Rabu, 11 Januari 2012

Syi’ah I : Dimata Hidayat Nur Wahid





Syi’ah Dalam Lintasan Sejarah
Oleh DR. M. Hidayat Nur Wahid Mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera


Syi’ah Dalam Lintasan Sejarah

Oleh DR. M. Hidayat Nur Wahid


Muqaddimah


        Syi"ah adalah mereka yang memilih mengikuti cara dan ajaran Ali bin Abi Thalib, pasca wafatnya Rasullullah. Kelompok ini sebagian besar memang tidak hadir di Saqifah bani Saidah, karena mereka sibuk memandikan, mengafankan, dan mensholati jenazah Rasullullah, lalu menguburkannya ditempat dimana kita lihat saat ini. 

       Pada saat yang sama  ketika sekelompok kaum Muhajirin dan Anshar bermusyawarah, dan kemudian menentukan sosok Abubakar di daulat sebagai khalifah Rasullullah, pengganti Nabi, di saqifah bani Saidah, Madinah. 
          
            Kelompok ini juga berpandangan bahwa Ali memiliki hak yang lebih utama saat itu untuk melanjutkan kepemimpinan Rasullullah, dibandingkan dengan sahabat lainnya, sebagaimana kemudian tercatat dalam sejarah, dan kita temukan hari ini, 


      Al-Qur’an telah dengan jelas menyebut risalahnya sebagai petunjuk bagi orang-orang yang taqwa. [105] dan risalah Nabi Muhammad, penutup para Nabi dan Rasul, sebagai rahmat untuk seluruh alam, [106] dan generasi yang dibina langsung oleh Rasulullah saw sebagai sebaik-baik ummat yang dikeluarkan ke tengah ummat manusia, dengan amar ma’ruf nahi munkar serta iman billah [107], dan Allah pun berfirman:


“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) baik muhajirin maupun anshar maupun orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik,  Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, di dalam nya mereka kekal selama-lama nya. Itulah kemenangan yang besar.” [108]


          Sekalipun demikian, dan sesudah wafatnya Rasulullah saw, sejarah ummat Islam mencatat berbagai firqah (sekte), di antaranya Syi’ah, yang sering meng-klaim madzhabnya sebagai madzhab Ahlul Bait.

           Sementara itu menurut riwayat "Imam Muhammad Al-Baqir" (salah satu tokoh Ahlul Bait), beberapa orang yang mengaku pengikut Ahlul Bait pernah mendatangi ayahnya, Imam Ali Zainal Abidin, mereka mencaci-maki Abu Bakar, Umar dan Utsman ra.

Setelah mereka puas, Ali Zainal Abidin berkata: “Maukah kalian mengkhabariku, adakah kalian ini termasuk kelompok orang-orang Muhajirin yang diusir dari kampung halamannya dan dari harta benda mereka, karena mencari karunia Allah dan Rasul-Nya, dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” [109]

         Mereka menjawab: “Bukan.” Ali Zainal Abidin bertanya lagi: “Adakah kalian orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (kaum Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang hijrah kepada mereka.” [110]


Mereka menajawab: “Bukan.”

        Kata Imam Ali Zainal Abidin, “kalau demikian maka aku pun bersaksi bahwa kalian bukanlah orang-orang yang datang sesudah mereka (Al-Muhajirin dan Al-Anshar) yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami, dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman, Ya Rabb Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha Penyantun, lagi Maha Penyayang’…” Imam Ali Zainal Abidin pun kemudian mengusir mereka. [112]


       Kajian ringkas di bawah ini akan memaparkan Syi’ah dalam lintasan sejarah, baik berkaitan dengan masalah Imamah yang merupakan issu dan aqidah terpenting bagi Syi’ah maupun implikasinya dalam bentuk politik, dengan sedapat mungkin merujuk ke kitab-kitab Syi’ah sendiri, dan menguatkannya dengan rujukan dari kita, 



Mengenal sosok Ali dari kitab klasik




A. Syi’ah Hingga ke Masa Ghaibah Al-Kubra (329 H)


       Menurut Al-Hasan bin Musa An-Naubakhti, salah seorang tokoh ulama Syi’ah yang hidup pada pertengahan abad ke-3 H hingga awal 4 H, dalam kitab Firaq Asy-Syi’ah, telah terjadi perbedaan dan perselisihan di kalangan firqah-firqah Syi’ah semenjak awal sejarah mereka terutama pada penentuan siapakah yang menjadi “Imam” sekalipun dalam klaim Syi’ah, Imamah adalah pokok keimanan mereka.


Menurut An-Naubakhti perbedaan-perbedaan itu antara lain:


01. Setelah Rasulullah saw wafat, Syi’ah terpecah dalam 3 kelompok, yaitu:


a. Kelompok yang meyakini bahwa ‘Ali adalah Imam yang harus ditaati, dan bukan yang lainnya, berdasarkan nash dari Nabi, beliau ma’shum, terjaga dari segala bentuk kesalahan, yang berwilayah dengannya akan selamat, dan yang memusuhinya kafir dan sesat (dhall), dan imamah ini terus diwarisi oleh keturunannya [113]. Sebagian kelompok ini disebut Al-Jarudiyah. [114]

b. Kelompok yang meyakini bahwa ‘Ali memang yang paling berhak sesudah Rasulullah saw karena keutamaannya, sekalipun demikian mereka membenarkan imamah/khalifah dari abu Bakar dan umar dikarenakan keridhaan serta bai’at ‘Ali terhadap keduanya secara sadar tanpa paksaan. Inilah pemula kelompok Al-Batriyah. [115]

c. Sama dengan pendapat kelompok kedua, hanya saja mereka berpendapat bahwa mentaati imam yang sudah ditetapkan itu hukumnya wajib, maka siapapun yang tidak mentaatinya, dia kafir dan sesat. [116


Pada masa ini, An-Naubakhti juga menyebutkan munculnya kelompok Khawarij dari kalangan Syi’ah (pasukan pendukung) ‘Ali, mereka ini kemudian mengkafirkan ‘Ali bin Abi Thalib karena melakukan tahkim ar rijal. [117]

Pada periode ini juga, seperti yang akan terlihat dalam peristiwa sejarah, tercatat munculnya Abdullah bin Saba’ dan kelompok Syi’ah nya yang selanjutnya disebut sebagai Syi’ah Saba’iyah.


02. Setelah ‘Ali wafat, Syi’ah terpecah menjadi 3 golongan:

a. Kelompok yang berpendapat ‘Ali tidak mati terbunuh, dan tidak akan mati sehingga ia berhasil memenuhi bumi dengan keadilan. Menurut An-Naubakhti inilah kelompok ghuluw (ekstrim) pertama. Kelompok ini disebut : Syi’ah As-Saba’iyah, pimpinan nya Abdullah bin Saba’.

Mereka adalah kelompok yang terang-terangan mencaci serta bara-ah terhadap Abu Bakar, Umar dan Utsman serta para sahabat Rasulullah saw. Mereka mengaku bahwa ‘Ali-lah yang menyuruh mereka untuk melakukan hal ini. Ketika dipanggil oleh ‘Ali mereka mengakui perbuatan mereka. Hampir saja ‘Ali memvonis mati terhadap Abdullah bin Saba’. Tetapi karena pertimbangan beberapa orang, sehingga ‘Ali hanya mengusir Abdullah bin Saba’ ke Al-Madain.

Menurut sebagian ahli ilmu dari sahabat ‘Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Saba’ tadinya beragama Yahudi. Ketika masuk Islam, ia mendukung ‘Ali. Menurut An-Naubakhti, Abdullah bin Saba’ adalah orang pertama yang terang-terangan menghidupkan tentang kewajiban imamahnya ‘Ali serta berlepas diri (bara-ah) dari musuh-musuhnya. 

Menurut An-Naubakhti, Abdullah bin Saba’ yang mantan Yahudi itu, ketika masih beragama Yahudi pernah mempopulerkan pendapat bahwa Yusa’ bin Nun adalah pelanjut Nabi Musa. Maka ketika masuk Islam ia berpendapat bahwa ‘Ali adalah pelanjut Nabi Muhammad. Faktor inilah yang membuat orang menuduh bahwa sumber ajaran (Ar-Rafdhu) Syi’ah berasal dari Yahudi. [118]

Paparan An-Naubakhti ini sekaligus merupakan jawaban terhadap kalangan Syi’ah, serta pendukungnya, yang mengklaim bahwa Abdullah bin Saba’ hanya tokoh fiktif, ciptaan kalangan Ahlus Sunnah, yang sumber utamanya dari Ath-Thabariy melalui satu-satunya jalur Saif bin Umar At-Tamimy.


b. Kelompok yang berpendapat bahwa ‘Ali memang wafat. 

Dan Imam sesudah beliau adalah puteranya, Muhammad bin Al-Hanafiyah, karena dia dan bukan Hasan atau Husein, yang dipercaya membawa panji ayahnya, ‘Ali dalam peperangan di Basrah. Kelompok ini disebut Al-Kaisaniyyah. [119] Mereka mengkafirkan siapapun yang melangkahi ‘Ali dalam Imamah, juga mengkafirkan Ahlush Shiffin, Ahlul Jamal. Tokoh kelompok ini Al-Mukhtar bin Abi Ubaid Ats-Tsaqafi, mengaku bahwa Jibril pernah menurunkan wahyu kepadanya. [120]


c. Kelompok ketiga berkeyakinan bahwa ‘Ali memang wafat, dan imam sesudahnya adalah puteranya, Al-Hasan. 

Ketika kemudian Al-Hasan menyerahkan khilafah kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan, mereka memindahkan imamah kepada Al-Husein, sebagian mereka mencela Al-Hasan, bahkan Al-Jarrah bin Sinan Al-Anshari pernah menuduhnya sebagai musyrik, dan membacok pahanya dengan pedang. [121]

Tetapi sebagian Syi’ah berpendapat, bahwa sesudah wafat Al-Hasan, maka yang menjadi imam adalah putera nya, yaitu Al-Hasan bin Al-Hasan yang bergelar Ar-Ridha dari keluarga Muhammad. Beliau ini, menurut Al-Isfahani, bernama Ali bin Husein Zainal Abidin serta Umar bin Hasan dan Zaid bin Hasan adalah cucu-cucu ‘Ali bin Abi Thalib yang menyertai Al-Hussein dalam peristiwa karbala dan selamat dari pembunuhan. [122]

Fakta sejarah ini sekaligus menolak informasi yang menyebutkan bahwa satu-satunya keturunan laki-laki Rasulullah saw atau keturunan laki-laki ‘Ali yang selamat dari pembantaian Karbala hanyalah Ali bin Husein Zainal Abidin saja.
03. Sesudah syahidnya Al-Husein ra dalam peristiwa Karbala, dimana sebelumnya beliau diundang oleh orang-orang di Kufah yang mengaku diri sebagai Syi’ah-nya dan mereka mengaku mempunyai belasan ribu orang yang siap membela Husein [123]

Tetapi ketika Husein akhirnya terkepung oleh pasukan Ubaidillah bin Ziyad tak satu pun orang yang tadinya mengundang beliau, tampil membela, mereka justru cenderung cuci tangan, sehingga menyebabkan syahidnya Imam Husein. Seperti dikisahkan oleh sejarawan syi’ah, Al-Mas’udi, 

Husein ra sebelum syahid bahkan sempat berdo’a: “Ya Allah turunkanlah keputusan-Mu atas kami dan atas orang-orang yang telah mengundang kami, dengan dalih mereka akan mendukung kami, tetapi kini ternyata mereka membunuhi kami.” [124]


Adapun yang ikut syahid bersama Al-Husein dalam peristiwa ini, antara lain:

a. Putera-putera ‘Ali bin Abi Thalib yang bernama Abu Bakar, Utsman, Abbas.

b. Putera Al-Hasan bin Ali seperti: Abu Bakar.

c. Putera Al-Husein bin Ali seperti: 

         Ali Al-Akbar bin Al-Husein, [125] sehingga ketika jenazah Husein beserta keluarganya yang masih hidup dibawa ke Kufah dan ditangisi oleh orang-orang di Kufah, Ali Al-Asghar bin Husein Zainal Abidin berkomentar, “mereka menangisi kami, padahal bukankah mereka sendiri yang telah membunuh kami.” [126]

 Syuhada Karbala selengkapnya sebagai berikut : 

Para Syahid Karbala dan Kufah

 

Berikut daftar para syahid di Karbala dan Kufah

1. Abu Bakr bin Ali bin Abi Thalib : Dia dipanggil Muhammad Ashghar atau Abdullah  dari Laila binti Mas’ud bin Hanzalah bin Manats bin Tamim.

2. Abu Bakr bin Hasan bin Ali [bin Abi Thalib]

3. Abdul Hatuf Anshari dan saudaranya

4. Sa’d (kedunya putra Hurr) Keduanya [no 3 dan 4] berasal dari Kufah yang bergabungn dengan Imam Husain di Karbala.

5. Adham bin Umayah al-Abdi  Ia adalah putra Ubaidah, yang ayahnya pengikut setia Nabi saw.

6. Aslam, budak yang dibeli dan dibebaskan oleh Imam suci as

7. Anas bin Hars Kahili, bin Baniah bin Kahli, yang termasuk salah seorang sahabat Nabi saw.

8. Burair Zibe Khozair Hamdani.  Seorang tua yang saleh dan pengikut setia Amirul Mukminin, Imam Ali, salah seorang bangsawan terpandang Kufah. Ia adalah orang yang datang kepada Imam Husain agar mengizinkannya mendapatkan syahadah yang ia inginkan di jalan Allah dan memperlihatkan wajahnya kepada Nabi saw pada hari Kiamat.

9. Umaya bin Sa’d at-Thai

Ia termasuk sahabat Imam Ali as

10. Basyr bin Amrual Hazrami, termasuk salah seorang pengikut setia Nabi saw.

11. Bakr bin Hayy at-Taimi : Ia termasuk orang Bani Taim yang datang ke hadapan Imam suci as dan bersedia syahid di jalan Tuhan.

12. Jabib bin Hajjaj at-Taimi. Ia pengikut Muslim bin Aqil di Kufah. Sejak Muslim ditahan, ia menyembunyikan diri sampai Imam Husain tiba di Karbala dan melaporkan diri ke Imam as dan mendapatkan kesyahidan.

13. Jibilats bin Ali Syaibani

Ia sahabat Imam Ali yang ikut serta dalam Perang Shiffin.

14. Jafar bin Aqil bin Abi Thalib

Saudara ketiga Abbas, pembawa panji Imam suci as.

15. Jafar bin Aqil bin Abi Thalib

Saudara Muslim bin Aqil, deputi Imam as ke Kufah

16. Jinadat bin Ka’b Anshari Khazraji : Bersama putranya, yang syahid di Karbala, ia termasuk pengikut setia Imam Husain

17. Jundab bin Muji Khaulani

Salah seorang pendukung Imam Ali yang datang kepada Imam suci as dan jatuh di kaki sang Imam dan berdoa untuk diizinkan syahid.

18. Jaun : Budak yang dibebaskan oleh Abu Dzar yang setelah kematian Abu Dzar bergabung dengan Imam suci kedua, Hasan bin Ali, dan setelah itu mendampingi Imam Husain dan datang ke Karbala dengan Imam. Ia digembleng oleh Abu Dzar.

19. Jaun bin Maliki Tamimi. : Semula anggota pasukan Yazid lalu akhirnya bergabung dengan pasukan Imam Husain as

20. Hars : Budak yang dibebaskan oleh Hamza, pamanda Nabi saw, yang menyertai Imam Husain ke Karbala dan akhirnya syahid.

21. Habsyi bin Qais Nahmi : Termasuk kabilah Hamdan. Kakeknya adalah pengikut setia Nabi saw.

22. Hars bin Amra Qais al-Kindi  : Seorang bangsawan pemberani dari Arabia. Ia menyusup ke pasukan lawan dan menemukan pamannya sendiri di sana. Pamannya bertanya, “Apakah kau datang untuk membunuhku?” Ia menjawab, “Ya, engkau adalah pamanku, tak ragu lagi. Tetapi Allah adalah Tuhanku. Engkau ada di sini untuk menentang-Nya.’ Lalu ia membunuh pamannya. Bersamanya, tiga orang lain bergabung dengan Imam as dan mereka menjadi syahid.

23. Habib bin Amir Taimi : Dia adalah yang berbaiat kepada Imam as di tangan Muslim bin Aqil yang syahid di Kufah. Habib meninggalkan Kufah dan bergabung dengan Imam as selama perjalanannya ke Karbala dan mencapai kesyahidan..

24. Habib bin Muzhahir al-Asadi : Dia dikenal sebagai Habib bin Muzhahir bin Ri’ab bin Asytar dari garis keturunan Asad Abdul Qasim al-Asadi.

25. Hajjaji bin Badr Sa’di : Ia dari Basra dari kabilah Bani Sa’d, seorang bangsawan terkemuka di Kufah. Ia adalah orang yang membawa pesan-pesan Imam as kepada orang-orang yang setia dari kalangan Ahlulbait di Kufah..

26. Hajjaji bin Masruq Jufi  : Sahabat setia Imam Ali.

27. Hurr bin Yazid Riyahi  :  Ia putra Yazid bin Najiyah bin Qanab bin Yatib bin Hurr dari garis Yarboir Riyahi. Seorang pemberani dari Kufah, ksatria berpengalaman yang secara khusus dipilih Ibn Ziyad untuk memerangi Imam Husain. Ia termasuk orang yang menghalangi jalan Imam Husain dekat Kufah, namun ia tak pernah percaya bahwa rencana Ibn Ziyad adalah mengakhiri Imam Husain. Ketika di Karbala, Hurr meninggalkan pasukan lawan dan bergabung dengan Imam as untuk meminta ampun atas perilakunya yang keliru. Imam as menjawab, “Hurr, sebagaimana ibumu menamaimu Hurr, orang yang merdeka, engkau merdeka di dunia dan di akhirat.”   Hurr adalah syahid paling terkenal di jalan Allah.

28. Hallas bi Amr Rasibi : Ia anak Amr Rasibi, seorang pengikut setia Imam Ali.

29. Hanzhalah bin Asadus Shabami : Ia termasuk orang yang membawa pesan peringatan dari Imam Husain ke Ibn Sa’d di Karbala.

30. Rafi, budak yang dibebaskan oleh Muslim Azdi. Ia datang sukarela untuk bergabung dengan pasukan Imam.

31. Zawir bin Amr al-Kindi : Seorang pengikut tulus Ahlulbait, sahabat setia Imam Husain.

32. Zuhair al-Qain Bijilly :  Ia pemimpin kabilah, seorang yang tokoh yang berpengaruh di Kufah. Semula, ia setia kepada Utsman, tetapi ketika sekembalinya dari haji ia bertemu dengan Imam Husain. Sejak itu, ia menjadi pengikut Imam yang setia. Ia termasuk orang yang mengucapkan selamat tinggal kepada istrinya, Dalham binti Amr dengan cara menceraikannya. Istrinya kembali kepada keluarganya, sementara ia bergabung dengan Imam as hingga syahid.

33. Ziyad bin Arib Saidi : Putra Arib ini adalah sahabat setia Nabi saw. Ia termasuk ahli hadis, seorang yang mempunyai pribadi mulia yang mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.

34. Salim, : budak yang dibebaskan dari Amir Abdi. Ia pengikut setia Imam Ali dari Basrah.

35. Sa’d bin Hars dan Abul Hatuf bin Hars Ansari : Dua saudara kembar ini datang dari Kufah yang awalnya bergabung dengan pasukan musuh untuk memerangi Imam Husain. Belakangan, kedua meninggalkan barisan Yazid dan bergabung dengan pasukan Imam as.

36. Sa’d, budak yang dibebaskan oleh Imam Ali. : Setelah kesyahidan Imam Ali, ia tetap setia kepada Imam Hasan. Setelah kesyahidan Hasan, ia tetap setia kepada Imam Husain hingga kesyahidannya.

37. Sa’d, budak yang dibebaskan oleh Amr bin Khalid : Ia memilih syahid demi kebenaran. Ia seorang pribadi mulia yang penuh kesetiaan.

38. Sayid bin Abdullah Hanafi :  Seorang pribadi mulia, pemberani, dan berpengaruh dari Kufah. Ia sangat membantu Muslim bin Aqil di Kufah, karena ia membawa surat Muslim dari Kufah kepada Imam Husain dan tetap bersama Imam sampai kesyahidannya. Dengan dadanya, ia menahan serangan anak-anak panah dari pasukan Yazid yang ditujukan kepada Imam Husain yang tengah shalat hingga ia syahid..

39. Salman bin Mazarih bin Qais Ammari al-Bijjili :  Sepupu Zuhair al-Qain. Ia pergi ke Mekah dengan Zuhair dan sepulangnya dari sana, ia memutuskan untuk bergabung dengan Imam Husain.

40. Sulaiman bin Razin, budak yang dibebaskan Imam Husain. : Ia membawa surat Imam Husain kepada para pencinta Ahlulbait di Basrah. Ibn Ziyad, gubernur Basrah,menangkap nya dan akhirnya, pembantu setia Imam Husain ini syahid.

41. Sawar bin Manyim Nahmi : Ia mengembara ke seluruh Irak untuk bergabung dengan pasukan Imam Husain.

42. Suwaid bin Amr bin Abil Mataa Ammari al-Khasymi : Ketika ia berperang, ia mengalami luka serius hingga pingsan. Para musuh mengira bahwa ia tewas, sehingga meninggalkannya. Tetapi ketika ia siuman dan mendengar kegembiraan pasukan Yazid karena Imam terbunuh, ia bangkit lagi dan berperang hingga mencapai kesyahidan.

43. Saif bin Hars al-Jabiri dan Malik : Dua sepupu ini dari Kufah bergabung dengan Imam hingga syahid.

44. Saif bin Malik Abdi al-Basri

45. Syabib. : Seorang budak yang sudah merdeka dan yang mengalami serangan pertama dari musuh.

46. Syuaib Syakiri

47. Zarghamah bin Malik Taghlabi

48. Aidh bin Majma al-Aazi : Ia termasuk salah seorang anggota pasukan Hurr yang bergabung dengan Imam as.

49. Abis bin Abi Syabib Syakiri

50. Amir bi Muslim : Bersama Salim, ia adalah pengikut setia Imam Ali dari Basrah.

51. Abbas bin Ali bin Abi Thalib, “Rembulan Bani Hasyim” : Kepahlawanan putra Ali dari Ummul Banin ini dalam mencarikan air buat kaum perempuan Bani Hasyim sangat legendaris. Dialah pembawa panji Imam Husain.

52. Abdullah bin Husain, atau dikenai Ali Asghar : Bayi enam bulan ini terbunuh di pangkuan ayahnya akibat sambaran anak panah pasukan musuh ketika sang Ayah meminta air kepada musuh.

53.Abdullah bin Hasan bin Ali : Putra kedua Imam Hasan ini adalah seorang yang amat beliau yang keluar dari tenda demi menyelamatkan pamannya yang terluka. Apa lacur, musuh membunuhnya persis di depan Imam as.

54. Abdullah bin Busyr Khasyami : Seorang anggota pasukan Ibn Sa’d yang keluar untuk bergabung dengan Imam as.

55. Abdullah bin Umair Kalbi : Bersama istrinya, ia datang ke Kufah dari Madinah untuk bergabung dengan Imam. Saat suaminya syahid, istrinya duduk di depan tubuh  suaminya seraya berkata, “Wahai Abdullah, engkau telah masuk surga, kini bawalah aku bersamamu.” Belum selesai ratapannya, budak Syimir melayangkan kapaknya hingga akhirnya syahid.

56. Abdul Rahman dan Abdullah, putra Urwah bin Harraq al-Ghiffari

57. Abdullah bin Muslim bin Aqil

58. Abdullah bin Yaqtar Himyari

59. Abdul Qais Basri al-Abdi

60. Abdul ‘Ala bin Yazid al-Kalbi al-Alimi

61. Abdurrahman bin Abdul Rabb Ansari Khazriji

62. Abdurrahman bin Aqil bin Abi Thalib

63. Abdurrahman Arhabi

64. Abdurrahman bin Mas’ud at-Taimi

65. Utsman bin Ali bin Abi Thalib

Saudara Abbas, putra ketiga Ummul Banin.

66. Umar bin Janad Ansari

67. Ali Akbar, putra Imam Husain : Putra Imam yang berumur 18 tahun ini sangat menyerupai Nabi saw sehingga dijuluki Ahmad Tsani (Muhammad Kedua).

68. Umar bin Zabiah az-Zabiyi : Mantan anggota pasukan Ibnu Sa’d yang akhirnya bergabung dengan Imam Husain.

69. Amr bin Khalid Saidawi

70. Amr bin Abdullah Jundayi

71. Amr bin Qarta Ansari

72. Amr bin Hab Abu Tsamama al-Sai’di

73. Amr bin Hasan at-Tali

74. Aun dan Muhammad (putra Abdullah bin Jafar ath-Thayyar) : Kedua anak Zainab binti Imam Ali ini masing-masing berumur 9 dan 10 tahun. Aun putra kandung Zainab, sementara Muhammad putra dari Khausah, istri lain dari suami Zainab Abdullah bin Jafar ath-Thayyar.

Zainab memohon kepada kakaknya, Imam Husain, untuk membebaskan mereka dari musuh. Tepat saat itu, pasukan musuh membunuh kedua bocah mulia di depan ibunya.

75. Qarib

76. Qasim bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib : Ketika Qasim berusia 14 tahun meminta izin untuk pergi, dilaporkan bahwa Imam Husain ingat akan keinginan saudaranya, Imam Hasan, bahwa salah seorang putrinya akan dinikahi Qasim. Pada saat yang sama, Qasim maju ke hadapan Imam as membawa catatan tertutup, yang ditulis untuknya oleh ayahnya, Imam Hasan, untuk dibuka ddalam situasi yang paling sulit.  Isi surat itu berbunyi:

Putraku, Qasim, ketika pamanmu, Husain, diserang oleh musuh-musuhnya dari segala arah dan ketika setiap pecinta hakiki Allah dan Nabi menyerahkan hidupnya, demi membela kebenaran, kau korbankan dirimu atas namaku.

77. Qasim bin Habib al-Azdi

78. Qasits, Kardus, Musqith, tiga putra Zuhair at-Taghlabi

79. Qanab an-Namri

80. Qais bin Musyir as-Saidawi

81. Kannah at-Taghlabi

82. Majma al-Jahni : Ia pria lanjut usia yang setia membela Imam Husain hingga syahid.

83. Muslim bin Aqil : Wakil Imam Husain di Kufah, tempat ia terbunuh dan syahid.

84. Muslim bin Awsaja al-Asadi. : Veteran tua ini sangat setia kepada Imam as meskipun membolehkan pasukannya untuk mengambil jalan sendiri pada malam Asyura.

85. Muslim bin Katsir al-Awaj al-Azdi

86. Mas’ud bin Hajjaj Taimi dan putranya, Abdurrahman bin Mas’ud

87. Muhammad bin Abdullah bin Jafar

Putra bungsu Abdullah bin Jafar ath-Thayyar dari ibu bernama Khausa.

88. Muhammad bin Muslim bin Aqil

89. Muhammad bin Abi Said bin Aqil : Cucu Muslim bin Aqil.

90. Munjeh, budak yang dibebaskan Imam Hasan.

91. Mauq bin Tsamamah Asadi Saidawi Abu Musa

92. Nafebin Hilal Jamali : Sahabat setia Ali, penghapal al-Quran dan hadis ini setia   mendampingi Abbas bin Ali bin Abi Thalib.

93. Nasr bin Naizar : Budak yang dibebaskan Imam Ali.

94. Wazeh. : Budak Turki yang dibebaskan Hars Masyaji.

95. Hani bin Urwah  : Dibunuh bersama Muslim bin Aqil di Kufah.

96. Yazid bin Ziyad Muhasir

97. Yazid bin Maghful Jafi, sahabat setia Imam Ali , dan akhirnya

98. Husain bin Ali, penghulu para syahid. ( dari redaksi )