letung, Sedanau, Ranai, Bunguran Besar,  Siantan, Paloh.  dll


     Mereka  berkerabat dengan keluarga Alydrus Trengganu,:  

    karena Ibu Ibrahim bin Abubakar ini, berasal dari sana. ( Syarifah Aminah binti Abdullah Alydrus dari Trengganu, dinikahi di Banjar semasa berlayar bersama Abdurrahman sebelum menjadi Sultan Pontianak ) ada juga keluarga di Paloh. Utara Sambas.




Beliau sering bercerita bahwa:


   "TOK ABU KRAMAT"- ( Nama panggilan datuk beliau,:  Abubakar Panglima Laksamana satu ) istri nya bernama : Syarifah Aminah dari Trengganu :,-" Inilah yang jadi dasar pegangan keluarga ini untuk menentukan nenek moyang mereka,-

    Fakta dan data bahwa Sayyid Abubakar bin Habib Husein memang mempunyai istri bernama Syarifah Aminah dari Trengganu, memastikan kesinilah muara nasab beliau.

    Beliau juga sering menyebutkan nama : "Bang Hamid dan Bang Jafar," Saudara sepupu, yang menetap di luar negeri. Bang Hamid menetap di Sarawak. Kuching. Malaysia Timur, " : Kata Beliau, sedang Bang Jafar di Singapore. 

    Keturunan "Bang Hamid" di temukan di Kuching, dsk, ( bernama Wan Dahlan bin Tku Hamid, anak nya diantara nya : Syed Fauzan, Fathi, Fadly/Habib, Faizal, dan banyak anak perempuan) Sedangkan : 

   Syed Fauzi anak tertua, setelah menikah,  menetap di Miri, bekerja di Jabatan Laut Kerajaan Malaysia

        Sementara Bang Jafar * )  di katakan menetap di Singapore, di Nort Bride Road, (" Not becerot", bahasa beliau ), keturunan nya juga belum di ketahui. 




#, Keterangan dari keponakan beliau : 


Setelah di coba di konfrontir dengan salah satu keponakan beliau bernama : 

     Syarif Abubakar bin Daud bin Mohammad bin Ibrahim, 76 tahun 2020,

    Ternyata keponakan nya ini juga tidak banyak tau dan memastikan dimana letak makam Ibrahim. Bahkan siapa nama ayah nya Ibrahim?

     Ketika disebutkan datuk nya bernama Abubakar, Tok Abu Kramat, 

   "Mungkin yang dimaksud Abubakar bin Sultan Kasim," lanjut nya.  

    Beliau mengatakan Abu Bakar bin Sultan Kasim, letak makam nya di kompleks pemakaman Batulayang dekat  Sultan Kasim.

     Ini menunjukkan bahwa beliau juga tak begitu faham silsilahnya ke atas. 


      Untuk itu kami menghimbau semua fihak agar dapat menahan diri dan tidak dengan mudah menolak nasab seseorang dengan tuduhan tendensius tanpa melakukan penelitian dan penelusuran secara komprehensif serta menyeluruh.  Apalagi jika itu lembaga yang sangat di hormati dan dijadikan barometer  oleh kalangan Alawiyin. 


    Untuk diketahui ( Wan Yahya ) wafat di usia 84 tahun, Jika ditarik benang merah tahun kelahiran beliau,: 21 Juni 1921 M, hingga hari ini,  2021, tepat 100 tahun. 


     Dan ketika anak pertamanya lahir, beliau  sudah usia diatas 40 tahun baru dapat keturunan dari pernikahan nya dengan saudara misan sendiri, sepupu sekali: istri ke 4 :


 " Syarifah Aminah binti Syarif Said, dinikahi pada tahun 1964 :  putri dari pasangan suami istri  Wan Said tukang dengan ( Syarifah Zam -Zam binti Ibrahim bin Abubakar Tuan Abu ), menetap dekat makam Wan Said Wali,"-- di Kampung Dalam Bugis. Pontianak.    


   Inilah salah satu penyebab garis nasab beliau pendek, bahkan jika dibandingkan dengan nasab yang ada di Kesultanan Pontianak saat  ini. Karena ini keturunan tua, dapat keturunan sudah tua, Usia hidup panjang, sehingga terbentuknya generasi penerus yang se zaman dengan Kesultanan pun, dapat  berbeda  2, 3 ,4, bahkan  bisa lebih generasi.



Putra dan Keponakan serta Pangkat Cucu Beliau
Dari kanan ke kiri 
Syarif Abdullah bin Yahya ( anak tertua ) 
Syarif Umar bin Daud ( Jungkat ) Ponakan
Syarif Abubakar bin Daud ( Pontianak ) Ponakan
Syarif Idrus bin Ali bin Daud ( Pangkat Cucu )  



##, Nama "Abubakar"  dalam TRah keturunan Al Qadri,

Dalam sejarah Habib Husein disebutkan : 

       Habib Husein Bin Ahmad Alqadri Periode : 1706M , atau, 1708M, hingga : 1771M. Lahir di Tarim, Yaman Hadramaut pada tahun 1120 H/1708 M. Wafat di Sebukit Rama Mempawah, 1184 H/ 1771M. Pada pukul 2.00 petang, pada  2 Zulhijjah 1184 H/ atau, 19 Mac 1771 M, dalam usia , 64 tahun. 


Menginjak kan kaki di  bumi Matan Tanjungpura, sekitar usia, 23 tahun, dan menetap di Matan selama, 17 tahun, sampai usia 40 tahun. Kemudian pindah ke Mempawah dan menetap selama,  24 tahun sampai tutup usia, 64 tahun. 


        Pada saat berpindah ini, semua keluarga nya ikut di boyong. Abdurrahman ( yang kemudian menjadi Sultan Pontianak, saat itu berusia : 16 tahun dan belum menikah. Abubakar bin Habib Husein, diperkirakan berusia : 12 atau 14 tahun, beliau lahir dari Ibu Nyai Tengah.  

Sedangkan Abdurrahman : ibu beliau Nyai Tua, Utin Kabanat, jadi beda Ibu)  


         Pendapat yang menyebutkan Nyai Tua dan Nyai Tengah saudara kandung,  yang dinikahi Habib Husein bin Ahmad bukan dalam waktu bersamaan, karena dilarang oleh syariat Nabi Muhammad dan agama  Islam yang sangat dijunjung tinggi oleh Habib Husein. 


         Ternyata menurut Babad sejarah Matan, gelar Nyai adalah gelar kehormatan kepada Istri Raja, Pembesar Istana, dan orang - orang yang dimuliakan. 


         Habib Husein menikah lagi setelah wafat nya Nyai Tua  sebab makam Nyai Tua ditemukan di sebelah makam Habib Husein di Mempawah, bukan di Ketapang (eks wilayah Kerajaan Matan) (  @Dari berbagai sumber)



 Ditemukan juga Ternyata:

 Dalam Trah Alkadrie ada  4 ( empat) 
      nama Abubakar tua keturunan ini , masing - masing :



1. Abubakar bin Habib Husein, --Panglima Laksamana-- : 

       Gelar "Panglima Laksamana Pertama/Tua", Encek Panglime Ribot, Harimau  Wakkar.  Saudara Sultan Abdurrahman, Ibu Nyai Tengah, yang ikut membuka hutan Pontianak, tercatat dalam semua manuskrip tua  sejarah, baik ditulis oleh sejarawan Belanda, Inggris, Indonesia, malaysia, dan catatan tua keluarga mereka,  dan versi Arab Melayu dalam kitab - kitab tua. 


Sehingga pendapat yang mengatakan bahwa Abubakar bin Habib Husein wafat kecil, atau beliau tidak punya keturunan,  dengan sendirinya menjadi terbantahkan.


 Bagaimana mungkin wafat diwaktu kecil, ketika membuka hutan ikut bersama? atau, bagaimana mungkin keturunannya terputus, sementara nama istrinya tertulis dengan jelas : Syarifah Aminah Alydrus dari Trengganu?  


Dan anak keturunan ini banyak dan menyebar hingga hari ini.


      Baik keturunan anak laki - laki, maupun keturunan anak perempuan nya. Tentunya, kami sebagai anak cucu keturunan langsungnya, lebih tau siapa nenek moyang dan datuk - datuk kami, dan siapa kaum kerabat kami,  dibandingkan lembaga manapun yang mengaku mencatatnya. Karena kami juga masing- masing puak keluarga memiliki catatan, ingatan, dan riwayat dari mulut ke mulut dari orang tua kepada anak - anak nya turun temurun. 


Bukankah nasab artinya " pertalian darah?"     



2. Abubakar bin  Sultan Abdurrahman -- Gelar : Pangeran Laksamana Muda, II --:      Keturunan ini tidak ditemukan di Pontianak, dan makam beliau ada di  Tibet, bukan di Jeranjang  Lombok


3.Abubakar bin Sultan Syarif Kasim:

    Banyak ketrurunannya yang masih  hidup hingga hari ini. 
    Baik di Pontianak, Mempawah, dan diluar Kalimantan. 




4.Abubakar bin Sultan Syarif Usman,: Gelar belum diketahui  

       Dari keterangan Al Qadri Lombok : 

    Abubakar ini, diduga Syahid dibunuh oleh Raja Bali Selaparang Lombok pada sekitar abad ke 18M.  Meninggalkan 2 anak bungsunya: Ali dan Alwi, yang menjadi nenek moyang Al Qadri Lombok. Nusa Tenggara Barat. 


    Makam nya baru di identifikasi pada tahun 2012 setelah  di data dan diziarahi oleh : Syarif Abdullah bin Yahya Alkadrie, dari Pontianak.  Ternyata sebenarnya ini makam Panglima Laksamana IV, Sayyid Abubakar bin Abdillah 


     Meski kemudian Temuan ini dilaporkan ke Rabithah Maktab Ad"daimi disaksikan Max Yusuf Alkadri dan  Prof. Dien Majid dari UIN Syarif Hidayatullah, dan Prof. Ali Alatas. Jakarta. Data temuan ini kemudian di copy oleh  Habib Ahmad bin Muhammad Alatas ( Maktab Ad"Daimi Rabithah Alawiyah Jakarta). 


    Mungkin mereka melanjutkan dalam bentuk observasi langsung kelapangan, dan kemudian mentashih dan memastikan bahwa makam temuan ini adalah makam :

"Sayyid Abubakar bin Sultan Abdurrahman Al Qadri,?"

   Atau bisa jadi mereka menemukan dan mencocokan dengan data yang ada kemudian memastikan  hal tersebut 


       Ala kullihal , yang pasti setelah itu, keluarga Al Qadri Lombok diterbitkan buku nasab nya , "meskipun salah jalur ?!"


     Tidak diketahui apakah mereka merujuk ke Kesultanan Pontianak, atau tidak,  sebelum memastikan hal tersebut. 

       Wallah hu a "lam.  


     Bahkan setelah periode ini, generasi ke 3, ke 4, dst,  ada banyak lagi nama Abubakar anak cucu para sultan dan keturunan anak cucu  Sultan Abdurrahman yang tidak duduk di tahta. Jumlah nya yang mencapai 32  anak, dan  Sebaran nya di perkirakan ke seluruh dunia. Sejak Abad ke 18 Masehi. Sekitar 250 tahun yang lalu. 


   Kami temukan juga dalam Genealogy Al Kadrie Pontianak berbahasa Inggris, bahwa salah satu puak Keturunan  Sultan Abdurrahman Pontianak, dari Istri :  "Nyai Tija, Khadijah.I", melahirkan 6 anak, ditemukan nama : 


1. Syarif  Jamalullail ibni Sultan Abdurrahman

2. Syarif  Maqwi ibni Sultan Abdurrahman ( wafat kecil )

3. Syarif  Ibrahim Ibni Sultan Abdurrahman

4. Syarif  Musa ibni Sultan Abdurrahman

5. Syarifah  Zainah binti Sultan Abdurrahman

6. Syarifah  Badriah binti Sultan Abdurrahman 


  ** Terlihat ada nama Ibrahim dan Jamalullail, akan tetapi "Bin" nya adalah : Sultan Abdurrahman. Sementara moyang beliau "BIN" - Abubakar? Dan semasa hidupnya beliau sering menyebutkan bahwa:" 

   Kita ini keturunan tua dan bukan dari keturunan Istana," Maksudnya bukan keturunan Sultan Abdurrahman ( merujuk kata Istana ) 

Keponakan beliau 
Wan Umar bin Daud bin Mohammad
dan Pangkat cucu beliau 
 Wan Burhanuddin  bin Husein - Sei Pinyuh



Satu hal adalah, 

      Alkadrie  dari keturunan Mempawah ( Keturunan Habib Husein Langsung dan sebagian keturunan lainya ) -   biasa nya memakai  gelar  "WAN" sebagaimana banyak ditemukan hingga hari ini di Sei Pinyuh, Mempawah, Sei Kunyit, Sei Duri, Singkawang hingga di Paloh. bahkan di Kuching Sarawak, dan Tanah Melayu, dipanggil  Wan, Tengku, Tuanku, Tku. 


      Secara hirarkie urutan kepangkatan generasi, memang beliau: Wan Kundor ini 2 atau 3 tingkat diatas rata- rata,  baik keturunan Habib  Husein bin Ahmad Mempawah, maupun  jalur  Sultan Abdurrahman Pontianak. 


      Bisa jadi keturunan ini hidup lama, panjang usia nya, sehingga tidak mustahil mereka hidup se zaman 4 generasi,: Anak, Ayah, Datuk, Moyang, ( Abah, Datuk, dan Moyang ) atau, bisa jadi juga di usia tua, mereka masih memilki ketur

    Wan Yahya ini memang ketika anak nya masih kecil - kecil, sudah banyak keturunan dari keponakan - keponakan nya memanggil beliau "Datuk". Barangkali karena beliau ini, usia diatas 45 tahun baru mendapatkan keturunan.  

Itulah kenapa ditemukan pangkat cucunya, lebih tua dari usia anak nya. 


      Jadi tidak  tertutup kemungkinan jalur nya lebih pendek dari yang lain, ditambah rata-rata keturunan ini lebih panjang usia hidup nya.




Utusan Keluarga  Syarif Tue, Abdullah bin Yahya  Al Qadri
dari  Bali ketika menghadap Sultan Pontianak
DYM Sultan Syarif Mahmud Melvin Al Kadri. SH 
di terima dikediaman beliau 

Syarif Tue , Abdullah bin Yahya bin Yusuf bin Abubakar bin Habib Husein,
 adalah pangkat cucu dari 
Syarif Ibrahim bin  Abubakar bin Habib Husein

* Yusuf dan Ibrahim saudara kandung, satu ayah dan satu Ibu*
Ibu mereka bernama : Syarifah Aminah binti Abdullah Alydrus
Asal dari Trengganu - Tanah Melayu
Istri dari Sayyid Abubakar bin Habib Husein ini 




##, Peristiwa  zaman Penjajahan Jepang : 1941 - 1945 


       Perlu kiranya kami tambahkan bahwa Qabilah Alqadry mengalami malapetaka  yang sangat dahsyat dan tragis dalam sejarah nya. Yang mungkin tidak di alami oleh Qabilah lain.  


     Sekitar periode tahun 1941 -1945 M, di zaman penjajahan fasis Jepang di Pontianak dan Kalimantan Barat umum nya, anak cucu Habib Husein ini dibantai dan dikejar -kejar "Kampetai" ( semacam polisi rahasia ) Jepang untuk di bunuh. Dimana saja ditemukan, mereka langsung dihabisi. 

Itulah kenapa banyak anak cucu nya yang tidak mengerti siapa mereka. 


      Sebab nenek moyang nya dulu takut mengaku Alkadrie, bahkan banyak dari mereka yang mengganti nama dengan nama setempat. Melarikan diri ke tengah laut, terapung - apung sampai berbulan-bulan dan mayat nya dikebumikan di lautan, tanpa makam dan tanpa nisan. 


      Masuk kedalam hutan lebat Kalimantan, dengan bertahan memakan daun - daun dan umbi - umbian sampai bertahun- tahun kemudian, bahkan setelah  Jepang angkat kaki dari Bumi Kalimantan.


Mereka terpaksa meninggalkan negeri dan tanah leluhur nya Pontianak, 

       Karena menyelamatkan nyawa, anak dan cucu nya, Karena Al Kadri  dianggap kaki tangan dan kaum kerabat  Istana, yang waktu itu, dianggap akan "memberontak" melawan penjajah, sejak zaman Belanda hingga Jepang berkuasa. 


      Banyak diantara nenek moyang kami  yang -"hilang" - tak tau dimana rimba nya, ada keturunan atau tidak, dan dimana makam nya, hingga hari ini. 

           Tragis dan Mengenaskan ,..!



Kaum kerabat beliau
Kiri ke kanan : 
Wan Hasan ( Sei Pinyuh ), Wan Yasin ( Bali ), Wan Zainal ( Peniraman) 
Wan Alif bin Zainal ( Jakarta) , Baju Hitam, dan Wan Ali Ridho bin Yasin Bali



 Bukti sejarah adalah: 

         Terjadi nya penangkapan di lingkungan istana Kadriah,  kaum kerabat Sultan Syarif Muhammad Alkadrie,  tidak kurang  dari 50 nyawa melayang dalam tragedy apa yang dikenal dengan peristiwa "Sungkup Jepang". Mandor Berdarah.


 Hingga hari ini air mata kesedihan itu belum kering....! 


      Keturunan Habib Husein bin Ahmad bin Husein bin Muhammad Al Qadry Mempawah ini memang mengalami kejadian sangat traumatis. 


Bahkan Allahyarham Sultan Syarif Abubakar Al Kadri, Sultan Pontianak VIII, dengan mata berkaca - kaca dan tangis tertahan  ketika diwawancarai Kompas TV,  beliau menyebutkan,:


        'Bagaimana ketika Ayah beliau dibunuh Jepang ( --, Pangeran Syarif Mahmud bin Sultan Muhammad,-- ) dengan cara berlutut untuk di pancung. Leher nya diletakkan diatas kayu berbentuk huruf "X"  kemudian tengkuknya di tebas dengan samurai! , Tass, dengan sekali tebas, nyawa melayang"  

Alfatehah, untuk mereka semua. 


          Itulah mengapa kaum kerabat  kami tercerai berai, banyak yang menghilang, mengganti nama, mengganti identitas nya, bersembunyi ke tengah hutan, menutup diri dari dunia luar, sehingga tertinggal jauh dari yang lain nya.


      Sampai hari ini, masih banyak keturunan Qabilah Al kadrie, Al Qadrie, Al Gadrie, Al Qodrie, Al Qadry ini :  

           Yang belum di temukan dimana makam nya dan siapa  anak cucu nya.,!! 





Acara Tahlilan 7 hari, 
Allahyarham  Sri Paduka Yang Maha Mulia
  Sultan Syarif Abubakar bin Pangeran Syarif Mahmud
bin Sultan Syarif Muhammad Alkadrie
Sultan  Pontianak ke .VIII  

Semoga arwah beliau mendapat tempat terbaik disisi Allah, Alfatehah 




"DEKLARASI"


Kami keturunan Syarif Sayyid Ibrahim 
bin Abubakar bin Habib Husein Tuan Besar Mempawah, 
menyatakan: 

1. Independen dari  Rabithah yang banyak menolak nasab keluarga Al Qadri khususnya Maktab Ad-daimi, yang asal sambung dan kurang data. 

2. Akan Membentuk Dewan Nasab Khusus Keluarga Al Qadri, keturunan Habib Husein Mempawah, yang nantinya akan menerbitkan Rekomendasi untuk pencetakan buku nasab, 

3. Menghimbau agar semua keluarga Al Qadri yang menyebar untuk kembali ke rumah besar, Istana Kadriah Pontianak sebagai Kiblat titik pusatnya, 
dan memohon kepada DYMM Sultan Pontianak agar bersedia menjadi "Naqib" kepala keluarga keturunan Habib Husein Mempawah 

4. Menolak campur tangan siapapun diluar fam Al Qadri, yang  mengaku ahli nasab, dan mau mengurus nasab Al Qadri, baik perorangan maupun lembaga, kecuali  yang disarankan YM Sultan Pontianak, 

5. Atas nama keturunan Ibrahim bin Abubakar bin Habib Husein, dengan ini menyatakan Mosi tidak percaya kepada Maktab Daimi, sampai kiamat! 


 
Pontianak, 14 Mei 2022. 

Atas Nama 
Keluarga Besar 
Syarif Sayyid Ibrahim 
bin Abubakar bin Habib Husein Al Qadri, 


Syarif  Abdullah bin Yahya Al Qadri
Kepala Keluarga 


Keturunan 
Syed Mustafa, bin Ibrahim, bin Abubakar, bin Habib Husein
Pulau Tujuh




Sumber : 

----, Dari keterangan lisan semasa hidup beliau dan silsilah kaum kerabat beliau ( Genealogy ) yang disusun bersama Wan Dahlan bin Tengku Hamid di Kuching pada tahun 1985.  

----, Dari dokumen NanGq 1857 M - Halaman 330 - 331 Kode 36.3. 1243 Buku Induk Nasab Syarif Ibrahim bin Panglima Laksamana Satu Abubakar bin Habib Husein Al Qadri Tuan Besar Mempawah . Warisan Pangeran Bendahara Syarif Ja Far bin Sultan Hamid. I. 
       Nama : 39.1.1041.1. Syarif Abdullah bin Yahya Alqadri. 
       Buku Induk Nasab Nomor : 1041.1
       Halaman : 378 - 381



Refferensi








Minggu, 07 Oktober 2012

Rama Bridge, Jembatan Purba Berumur Jutaan Tahun




Rama Bridge merupakan salah satu “Mysterious Places in the World’s”

 Jembatan purba misterius sepanjang 18 mil (30 Km) yang menghubungkan antara Manand Island (Srilanka) dan Pamban Island (India) ini diperkirakan telah berumur 1.000.000 tahun lebih! 

Citra dari Rama Brige sendiri sangat mudah terlihat dari atas permukaan air laut karena letaknya yang tidak terlalu dalam, yaitu hanya tergenang sedalam kira-kira 1,2 meter (jika air laut sedang surut). 

Status dari jembatan tersebut masih merupakan misteri hingga saat ini, menurut tafsiran para ahli, diperkirakan Rama Bridge erat kaitannya dengan Epos terkenal India, Ramayana.

Srilankan Archeology Department telah mengeluarkan suatu statment yang menyebutkan usia Rama Bridge mungkin berkisar diantara 1.000.000 hingga 2.000.000 tahun, namun apakah jembatan ini benar-benar terbentuk secara alami ataukah merupakan suatu mahakarya manusia, hal itu belum bisa mereka terangkan.

S.U.Deraniyagala, Direktur Jenderal Arkeologi Srilanka yang juga merupakan pengarang buku “Early Man and the Rise of Civilization in Sri Lanka: the Archaeological Evidence” mengatakan bahwa:

" Peradaban manusia telah muncul di kaki Gunung Himalaya sekitar 2.000.000 tahun silam, walaupun menurut para sejarawan peradaban paling awal didaratan India adalah peradaban bangsa Ca, hal itu bukan merupakan suatu jaminan bahwa terdapat peradaban yang lebih tua lagi dari mereka sebelumnya.

 Para sarjana menaksirkan bahwa mungkin jembatan purba ini dibangun setelah daratan Srilanka terpisah oleh India jutaan tahun silam.



Didalam Epos Ramayana, jembatan itu dibangun oleh para pasukan manusia kera dibawah pengawasan Rama. Maksud dari pembangunannya sendiri ialah sebagai tempat penyebrangan menuju Negeri Alengka dalam misi untuk menyelamatkan Dewi Shinta, dimana pada saat itu Dewi Sinta sedang berada dalam masa penculikan nya oleh Raja Kerajaan Alengka, yaitu Rahwana.

Epos Ramayana, menurut Kalender Hindu seharusnya berada pada masa Tredha Yuga (menurut cakram masa evolusi hindu/ cakram Hinduism tentang Epos tersebut terbagi pada masa :
 Sathya (1.728.000 tahun), 

Tredha (1.296.000 tahun), 

Dwapara (8.64.000 tahun) 

dan Kali (4.32.000 tahun). 

Tahap sekarang menurut kalender mereka ialah Kali. Berarti menurut Epos tersebut, usia dari Rama Bridge berkisar 1.700.000 tahun.





Sabtu, 06 Oktober 2012

Nasehat AL Husein Putra Ali,


Gambar ilustrasi:

 (AL Husein memeluk Putra nya, Ali Al Akbar, yang Syahid di medan laga Karbala, Karbon wa bala, tanah Irak, tanggal: 10 Muharram 61 Hijriah, berhadapan dengan Pasukan Umar bin Saad bin Abi Waqqas, komandan Pasukan Yazib bin Muawiyah, berkekuatan 40.000. pasukan bersenjata lengkap, sementara Pasukan Husein bin Ali hanya berjumlah, 83 orang dengan persenjataan seadanya. Peristiwa ini dikenal dengan hari Assyura, biasanya diperingati oleh sebagian Kaum Muslimin, pengikut Mazhab Ahl Bait, biasa disebut Syi"ah ) 


 Wasiat Nasehat Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib ra :

 “Kebutuhan orang-orang kepada kalian adalah merupakan nikmat-nikmat Allah swt untuk kalian; maka janganlah bosan terhadap nikmat-nikmat Allah swt itu sehingga ia akan pergi menjauhkan diri.” 

 “Orang yang berkeperluan tidaklah berarti memuliakan dirinya dengan tidak meminta kepadamu, maka dari itu muliakanlah dirimu dengan tidak menolak permintaannya.” 

 “Sabar adalah mahkota, kesetiaan adalah harga diri, memberi adalah kenikmatan, banyak bicara adalah membual ( omong kosong ), tergesa-gesa adalah kebodohan, kebodohan adalah aib, 

berlebih-lebihan ( dalam berkata ) adalah kebohongan, berteman dengan orang yang ahli berbuat hina adalah kejahatan dan berteman dengan ahli kefasikan adalah pusat prasangka buruk.” 

 “Bilamana dunia dianggap sebagai sesuatu yang sangat berharga, maka sesungguhnya pahala Allah swt adalah lebih berharga dan lebih mulia, Bilamana tubuh ini dirawat hanya untuk menyambut kematian, maka terbunuhnya seseorang dengan pedang di jalan Allah swt lebih utama. 

Bilamana rizki adalah bagian yang sudah ditentukan, maka sedikit nya keserakahan seseorang dalam berusaha adalah lebih baik.

 Bilamana harta benda dihimpun hanya untuk ditinggalkan, maka apakah gunanya seseorang pelit terhadap sesuatu yang pasti ia tinggalkan,” 

 “Bilamana dirimu digigit oleh kekejaman masa, maka janganlah kamu mengadu kepada manusia. Dan janganlah kamu meminta selain kepada Allah Tuhan yang Maha penolong, yang Maha Tahu dan yang Maha Benar. 

Karena seandainya kamu hidup dan kamu telah berkeliling dari belahan barat sampai kebelahan timur, maka tentu kamu tidak menemukan seorangpun yang mampu membuat orang lain bahagia atau sengsara.”

Sabtu, 29 September 2012

Syeikh Ali Faqih al-Fathani : Mufti Pengganti Sayyid Husein Al Qadri



Kisah Para Datu dan Ulama Kalimantan Kemarin Syeikh Ali Faqih al-Fathani Mufti Kerajaan Mempawah,pontianak,Kalimantan Barat PENYELIDIKAN awal mengenai ulama yang berasal dari Pattani yang akan diriwayatkan ini bermula dari sebuah salasilah dalam simpanan salah seorang keturunannya di Mempawah, Indonesia.

 Cerita yang terbanyak diperoleh ialah daripada Haji Abdur Razaq, seorang guru agama bebas dan tokoh masyarakat di Mempawah. Selain itu, daripada Haji Abdur Rahman bin Husein al-Kalantani, Mufti Kerajaan Mempawah terakhir serta daripada beberapa keturunannya yang telah berusia lanjut yang sempat penulis temui di Mempawah, Pontianak, Jakarta dan Pattani. 

 Tulisan terawal yang disebarkan mengenai Syeikh Ali bin Faqih al-Fatani ialah daripada tulisan penulis sendiri, yang dimuat dalam risalah kecil berjudul, Upu Daeng Menambon Raja Mempawah. 

Kemudian penulis perkenalkan kembali dalam kertas kerja yang dibentangkan dalam Seminar Sejarah dan Kebudayaan Pattani (anjuran Universiti Kebangsaan Malaysia, 1996) yang berjudul Peranan Orang Pattani Di Dunia Perantauan. Asal-usul Dalam lingkungan tahun 1160 H/1747 M, penduduk Kuala Mempawah, Tanjung Mempawah dan kampung-kampung sekitarnya dikejutkan kerana didatangi oleh sekitar 40 perahu yang besar-besar belaka. 

 Setelah dua orang ulama bernama Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani dan Syeikh Abdul Jalil al-Fathani naik ke darat untuk menghadap Upu Daeng Menambon iaitu Raja Mempawah pada masa itu, barulah diketahui oleh penduduk bahawa perahu-perahu besar itu datang dari Kerajaan Fathani Darus Salam. Dipercayai bahawa kedua-dua ulama tersebut berasal dari Kampung Sena, Pattani yang datuk neneknya berasal dari Kerisik, Patani. 

 Pendidikan dan penyebaran ilmu 

Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani dan Syeikh Abdul Jalil al-Fathani mendapat pendidikan pondok di Pattani dan kemudian melanjutkan pengajiannya ke Mekah. Bagaimanapun, baik gurunya di Pattani mahupun di Mekah, belum diperoleh catatan yang lengkap dan jelas namun tentang ilmu kedua-duanya dikagumi oleh masyarakat di mana saja mereka berada.

 Hanya Syeikh Ali al-Fathani dan anak-anak serta anggota/ahli dalam rombongannya yang tetap tinggal di Mempawah dengan mendirikan rumah yang besar di Kampung Tanjung, Mempawah. Sebahagian lagi mengikuti Syeikh Abdul Jalil al-Fathani menyebarkan Islam di Sambas. Di Sambas, Syeikh Abdul Jalil al-Fathani lebih dikenali dengan sebutan Keramat Lumbang kerana beliau dikeramatkan orang adalah sebagai lambang ketinggian ilmunya hingga kepada ilmu hakikat dan makrifat.

 Demikian halnya dengan Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani, setelah beliau meninggal dunia disebut orang dengan Keramat Pokok Sena. Kehebatan ilmu yang berupa karamah yang pernah disaksikan oleh penduduk, di antaranya Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani adalah seorang ulama yang berpengetahuan lengkap. Disebabkan alimnya beliau dapat mengetahui helaian daun kelapa dalam satu pelepah yang jatuh dengan tepat tanpa perlu dihitung terlebih dulu. Bukan itu sahaja, kalau hari akan hujan beliau dapat mengetahui bahawa akan hujan dengan melihat tanda-tanda kelakuan binatang seperti semut, binatang melata dan serangga lainnya. 

 Memperhatikan ketepatan yang diperkatakan oleh Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani, sehingga orang-orang Mempawah pada zaman itu mengatakan bahawa Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani mengetahui percakapan binatang, selain itu beliau adalah seorang Wali Allah juga seperti Habib Husein al-Qadri.

 Ketentuan-ketentuan hukum keIslaman yang terutama sekali pada persekitaran tiga jurusan, iaitu fiqh menurut Mazhab Syafie, akidah menurut faham Ahli Sunah wal Jamaah Mazhab Abul Hasan al-Asy’ari dan tasawuf mengikut imam-imam sufi yang muktabar adalah terletak pada Habib Husein al-Qadri dan Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani.

 Sejak kedatangan kedua-dua ulama itu telah mulai berkembang Barzanji, Nazham, Burdah dan yang sejenis dengannya setiap malam Jumaat dan di tempat-tempat yang digunakan sebagai upacara rasmi sering mendengungkan lagu-lagu zikir tersebut untuk memperoleh pahala, bukan dipandang sebagai kesenian atau kebudayaan. 

Tarekat yang diamal oleh Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani ialah Tarekat Syathariyah, Tarekat Naqsyabandiyah dan beberapa tarekat yang muktabar lainnya. Namun ia berbeza dengan Habib Husein al-Qadri lebih suka mengamalkan Ratib al-Haddad dan Tarekat Qadiriyah. 

 Murid-murid Sebahagian besar tokoh yang pernah belajar dengan Habib Husein al-Qadri juga pernah belajar atau sebagai murid kepada Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani. 

Beberapa ilmu yang bercorak khusus, yang diperoleh dalam bentuk sistem pondok lebih banyak diajarkan oleh Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani jika dibandingkan dengan Habib Husein al-Qadri yang lebih menekankan berupa amalan dan bercorak memberi keterangan atau syarahan. 

 Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani lebih menekankan pelajaran yang bercorak hafalan matan-matan sesuatu ilmu menurut tradisi pondok di Pattani, sedangkan Habib Husein al-Qadri perkara itu tidak begitu dikuatkan, yang diutamakan oleh Habib Husein al-Qadri ialah penguasaan lughah Arabiah.
 Oleh itu, Gusti Jamiril putera Upu Daeng Menambon menguasai ilmu nahu, saraf dan ilmu-ilmu Arabiah yang lainnya adalah diperolehnya daripada Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani. Faktor yang membolehkannya bertutur dalam bahasa Arab adalah kerana pergaulannya dengan Habib Husein al-Qadri. Dilantik sebagai mufti Sebagaimana telah diceritakan dalam artikel sebelum ini bahawa Mufti Kerajaan Mempawah yang pertama ialah Habib Husein al-Qadri yang memperoleh gelar Tuan Besar Mempawah. 

 Diceritakan pula, sewaktu Habib Husein al-Qadri/Tuan Besar Mempawah telah berwasiat, bahawa yang layak sebagai pengganti beliau ialah Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani yang tinggal di Kampung Tanjung Mempawah. Oleh itu, untuk melaksanakan wasiat itu pihak pemerintah Mempawah telah melantik Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani sebagai Mufti Kerajaan Mempawah dengan gelar Maharaja Imam Mempawah. 

 Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani adalah orang yang pertama di Mempawah yang memperoleh gelaran sedemikian. Ini bererti Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani itu adalah Mufti Mempawah yang kedua selepas Mufti yang pertama iaitu Habib Husein al-Qadri. 

Setelah Syarif Abdur Rahman al-Qadri mendirikan Kerajaan Pontianak, Sultan Pontianak itu mengajak beliau pindah ke Pontianak, lalu beliau tinggal di Kampung Bugis/Kampung Pedalaman Pontianak yang berdekatan dengan istana Sultan Pontianak itu. 

Ini bererti Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani berkhidmat di kedua-dua tempat itu dengan berulang-alik antara Mempawah-Pontianak melalui pelayaran perahu. Keturunan Daripada catatan Tuan Guru Haji Abdur Razaq, bahawa keturunan Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani adalah empat orang, iaitu: * Hajah Fathimah * Abdur Rahman/Wak Tapak * Ismail * Muhammad Dumyati 

 Anak yang pertama, Hajah Fathimah berkahwin dengan Muhammad Thahir, memperoleh anak bernama Maidah dan Basuk. 
Abdur Rahman, yang lebih dikenal dengan sebutan Wak Tapak memperoleh beberapa orang anak, ialah; Mustafa, Patik, Hasan, Husein dan Muhammad Nur. 

 Seterusnya Ismail, memperoleh anak bernama Saad.

 Muhammad Dumyati pula memperoleh anak iaitu; Muhammad Shalih, Musa dan Haji Daud.

 Di antara mereka yang paling terkenal ialah Abdur Rahman/Wak Tapak, adalah seorang pahlawan Mempawah. Sewaktu terjadi perbalahan antara orang-orang Cina dengan Melayu di Mempawah, Mandor dan tempat-tempat lainnya, Wak Tapak al-Fathani dan Tengku Simbob yang berasal dari Riau berhasil mengalahkan orang-orang Cina tersebut. 

 Salah satu tempat di Pulau Temajoh, Kecamatan Sungai Kunyit, Mempawah nama beliau dikekalkan dengan nama Tanjung Wak Tapak. Menurut riwayat tempat itu adalah sebagai perhentian beliau untuk mengintip lanun-lanun yang melalui perairan Mempawah. 

 Kesinambungan kedatangan orang-orang dari Semenanjung ke Mempawah/Kalimantan Barat Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani dan Syeikh Abdul Jalil al-Fathani dapat dianggap sebagai perintis kepada kedatangan orang-orang Patani dan tempat-tempat lain dari Semenanjung, seperti Kedah dan Kelantan ke Kalimantan Barat. 

 Dari kedatangan yang pertama oleh Syeikh Ali al-Fathani hingga yang terakhir oleh Haji Abdur Rahman Kelantan, ternyata ada hubungan erat, baik dari segi kekeluargaan mahupun pertalian sanad/salasilah pengajian ilmu-ilmu keIslaman. Kedatangan ke Kalimantan Barat tersebut adalah secara berkesinambungan kecuali terhenti setelah Indonesia merdeka kerana sistem pemerintahan telah jauh berubah coraknya. 

Tokoh-tokoh yang terkemuka yang berasal dari Pattani yang masih bersangkutan dengan keluarga besar Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani yang datang menyebarkan Islam di Kalimantan Barat, ada tiga adik-beradik iaitu Haji Wan Abdul Lathif, Wan Nik dan Hajah Wan Mah.

 Ada pun Haji Wan Abdul Lathif itu alim dalam ilmu fiqh, manakala Haji Wan Nik adalah tokoh sufi. Haji Wan Abdul Lathif berkahwin di Kampung Tanjung Mempawah dengan salah seorang keturunan yang juga berasal dari Pattani. 

 Beliau memperoleh tiga orang anak: Haji Abdul Hamid, menyebarkan Islam di Kepulauan Tambelan dan meninggal dunia di sana. Anak beliau yang kedua bernama Mahmud, meninggal dunia di Singapura dan yang ketiga bernama Muhammad telah pulang ke Pattani. Ada pun anak Haji Wan Nik al-Fathani iaitu Haji Usman pulang ke Pattani. Manakala menantu Haji Wan Nik al-Fathani adalah seorang ulama, iaitu Haji Hasan al-Fathani. Beliau adalah sebagai Imam Masjid Jamek Pemangkat (Kabupaten Sambas). 

 Haji Hasan al-Fathani sahabat kepada Syeikh Basiyuni Imran yang lebih dikenali dengan gelaran Maharaja Imam Sambas. Selanjutnya yang datang dari Kedah pula ialah Syeikh Muhammad Yasin yang membuka pondok pengajian di Kuala Mempawah.

 Dari Kelantan pula ialah Haji Ismail bin Abdul Majid yang pernah menjadi Mufti Pontianak. Haji Abdur Rahman bin Husein al-Kalantani pula adalah Mufti Mempawah yang terakhir. Ketiga-tiga orang yang tersebut itu walaupun bukan berasal dari Pattani tetapi ada hubungan dakwah dan pendidikan Islam dengan Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani. 

 Ini kerana sebelum mereka mendapat kedudukan di sana, semuanya tinggal di rumah keturunan Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani. Keturunan yang terakhir ialah penulis sendiri, dari keturunan Pattani-Johor yang dilahirkan di Kepulauan Riau datang ke Kalimantan Barat, menjejakkan kaki pertama sekali di Singkawang (Daerah Sambas) pada 18 Januari 1968 dan selanjutnya ke Mempawah 1970-1988. 

Penulis sempat mencatat hampir semua peristiwa mulai Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani hingga Haji Abdur Rahman bin Husein al-Kalantani dari mulut Haji Abdur Rahman Kelantan sendiri. Ini kerana penulis pernah beberapa tahun tinggal di rumah beliau dan sempat beberapa kali menadah kitab daripada ulama Kelantan murid Tok Kenali peringkat terawal itu. 

 Selain itu, semua peristiwa juga dicatat daripada keturunan mereka dan orang tua-tua di Mempawah. Percubaan-percubaan untuk mendirikan pendidikan sistem pondok sejak zaman Upu Daeng Menambon bersambung terus, namun selalu diakhiri dengan kegagalan.

 Setelah sekian lama sesudah Upu Daeng Menambon, datang seorang ulama Kedah bernama Haji Muhamad Yasin yang menampung murid-muridnya di Kuala Secapah, namun hanya dapat bertahan beberapa tahun saja.

 Setelah itu, disambung pula dengan Haji Abdur Rahman bin Husein Kelantan dengan mendirikan pondok Darul Ulum di Mempawah. Dengan terdirinya pondok tersebut, sempat melahirkan beberapa orang tokoh di antaranya, dua orang anak beliau sendiri iaitu Haji Muhaamad Aziq L.C. dan Drs. Abdul Malik. Seterusnya pondok yang terakhir sekali pula adalah diasaskan daripada penulis dan kawan-kawan yang diberi nama Pondok Pesantren Al-Fathaanah, yang pertama terdirinya di Sungai Bundung, Kecamatan Sungai Kunyit tahun 1974. 

 Turut serta sebagai pengasas ialah beberapa orang murid daripada Haji Abdur Rahman Kelantan tersebut. Di antara mereka ialah seorang ustaz dan Ketua Kampung Munzir Kitang, Udin Sadul, Hamdan Bochari dan ramai lagi. 

 Sehingga kini Al-Fathaanah masih wujud dengan berkonsepkan seperti sistem pengajian sekolah-sekolah umum, namun masih mengekalkan sistem pondok. Namun mudah-mudahan ia dapat kekal sampai ke akhir perjuangan. (Aby Husein Al Adamy )

 * Koleksi tulisan Allahyarham Wan Mohd Shaghir  Abdullah. 
http://aladamyarrantawie.blogspot.com/ http://www.facebook.com/Kisah.Para.DatudanUlama.Kalimantan

Senin, 30 Juli 2012

Pameran Sejarah Lambang Negara Garuda Bertempat di Gedung Pancasila, Kementrian Luar Negeri RI, Jakarta…






(Foto foto dokumentasi )


“…NRMnews - JAKARTA, Jangan mengaku orang Indonesia bila belum melihat Garuda Pancasila, sosoknya yang gagah selalu hadir dalam ruang-ruang kelas, ruang-ruang kantor dan di mana saja di seluruh penjuru Tanah Air Indonesia.

Garuda Pancasila adalah lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu dalam rangkaian Peringatan HUT Kemerdekaan RI dan HUT Kementrian Luar Negeri RI ke 67 tahun 2012, Kementrian Luar Negeri RI mengadakan kegiatan pameran yang bertemakan “ Sejarah Lambang Negara Garuda ”.

Acara tersebut di gelar di Gedung Pancasila, Kementrian Luar Negeri RI, Jakarta. Pameran dilaksanakan dari tanggal 19 Juli – 14 Agustus 2012, pada setiap hari Selasa, Rabu dan Kamis, pukul 09.00 – 14.00 Wib.

Dalam sambutan pembuka Dirjen A.M. Fachir menyatakan selain dalam rangka peringatan
HUT Kemerdekaan RI dan HUT Kemlu, pameran Sejarah Lambang Negara Garuda ini juga dimaksudkan sebagai Open House Gedung Pancasila kepada khalayak umum.

“…Koleksi Pameran Sejarah Lambang Negara Garuda Bertempat di Gedung Pancasila, Kementrian Luar Negeri RI, Jakarta….” Foto By : Red NRMnews

Di mana Gedung Pancasila merupakan Gedung bersejarah yang menjadi bagian penting dari berdirinya Negara Republik Indonesia ini.

Agar khalayak umum pun mengetahui bagaimana sejarah Gedung Pancasila ini, bagaimana Pancasila sebagai dasar negara lahir di gedung ini, juga dengan UUD 1945.

Pameran menampilkan 20 panel proses perancangan lambang negara, biografi para perancang lambang negara antara lain Ki Hajar Dewantara, Sultan Hamid II, Muhammad Yasin, M. Natsir, M.A. Pellaupessy dan Poerbatjaraka.

Selama pameran berlangsung, juga akan diputar film dokumenter mengenai proses awal perancangan lambang negara. Dalam kesempatan ini acara pembukaan dihadiri pula oleh berbagai kalangan mulai dari Sejarawan, akademisi, mahasiswa, pelajar, instansi-instansi pemerintah hingga media massa.

( Oleh : Red NRMnews / Santi Widianti )

Kerajaan Saudi Dalam Kronologi

By SAY Qadrie
Reportase





(Bendera dan simbol kerajaan Saudi Arabia, Hejaz dan Najadz)



Kerajaan Arab Saudi terdiri dari tempat-tempat suci Mekkah dan Madinah. Kedua kota adalah fokus politik pertama dari Dunia Muslim. Periode dari empat khalifah pertama setelah kematian Muhammad dikenal sebagai Al-Khulafa 'ar-Rasyidin: yang Rasyidin atau "benar dipandu" Khilafah. 

Di bawah khalifah Rasyidin, dan, dari 661, penerus Umayyah mereka, orang-orang Arab dengan cepat memperluas wilayah di bawah kendali Muslim di luar Saudi. 

Dalam hitungan dekade tentara Muslim berhasil  mengalahkan tentara Bizantium dan menghancurkan Kekaisaran Persia, perang besar menaklukkan wilayah dari semenanjung Iberia ke India.

 Fokus politik dunia Muslim kemudian bergeser ke wilayah yang baru ditaklukkan.

Dari abad ke-10 (dan, pada kenyataannya, sampai abad ke-20) Sharif Hashimiah dari Mekkah merupakan negara di bagian yang paling maju di wilayah ini, disebut  Hijaz. 

Domain mereka awalnya hanya terdiri kota-kota suci Mekkah dan Madinah tetapi dalam abad ke-13 itu diperluas untuk mencakup seluruh Hijaz.

Meskipun, Sharif dieksekusi pada otoritas kali paling independen, mereka biasanya tunduk pada kekuasaan raja dari salah satu kerajaan besar Islam dari waktu. 

Pada abad pertengahan, ini termasuk Abbasiyah di Baghdad, dan Fatimiyah, Ayyubiyah dan Mamluk Mesir.

Dimulai dengan akuisisi Selim I dari Madinah dan Mekah pada tahun 1517, Ottoman, pada abad ke-16, ditambahkan ke Kekaisaran mereka daerah Hijaz dan Asir sepanjang Laut Merah dan Al Hasa wilayah di pantai Teluk Persia.

Tingkat kontrol atas tanah ini berbeda-beda selama empat abad berikutnya dengan kekuatan fluktuasi atau kelemahan dari otoritas pusat Kekaisaran. 

Di Hijaz, para Sharif Mekkah sebagian besar meninggalkan wilayah mereka (walaupun ada sering menjadi gubernur Ottoman dan garnisun di Mekah).


Pada awal abad 20, Kekaisaran Ottoman terus mengontrol atau memiliki kekuasaan raja (meskipun nominal) atas sebagian semenanjung dengan Sharif Mekkah memerintah Hijaz.

Pada tahun 1916, dengan dorongan dan dukungan dari Inggris (yang melawan Ottoman di Perang Dunia I), Hussein bin Ali dari Hijaz memimpin pemberontakan pan-Arab terhadap Kekaisaran Ottoman dengan tujuan mengamankan kemerdekaan Arab dan menciptakan sebuah single terpadu negara Arab yang mencakup wilayah Arab dari Aleppo di Suriah ke Aden di Yaman. 

Setelah runtuhnya Ottoman kekuasaan negeri  Hijaz dan najd terpecah menjadi dua kekuasaaan.yang independen dan berdiri sendiri.

Syarif Husein bin Ali dinobatkan  sebagai raja di Hijaz, sedangkan wilayah Najd dikuasai oleh Ibnu Saud, yang memang sedang menunggu titik lengah Hijaz untuk kemudian menguasainya, dengan dukungan diam-diam dari Kantor Luar Negeri Inggris.

Syarif Husein adalah penguasa resmi dan sah negeri Hijaz,sebelum kemudian di aneksasi oleh Ibnu Saud dengan dukungan pemikiran Muhammad ibnu Abdul wahab,berfaham wahabiyah.

 Ibnu Saud, atau Abdul Azis , yang berkuasa sebagai raja  di dataran tinggi Najd, melancarkan aneksasi terhadap Hijaz 

pada tahun 1925 dan menetapkan anaknya sendiri, Faysal bin Abdul-Aziz Al Saud, sebagai gubernur Hijaz.

Pada 10 Januari 1926 Abdul Aziz menyatakan dirinya sebagai Raja Hijaz dan, kemudian, pada 

tanggal 27 Januari 1927 meegaskan juga dirinya sebagai penguasa Najd, sejak itu Ibnu Saud menguasai Hijaz dan Najd. 

 Sebelum bergelar raja, penguasa hijaz dan Najd biasanya disebut :"Sultan"

 Dengan Perjanjian Jeddah, ditandatangani

 pada 20 Mei 1927, Inggris mengakui kemerdekaan wilayah Abdul Aziz (kemudian dikenal sebagai Kerajaan Hejaz dan Najd).

Pada tahun 1932, kedua kerajaan Hijaz dan Najd disatukan sebagai "Kerajaan Arab Saudi"




Ibn Saud
Pendiri Kerajaan Saudi adalah 
Abdul  azis bin Abdul Rahman.
Yang disebut Ibn Saud.




 SEJARAH SINGKAT BERDIRINYA  KERAJAAN ARAB SAUDI (BAGIAN 1)


DINASTI SAUD PERTAMA (DIRIYAH)



Dinasti Saud awalnya didirikan oleh Muhammad bin Saud tahun 1744.M,  dengan ibukota Diriyah. Adalah Muhammad bin Abdul Wahab, pimpinan spiritual dari keluarga Saud, yang menjadi asal nama Wahabi, ideologi dinasti Saud. Muhammad bin Saud dan Muhammad bin Abdul Wahab menjalin hubungan keluarga melalui pernikahan.



Sebutan Wahabi bagi para pengikut ajaran Muhammad bin Abdul Wahab pertama kali disebut oleh Sulaiman bin Abdul Wahab, abang dari Muhammad bin Abdul Wahab, pada kitabnya yang berjudul “al-Shawaiq al-Ilahiyyah fi raddi alal Wahhabiyah”, yang kemudian menjadi nama acuan bagi pengikut aliran tersebut. Pada setiap dinasti Saud hingga hari ini, Wahabi merupakan aliran resmi, termasuk di Kerajaan Saudi saat ini.



Keturunan dan pengikut Muhammad bin Saud (ibn Saud) disebut Saudi. Keturunan dan pengikut Muhammad bin Abdul Wahab (ibn Wahab) disebut Wahabi. Saudi menangani kenegaraan dan perang, sementara Wahabi menangani keagamaan. Hingga hari ini, Wahabi merupakan aliran resmi di Kerajaan Saudi.



Saud bin Abdul Azis bin Muhammad bin Saud memimpin dinasti Wahabi-Saudi pertama memberontak terhadap  Kekhalifahan Islam Ottoman-Turki. Ottoman-Turki dikenal kejam oleh bangsa Arab. 



Namun sebaliknya, pemberontakan Wahabi-Saudi mencatat kekejaman dan pembantaian atas penganut Islam yang dinilai tidak sepaham. Tahun 1802 M,  milisi Wahabi-Saudi merebut Karbala di Irak, membantai 5.000 penganut Syiah, serta menghancurkan dan melecehkan makam imam Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad. 



Milisi Ekstrim-Wahabi juga sempat menyebar sampai ke Nusantara, yang dikenal dengan Pemberontakan brutal Wahabi-Paderi terhadap Kesultanan Islam Minangkabau (Pagaruyung) yang dimulai sekitar 1803. Pemberontakan ini merupakan bagian dari Pemberontakan Wahabi di Nejd dan Hejaz terhadap Kekhalifahan Ottoman-Turki. Pembangunan benteng-benteng Wahabi-Paderi awalnya ditujukan untuk merebut kekuasaan di Sumatera khususnya dari Kerajaan Aceh yang bernisbat pada Khalifah Islam dan saat itu merupakan kerajaan terkuat di Sumatera.



Tahun 1819 M, Saud bin Abdul Azis dan anaknya Abdullah bin Saud dikalahkan oleh Ali Pasha dan anaknya Ibrahim Pasha, Gubernur Mesir yang setia pada Khalifah. 



Kota Diriyah diratakan dengan tanah. Abdulah bin Saud ditangkap dan dibawa ke ibukota Kekhalifahan Ottoman-Turki, dipenggal dan mayatnya digantung di sebuah gerbang di Istambul. Kepalanya dibuang ke selat Bhosphorus.



DINASTI SAUD KEDUA (RIYADH, NEJD)



Abdul Rahman bin Faisal, cicit dari Abdullah bin Saud, memimpin dinasti Wahabi-Saudi kedua sebagai Amir Nejd dengan ibukota di Riyadh, namun dikalahkan oleh dinasti Rashidi tahun 1900. 


Abdul Rahman kemudian mengungsi ke Kuwait, menjadi pemimpin spiritual Wahabi dan menyerahkan kekuasaan pada anak-nya, Abdulazis bin Abdul Rahman.



Hingga masa Dinasti Saud Kedua, Inggris tidak memiliki hubungan dengan keluarga Saud. Inggris adalah sekutu dari Kekhalifahan Ottoman-Turki. Misalnya pada Perang Krime, 1853-1856, pasukan sekutu Inggris, Prancis, dan Ottoman-Turki bergabung mengalahkan Kekaisaran Russia.



Sampai Perang Besar Eropa 1914, Kekaisaran Inggris merupakan sekutu dekat Kekhalifahan Ottoman-Turki. Armada Inggris menyelamatkan Istanbul dari invasi Kekaisaran Russia tahun 1878.  Pada Tahun 1878, Ottoman-Turki dikalahkan oleh Kekaisaran Russia, dan pasukan Russia  bergerak menuju ibukota Istanbul. 

Inggris mengirimkan armadanya demi menyelamatkan Istanbul dari pasukan Russia. Russia terpaksa menghentikan agresi-nya namun berhasil memerdekakan Romania, Bulgaria, Montenegro, dan Serbia, yang sebelumnya dijajah     oleh Ottoman-Turki. Jadi tidak ada kaitan antara Inggris dengan pemberontakan keluarga Saud, sampai dengan Perang Besar Eropa 1914.


Pendiri Kerajaan Saudi adalah Abdulazis bin Abdul Rahman.Yang disebut Ibn Saud.


DINASTI SAUD KETIGA (RIYADH, KERAJAAN SAUDI ARABIA)



Adalah Abdulazis bin Abdul Rahman, yang kemudian berhasil mendirikan Kerajaan Saudi Arabia, dinasti Wahabi-Saudi ketiga, yang menyatukan jazirah Arab: Najd dan Hejaz.   Sebagai pemimpin keluarga Saud, Abdulazis dikenal dengan sebutan Ibn Saud: sang pemimpin keluarga Saud, anak Saud.


Abdulazis (Ibn Saud) berangkat dari Kuwait tahun 1902 dengan 40 orang bersenjata dan berhasil merebut Riyadh melalui serangan mendadak menewaskan penguasa kota.


Mendengar direbut-nya ibukota Saud, Riyadh, seluruh suku Saud dan penganut Wahabi angkat senjata mengikuti Ibn Saud, memberontak pada Khalifah Islam Ottoman-Turki. Diantara pasukan pendukung Ibn Saud terdapat milisi Ekstrim-Wahabi bernama Ikhwan yang sangat radikal.


Penguasa setempat dari dinasti Rashidi didukung oleh Khalifah Ottoman, namun Ottoman saat itu tengah mengalami kemunduran sehingga tidak mampu mengirimkan pasukan dalam jumlah besar.


Khalifah Ottoman-Turki baru menyadari bahwa militernya sangat terbelakang setelah dihancurkan oleh Kekaisaran Russia. Moderenisasi pasukan Ottoman-Turki dilakukan oleh para penasehat militer Jerman. Moderenisasi militer ini sangat sukses pasukan moderen Ottoman-Turki memenangkan sejumlah pertempuran penting. Akibatnya hubungan Kekhalifahan Ottoman-Turki dengan Kekaisaran Jerman menjadi sangat dekat, sementara hubungan dengan Kekaisaran Inggris terus menurun karena Inggris bermusuhan dengan Jerman.


Sementara itu di Hejaz dan Najd, dari 1902 – 1914, Ibn Saud berulang kali memperoleh kemenangan pertempuran. Dengan dukungan dari milisi ekstrim Wahabi: Ikhwan, Ibn Saud berhasil menguasai wilayah Al -Qassim, Al-Hassa dan Qatif.



DUKUNGAN INGGRIS


Keberhasilan militer Ibn Saud menarik perhatian Inggris yang memiliki hubungan baik dengan Emir Kuwait. Inggris awalnya tidak ikut campur karena memiliki perjanjian damai dengan Khalifah Ottoman-Turki. Namun Inggris yang bersiap berperang melawan Jerman menyadari kemungkinan Ottoman-Turki berpihak pada Jerman. Inggris mulai membuka kontak dengan lawan-lawan Khalifah di wilayah jajahan Ottoman-Turki. Diantaranya, organisasi yang terkuat adalah kelompok-kelompok nasionalis dan feodalis Arab seperti Ibn Saud yang secara de-fakto sudah menguasai wilayah Nejd dan memiliki pasukan yang cukup besar.



Perang Besar Eropa pecah 1914 antara Inggris dan Prancis melawan Jerman dan Ottoman-Turki. Kondisi ini memberi keuntungan pada Ibn Saud dan kaum nasionalis Arab di Timur Tengah hingga Afrika Utara. Di awal perang, umumnya suku-suku Arab berpihak pada Khalifah, dan direkrut menjadi tentara Ottoman-Turki. Misalnya pada invasi sekutu ke Canakkale (Perang Gallipoli) cukup banyak orang Arab menjadi serdadu. Invasi ini digagalkan oleh kepemimpinan Mustafa Kemal dan kepahlawanan pasukan Ottoman-Turki yang banyak berasal dari etnis Arab, disamping etnis jajahan lain.



Sepanjang perang, 1914 – 1918, untuk melemahkan Ottoman-Turki, Inggris mendukung pemberontakan di wilayah-wilayah jajahan musuh-nya itu. Inggris bukan hanya mempersenjatai, tetapi juga mengirimkan pasukan untuk memperkuat Ibn Saud maupun Revolusi Arab di banyak wilayah melawan pengaruh Khalifah.



Di jazirah Arab, Inggris mendorong kesepakatan perbatasan antara dinasti Saud dan dinasti Rashidi untuk bersama-sama mengusir penjajah Ottoman-Turki. Dengan bantuan bangsa Arab, Kekaisaran Inggris dan Prancis mengambil alih kekuasaan di Timur Tengah dan Afrika Utara dari Kekhalifahan Ottoman-Turki.



Pasukan koalisi Jerman dan Ottoman-Turki dihancurkan di wilayah Palestina oleh pasukan koalisi Kekaisaran Inggris dan milisi-milisi Arab. Banyak serdaru Arab di pasukan Ottoman-Turki melakukan desersi, bahkan bergabung dengan milisi-milisi Arab pro Sekutu.   Akibatnya tidak ada pasukan yang bisa melindungi invasi sekutu ke wilayah Turki. 



iduduki oleh pasukan Inggris dan Prancis. 1918, Perang Besar Eropa berakhir dengan menyerahnya Jerman. Wilayah jajahan Ottoman-Turki diambil alih oleh para pemenang perang. Praktis seluruh penjajahan Khalifah Ottoman-Turki di tanah Arab berakhir, digantikan oleh perlindungan Inggris (protektorat). 



Peran Arab dalam Perang Besar Eropa mendorong Inggris untuk tidak menjajah Timur Tengah, tetapi bermaksud menyerahkan kekuasaan kepada sekutu-sekutu-nya, bangsa Arab. Saud adalah sekutu utama Inggris di jazirah Arab.



Keterlibatan Inggris disini tidak dapat dikatakan sebagai “adu-domba” sebagaimana sering diungkapkan oleh kelompok anti Saudi. Karena kenyataannya, Saudi sudah memberontak melawan penjajah Ottoman-Turki sejak lama. Inggris tidak menyebabkan pemberontakan Arab, tetapi memang mendukung lawan dari lawan-nya dalam perang.



Pada 1924 dendam Keluarga Saudi pada Turki berakhir dengan dibubarkannya Kekhalifahan Ottoman-Turki oleh Mustafa Kemal Attaturk, pahlawan perang Canakkale. Sang Turki Muda berhasil membawa Turki dari jajahan Prancis dan Inggris menjadi negara sekuler yang moderen.

Senin, 25 Juni 2012

Pontianak dalam Lensa : Seperah

Salah satu adat Melayu pontianak umumnya, dan Kesultanan Kadriah khususnya, adalah 'Makan Bersepera" atau makan bersama sama dalam satu shaf panjang yang saling berhadapan. 

Biasanya dalam rangka suatu acara yang menghadirkan banyak orang,misalnya tahlilan,pernikahan,Mauulidan,dsb. (Tampak dalam gambar suasana Khaul sultan syarif Muhammad alkadrie,yang diselenggarakan baru baru ini di Istana Kadriah, Kesultanan Kadriah,Pontianak)
 



pontianak dalam Lensa : Senenan


(Video Peringatan 1 muharram di Istana Kadriah)









Minggu, 24 Juni 2012

Pontianak Dalam Lensa Alam dan Budaya



Kopol , (Gapura)  dipinggir Kapuas)



(Lomba Perahu Naga/Lomba sampan)



(Lomba Perahu Naga)



(Memancing)


(Alat transportasi Pedalaman disebut : Bandong)

Pontianak Dalam Lensa Panorama