Jumat, 03 Desember 2021

Sejarah Keluarga Al - Idrus Sabamban

 By SAY Qadrie  

 Pustaka Sejarah


Pangeran Syarif Ali bin Abdurrahman Al - Idrus
Leluhur Keluarga Al - Idrus Sabamban 
Gambar Imajiner


Sejarah Keluarga Al - Idrus Sabamban


Pengantar : 


          Pangeran Ali Alidrus dan perjalanan  beliau bersama keluarga Algadri serta berdirinya kesultanan Sabamban Banjar : 17 Agustus 1787 M,  sekarang Kalsel dan alur beliau :


Sultan Pangeran Ali Alidrus bin Sultan Abdurahman Alidrus , 


       Ibunda Syarif Ali Alidrus adalah Syarifah Aisyah ( ada yang mencatat Syarifah Fatimah ) binti Sultan Abdurrahman Alkadrie dari istri   Utien Candra MIDI binti Opu Daeng Manambon (Syech Abu Bakar Adeni Qaulan Jajirah) Aden adalah salah satu nama kampung di Yaman. Dari garis ayah dan ibu, beliau memang keturunan Raja Kubu  dan Kesultanan Pontianak. 


     Syahdan, kerena konplik keluarga di kerabat Kesultanan Kubu, maka beliau memutuskan untuk keluar dari Kubu saat itu.


Beliau memutuskan untuk hijrah bersama : 

1. Abdullah al Qadri bin Abu bakar bin Sayyid Husen, :  

    Kelak menetap di Lombok NTB hingga wafatnya. Moyang dari  Sayyid Abubakar Panglima Laksamana IV, bin Abdillah, bin Abubakar Panglima Laksamana III, bin Abdullah - ini.

2. Ibrahim bin Abu bakar bin Sayyid Husen al Qadri, :  Kelak menetap di Segeram hingga wafat, bergelar Panglima  Hitam Paku Alam 

3. Abdurrahman Al Qadri bin Abu bakar bin Sayyid Husein.  Ikut ke Segeram

4. dan Jamalullail Al Qadri bin Abu bakar bin Sayyid Husein. Ikut ke Segeram

          Disertai beberapa orang lagi kaum kerabat lain nya, saat itu. 


         Disisi lain, pada saat yang sama di daerah Kesultanan Banjar, Daerah-daerah di Kalimantan Tenggara tersebut pada 17 Agustus 1787  Merupakan daerah yang diserahkan Sultan Tahmidullah II kepada VOC diwakili Residen Walbeck kemudian menjadi properti milik perusahaan VOC, 


Selanjutkan menjadi milik Hindia Belanda yang menggantikan VOC. 


    Kemungkinan atas saran kakeknya Sultan Abdurrahman, beliau kemudian ditunjuk sebagai penguasa Sebamban. Pangeran Syarif Ali mengepalai daerah Sebamban dengan berpenduduk sekitar 250 jiwa, tidak termasuk para penambang, kebanyakan orang Banjar dan beberapa orang Bugis. 


Daerah Sebamban ini menghasilkan intan, emas, batubara, beras, dan kayu.


Kepala pemerintahaan Sabamban bergelar Pangeran . 


    Di wilayah Kalimantan Tenggara tersebut  terdapat pula Kerajaan Pagatan, Kerajaan Kusan dan Kerajaan Pasir yang statusnya daerahnya setara tetapi sedikit lebih tinggi .  landschap , istilah Belanda

        Sementara Ali Alidrus menetap di Sabamban Banjarmasin Kalsel, Abdullah bin Abubakar bin Sayyid Husein,: setelah beberapa waktu di Sabamban, kemudian menetap di Lombok. Beliau menurunkan keturunan yang sangat banyak, hingga hari ini. Termasuk Abubakar bin Abdullah,: Panglima Laksamana III, dan Abubakar bin Abdillah, bin Abubakar, bin Abdullah :  Panglima Laksamana IV, 


   Sedangkan  Ibrahim bin Abubakar yang menikahi salah satu putri Syarif Ali Sabamban bernama Syarifah Aminah Alidrus, dan melahirkan Sayyid Sirajudiensyah "Pangeran Sabamban" 


    Bersama Jamalullail dan Abdurahman, serta Ibrahim, dan Yusuf , keluarga Al Qadri ini :  kemudian berlayar dan menetap di kepulauan Natuna. beliau dikenal dengan sebutan "Panglima Paku Alam" bersama 2 saudaranya, dimakamkan di Segeram Natuna, dalam dokumen NanGq 1857 di sebut pulau Segara / Segeram. 


Keturunan Sayyid Abubakar bin Habib Husein, dari 3 ibu
( Beliau menikahi 10 wanita )


     Masyarakat Banjar umumnya pada waktu itu terbagi menjadi dua golongan sosial masyarakat yaitu : golongan Masyarakat Jaba ( awam ) dan golongan Tutus.


    Golongan masyarakat Jaba adalah golongan pengabdi kepada golongan masyarakat Tutus, sedangkan golongan Tutus itu sendiri adalah golongan masyarakat yang memiliki keturunan bangsawan Raja atau istilahnya darah biru.


      Masyarakat Banjar umumnya percaya golongan Tutus memiliki kekuatan Bathin / Rohani yang tidak bisa ditandingi oleh golongan masyarakat Jaba. Kedudukan Raja di anggap sebagai pelindung dan pemelihara masyarakat dari malapetaka dan bencana, dan Tahta memiliki kekuatan gaib yang hanya mampu di duduki oleh orang dari golongan Tutus. 


      Istilah Tutus itu sendiri mengacu kepada pengertian kekuatan irasional yang berarti seorang Tutus itu adalah orang yang suci dan terlepas dari unsur-unsur duniawi serta pengaruhnya. Demikian pula halnya dengan tahta kerajaan yang dianggap bukan benda duniawi yang mana tahta di datangkan dari luar dunia, tahta adalah barang suci yang terbebas dari pengaruh dunia, oleh karena itu tahta hanya bisa diduduki orang Tutus, dan jika tidak maka itu akan menimbulkan bencana dan malapetaka. Jadi Raja dan Tahta adalah dwitunggal sebagai wujud kekuasaan religius dan pemerintahan.


      Hal itu yang kemungkinan menyebabkan kenapa masyarakat Sabamban waktu itu meminta Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus menjadi Sultan Sabamban, karena Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus itu sendiri kalau Nasabnya di telusuri ke atas baik Nasab dari Abah maupun Umi beliau adalah merupakan Keturunan Bani Alawi Dzurriyatur-Rasul yang dikenal orang seluruh dunia dimana keturunan ini menurunkan para Imam, Auliya, Sholihin serta Shidiqin.


      Juga Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus merupakan keturunan daripada Raja-Raja besar seperti ; Kubu, Pontianak, Mempawah serta Mataram di Jawa. Hal itu tercermin dari pribadi Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus yang selain menjabat Raja Sabamban juga berperan sebagai Ulama yang giat menyebarkan agama Islam di wilayah Kalimantan, khususnya wilayah yang pernah beliau singgahi.


      Pada saat Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus menjadi Raja Sabamban ini, sekitar tahun 1787 M, beliau menikah lagi dengan tiga wanita, antara lain ; putri dari kesultanan Bone, putri dari Kesultanan Banjar di daerah Nagara Hulu Sungai Selatan, serta putri dari kesultanan Makasar. Dari ketiga istri beliau di Banjar Kalimantan Selatan serta seorang istri beliau di Kubu Kalimantan Barat, Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus memiliki 12 putra, yang melanjutkan keturunan beliau.


A. Asal - Usul nya


          Dalam tahun 1898 Landschap Sabamban atau menurut istilah setempat Pulau Sabamban merupakan salah satu daerah landschap dalam Afdeeling Pasir en de Tanah Boemboe menurut Staatblaad tahun 1898 no. 178.[8]


        Landschap Sabamban/Sebamban (EYD: Lanskap Sebamban) atau Kerajaan Sebamban[1][2] adalah suatu daerah pemerintahan swapraja yang dikepalai seorang bumiputera bagian dari Afdeeling Pasir en de Tanah Boemboe dalam pemerintahan kolonial Hindia Belanda di bawah kekuasaan Asisten Residen GH Dahmen yang berkedudukan di Samarinda.


      [3] Pemerintah swapraja daerah tersebut, pada 1787 M kemudian dikuasakan kepada seorang kepala bumiputera yaitu Pangeran Syarif Ali, putera dari Syarif Abdurahman Alaydrus Yang Dipertuan Kerajaan Kubu.ke.II.[4]


 Sekarang wilayah swapraja ini menjadi kecamatan Sungai Loban. 


       Tahun 1849 pemerintah kolonial Hindia Belanda mengeluarkan Staatsblad van Nederlandisch Indië tahun 1849, berdasarkan Bêsluit van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie, pada 27 Agustus 1849, No. 8, daerah Sebamban ini termasuk dalam kawasan Tanah Bumbu dalam wilayah zuid en ooster-afdeeling[5]


Keturunan Alidrus Kubu ; 2022



1. Asal - Usul dan generasi awal  :  Al Idrus Kubu


         Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus adalah pendiri dari kerajaan Sabamban dengan nama lain yang dikenal oleh masyarakat setempat “ Makam Keramat Dermaga “ (Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan) pada pertengahan abad ke-18, kurang lebih hampir bersamaan dengan periode pemerintahan Sultan Adam (Raja Banjar ke-12 periode 1825-1857).


         Orang tua Sultan Asy-Syarif Ali Al-Idrus yaitu Asy-Syarif Al-Habib Abdurrahman Al-Idrus adalah putra dari Sultan Asy-Syarif Al-Habib Idrus Al-Idrus pendiri dari Kerajaan Kubu pertama, 


      Sedangkan Uminya Syarifah Aisyah Al-Qadri Jamalullail adalah putri Sultan Asy-Syarif Al-Habib Abdurrahman Al-Qadri Jamalullail pendiri Kerajaan Pontianak dari istri yang bernama Putri Utin Chandra Midi yang bergelar Sri Paduka Ratu Sultan putri ketiga dari Panembahan Mempawah Opu Daeng Menambun bin Daeng Rilaga.


     Perkawinan Asy-Syarif Al-Habib Abdurrahman bin Idrus  Al-Idrus,  dengan Syarifah Aisyah binti Sultan Abdurrahmanlahir 6 (enam) orang putra yaitu :

1. Asy-Syarif Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Idrus

2. Asy-Syarif Al-Habib Aqil Al-Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus

3. Asy-Syarif Al-Habib Husein Al-Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus

4. Asy-Syarif Al-Habib Dayud Al-Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus

5. Asy-Syarif Al-Habib Saggaf Al-Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus

6. Asy-Syarif Al-Habib Alwi Al-Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus

      Jadi keluarga dari sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus Sabamban mempertemukan 2 jalur darah kerajaan Kalimantan, yaitu dari jalur Raja Kubu (Al-Idrus) dan Raja Pontianak (Al-Qadri Jamalullail).


Syarif Saleh Al -Idrus - 1880M 
1921 - 1943 M
Raja Kubu ke 8 

2. Keturunan Awal Al - Idrus Sabamban : periode  ( 1825-1857).


           Karena ada suatu konflik keluarga di Kubu, akhirnya  Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus suka berkunjung ke tempat Kakeknya dari Umi di Pontianak yang merupakan Raja Pontianak, dari sana beliau mendapatkan informasi tentang jalur ke Kalimantan Selatan, karena kakeknya dulu sering berlayar ke Negeri Banjar dari Mempawah dan pernah tinggal di Negeri Banjar selama empat bulan, kemudian berlayar lagi ke Negeri Pasir (Kutai) dan berhenti di situ selama tiga bulan, setelah itu kembali lagi ke Negeri Banjar setelah dua bulan menetap di sana,


        Kakeknya Sultan Asy-Syarif Al-Habib Abdurrahman Al-Qadri Jamalullail pernah menikah  dengan Putri Sultan Sepuh, Saudara dari Panembahan Batu yang bernama Ratu Syahbanun. Dikenla dengan Ratu Banjar di Pontianak. 


Ketika berangkat , ikut serta pula : 


1.  Sepupunya Asy-Syarif Al-Habib Ja’far bin Abu Bakar keturunan dari Asy_syarif Al-Habib Mustafa bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Idrus Al-Idrus 


2. dan juga Aminya Asy-Syarif Al-Habib Zain bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Idrus Al-Idrus,





3. Hubungan darah dengan Al Qadri Pontianak dan Al Idrus Kubu


       Keluarga Al - Idrus Sabamban sebagaimana di jelaskan diatas tadi, berasal dari keturunan Raja Kubu. Beliau, Pangeran Syarif Ali Al - Idrus, merupakan salah satu putra raja Kubu saat itu,yaitu Panembahan Kubu Syarif Abdurrahman bin Idrus bin Abdurrahman Al - Idrus, merupakan Raja Kubu ke.II, yang naik tahta menggantikan ayahnya, Raja Kubu Pertama, Syarif Idrus bin Abdurrahman Al - Idrus. 


        Dengan demikian susunan lengkap Pangeran Syarif Ali Sabamban, adalah : Syarif  Ali bin Abdurrahman, bin Idrus, bin  Abdurrahman Al - Idrus  Tuan Kubu atau Panembahan Kubu Pertama. 


        Selain beliau ini, masih ada 5 saudara laki- laki nya yang menetap di Pontianak, yaitu : 


1. Asy-Syarif Al-Habib Aqil Al-Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus

2. Asy-Syarif Al-Habib Husein Al-Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus

3. Asy-Syarif Al-Habib Dayud Al-Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus

4. Asy-Syarif Al-Habib Saggaf Al-Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus

5. Asy-Syarif Al-Habib Alwi Al-Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus


     Keturunan 5 bersaudara inilah yang menjadi leluhur dan nenek moyang keluarga Al - Idrus Kubu, Ambawang,  dan Pontianak hingga hari ini. 


           Sedangkan sebagaimana disebutkan, dari pihak ibu beliau,  Syarifah Aisyah Al-Qadri Jamalullail binti Sultan Abdurrahman Pontianak, :  Pangeran Syarif Ali Sabamban mempunyai darah Al Qadri dan hubungan dengan kesultanan Pontianak. Beliau merupakan cucu,  anak dari dari putri Sultan Abdurrahman




4. Hubungan darah dengan Kerajaan setempat


         Pada saat Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus menjadi Raja Sabamban ini, beliau menikah lagi dengan tiga wanita, antara lain ; putri dari kesultanan Bone, putri dari Kesultanan Banjar di daerah Nagara Hulu Sungai Selatan, serta putri dari kesultanan Makasar.


        Dari ketiga istri beliau di Banjar Kalimantan Selatan serta seorang istri beliau di Kubu Kalimantan Barat, Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus memiliki 12 putra yaitu :


Dari istri pertama di Kubu :


1.Asy-Syarif Al-Habib Hasan Al-Idrus (Makamnya dekat makam Raja Sabamban)

2.Asy-Syarif Al-Habib Abu Bakar Al-Idrus ( Makamnya di Angsana, di Pantai)

 

Dari istri kedua putri kesultanan Bone Sulawesi Selatan :


3.Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus (Makamnya di Tatatakan, depan Masjid Tambarangan Kabupaten Tapin)

4.Asy-Syarif Al-Habib Thoha Al-Idrus (Makamnya di Batulicin, Tanah Bumbu)

5.Asy-Syarif Al-Habib Hamid Al-Idrus (Makamnya di Batulicin, Tanah Bumbu)

6.Asy-Syarif Al-Habib Ahmad Al-Idrus (Makamnya di Batulicin, Tanah Bumbu)

 

Dari istri ketiga putri Kesultanan Banjar di daerah Nagara Hulu Sungai Selatan:


7.Asy-Syarif Al-Habib Thohir Al-Idrus ( Makamnya di Kalimantan Barat ? )

8.Asy-Syarif Al-Habib Umar Al-Idrus (Makamnya di Terjun, Kotabaru)

9.Asy-Syarif Al-Habib Husein Al-Idrus (Makamnya di Kotabaru)

10.Asy-Syarif Al-Habib Sholeh Al-Idrus (Makamnya di Angsana, di Pantai)

 

Dari istri keempat putri Sultan Makasar Sulawesi Selatan :


11.Asy-Syarif Al-Habib Muhammad Al-Idrus (Makamnya di Angsana, di Pantai)

12.Asy-Syarif Al-Habib Utsman Al-Idrus (Makamnya di Pagatan, Tanah Bumbu)


Dari 12 putra inilah, keturunan  Syarif Ali  Al - Idrus Sabamban menyebar dan berkembang hingga hari ini. 

 




B. Keturunan dari Syarif  Ali Al - Idrus Sabamban yang menonjol:


1. Datu Pahat :  1831  - 1898 M  67 Tahun 


  Nama Asli dari Datu Pahat adalah Assyarif Ahmad Al Idrus Bin Assyarif  Husein Al Idrus Raudhoh Tsibi Kubu. Beliau Lahir Pada Tahun 1831 M/ Jumadil Ula . Diwilayah Banjarmasin dan Wafat Pada Tahun 1898 M/ 17 Rojab dengan usia beliau kurang lebih 67 Tahun dan dimakamkan di Sigam Pulau Laut Kotabaru.


  Adapun  ibu dari Datu Pahat Syarif Ahmad bin Pangeran Syarif Muhammad Husein/Syarif Husein Al idrus bernama  : Gusti Khadijah binti Pangeran Abdullah Lampihong. 


Saudara dari Syarif Ahmad  ( Datu Pahat ) ada beberapa orang diantaranya : 

1. Syarif Alwi,  bin Pangeran Syarif Muhammad Husein/Syarif Husein Al idrus 

2. Syarif Muhammad ,bin Pangeran Syarif Muhammad Husein/Syarif Husein Al idrus 

3. Dan Satu orang perempuan tidak diketahui namanya


Syarif Ahmad Bin Syarif Muhammad Husein Al Idrus menikah dengan Gusti Salamah mempunyai beberapa orang anak diantaranya yang diketahui keluarga adalah: 

 1. Datu indar yang bernama asli Syarif Abdul Qodir Al Idrus yang makamnya berada di desa Tirawan Kotabaru

 2. Sedangkan saudara perempuan nya, Syarifah Khadijah,  binti Pangeran Syarif Muhammad Husein/Syarif Husein Al idrus   makamnya terletak dipadang alang daerah hulu sungai . 

Tidak diketahui apakah syarifah khadijah punya keturunan atau tidak


Dari Banjarmasin beliau Hijrah ke Kotabaru, kemudian beliau diangkat dan dilantik menjabat sebagai Panglima di Kerajaan Sigam Pulau laut pada tahun 1863 pada masa kekuasaan Pangeran Abdul Kadir Kusuma (Raja ke II Kerajaan Pulau Laut).

Kerajaan Pulau Laut didirikan pada tahun 1850 M. Ada 5 raja yg berkuasa, yaitu :

1, Pangeran Jaya Sumitra, raja ke I sebagai pendiri kerajaan. Menjabat tahun 1850 - 1861.

2. Pangeran Abdul Kadir Kusuma, raja ke II, menjabat tahun 1861 - 1873.

3. Pangeran Brangta Kusuma, raja ke III, menjabat tahun 1873-1881.

4. Pangeran Amir Husin, raja ke IV, menjabat tahun 1881-1900.

5. Pangeran Muhammad Aminullah, raja ke V, menjabat tahun 1903-1905.

Sejak tahun 1905 seluruh kerajaan dihapuskan oleh kolonial Belanda.


Selain berdakwah hingga sampai kenegeri jiran Malaysia, beliau berada di Negeri jiran tetangga 1 tahun demi menyebarkan Agama Islam disana. Selain berdakwah beliau juga adalah seorang pejuang di era penjajahan Kolonial Belanda dan diketahui bahwa beliau ternyata Zuriat dari pada Rasulullah generasi ke 36 dari jalur Sayyidina Husein Kalau Jalur Ibu Beliau Nasabnya Terhubung Dengan Kesultanan Banjar.


       “Syarif Ahmad Al Idrus (Datu Pahat ) Bin Syarif Husein Al Idrus Bin Pangeran Syarif Ali Al Idrus Bin Syarif Abdurrahman Bin Syarif Idrus Al Idrus Raja Kubu 1 Bin Sayyid Abdurrahman Bin Sayyid Ali Bin Sayyid Hasan Sohib Huraidhoh Bin Sayyid Alwi Sohib Maghad Tsibi Bin Sayyid Abdullah Sohib Maula Taqoh Bin Sayyid Ahmad Bin Sayyid Husein Bin Al Imam Al Habib Abdullah Al Idrus Al Akbar Bin Imam Abu Bakar As Sakran Bin Imam Abdurrahman Assegaf 


Bin Imam Muhammad Mauladdawilah Bin Imam Ali Maula Ad Darkh Bin Imam Alwi Al Ghuyyur Bin Imam Muhammad Faqih Muqaddam Bin Imam Ali Bin Imam Muhammad Sohib Mirbath Bin Imam Ali Khalla'qassam Bin Imam Alwi At Tsani Bin Imam Muhammad Maula Shama'ah Bin Imam Alwi Al Awwal (Alawiyyin)  Bin Imam Ubaydillah/Abdullah 


Bin Imam Ahmad Al -Muhajir Bin Imam Isa Ar-Rumy Bin Imam Muhammad An-Naqieb Bin Imam Ali Al-Uraidhy Bin Imam Ja'far Asshodiq Bin Imam Muhammad Al -Bagier Bin Imam Ali Zainal Abidin Bin Sayyidina Husein As-Syahid Bin Sayyidina Ali Bin Abi Thalib Wa Sayyidah Fatimah Az-Zahra Al Baatul Binti Nabi Muhammad Saw”




       Beliau menekankan pada anak dan keturunan nya untuk selalu mengedepankan Akhlak yang mulia atau adab yang baik serta mengajarkan Ilmu yang bermanfaat bagi sesama. 


       Beliau memiliki keturunan yang bernama Syarif Abdul Qodir (Datu Indar).  Syarif Abdul Qodir (Datu Indar) menurunkan Assyarif Al Habib Abdullah Baseran. Assyarif Al Habib Abdullah Baseran menurunkan lagi Syarif Muhammad Syahrani. Syarif Muhammad Syahrani memiliki keturunan diantaranya, adalah : Assyarif Ali Zainal Abidin Al Idrus Huraidhoh Tsibi (Kubu).


Salah satu contoh juriah beliau yang bernama Assyarif Al Habib Abdullah Baseran Al idrus bin Assyarif Al Habib Abdul Qodir Al idrus (Datu Indar) sebagian tanahnya dhibahkan untuk sosial dan tanah wakaf untuk kuburan termasuk membangun Mesjid Tirawan di Kotabaru hingga akhir hayat beliau tidak mempunyai tempat kediaman.


Assyarif Al Habib Abdullah Baseran Al idrus adalah seorang veteran, yakni seorang pejuang pula meneruskan cita cita dari pada  kakek beliau (Assyarif Ahmad Al Idrus/ Datu Pahat).


Oleh tentara saat itu beliau pun dibangunkan rumah untuk mengenang jasa beliau pada rakyat dan Negara.

Diantara karamah dari pada Syarif Ahmad Al idrus yang lebih dikenal dengan nama Datu Pahat adalah :

1. Beliau pernah dtangkap belanda mata beliau mau di congkel atau dipahat belanda Tetapi terpahat kawanan nya sendiri.

2. Beliau ahli memahat hati menempa hati qolbu seseorang yang keras menjadi lembut.

3. Beliau juga bisa berjalan di atas air,

4. Bisa membagi tubuh.




2. Datu Indar : 1880  - 1958 , usia 78 tahun


Assyarif Al Habib Abdul Qodir Al idrus (Datu Indar) begitulah sebutan untuk beliau, karena masyrakat mengenalnya dengan kebiasaan beliau yang selalu menghindar untuk ber ‘Uzlah (mengasingkan diri) dan mmbersihkan hati ataupun bathin beliau dari pada Hubbud Dun ya.


       Jabatan dkerajaan kubu panglima muda tata negeri kawasan kalimantan selatan dinobatkan secara resmi dan Legal sertifikat kerajaan kubu Pontianak kalimantan barat pada tanggal 01 mei 2019 didepan makam raja kubu Syarif idrus Al idrus sekaligus di istanan kesultanan Kubu disaksikan oleh panglima besar kerajaan kubu kertamulya, dan ambawang serta disaksikan sesepuh kesultanan kadriah assyarif Al habib abdul hakim Al qadri Dan ummi rugayyah istri beliau.


        Dan dketahui oleh raja kadriah Pontianak assyarif Al habib mahmud melvin Bin Assyarif Al habib abu bakar Al qadri Dan Sudah melewati tes sebelum pelantikan


As Syarif Al Habib Abdul Qodir /Datu Indar Lahir Dari Pasangan Ayah Beliau Yang Bernama Syarif Ahmad Al Idrus /Datu Pahat , Dengan Gusti Salamah Binti Pangeran Baso'/Abbas Kotabaru Datu Abdul Qodir Ini Punya Saudara Bernama Syarifah Khadijah Al Idrus Bermakam Di Padang Alang Amuntai Hulu Sungai


Beliau Assyarif Al Habib Abdul Qodir Dilahirkan Di Kalimantan Selatan , Pada Tahun 1880   Masehi Dan Wafat Pada Tahun 1958 , usia 78 tahun, beliau Di Makamkan Di Desa Tirawan Kotabaru Di Depan Mesjid Tirawan Kotabaru Pemakaman Keluarga Datu Pahat (Syarif Ahmad Al Idrus Raudhoh Tsibi -Kubu


Beliau Semasa Hidupnya Selain Mengajar Ngaji Beliau Juga Seorang Mentri Dalam Mengkhitan Orang Beliau Dibekali Juga Dengan Ilmu Pengetahuan Agama. Dimasa Zaman Penjajahan Beliau Mengajarkan Mengaji Kepada Anak Anak Kampung Dan Berdakwah Sampai Kedaerah Stagen Dan Terkenal Sebagai Dokter Ahli Dalam Bidang Perkhitanan. Hal Ini Dijelaskan Sama Anak Cucu Beliau Langsung As Syarif Al Habib Abdullah Baseran Al Idrus


Adapun Karomah Karomah Beliau Juga Mudah Dalam Menyimpulkan Serta Dalam Memecahkan Suatu Masalah Dan Dengan Berkah Izin Allah Dan Rasulullah Ada Seseorang Yang Terkena Penyakit Kronis Seketika Sembuh Dengan Dipegang Sama Beliau.


Beliau Memiliki Karomah Dengan Suaranya Yang Sangat Merdu Dan Pandai Dalam Membaca Syair Syair Rohani Pujian Kepada Datuk Datuknya Rasulullah Saw, Beliau Menikahi Gusti Salamah Binti Gusti Ahmad Untuk Mempererat Hubungan Tali Silaturahmi Dengan Kerajaan Pulau Laut Kotabaru Serta Mudah Dalam Syiar Beliau Untuk Bagian Team Medis Dan Pengobatan Serta Mengajarkan Ilmu Agama Dimasyarakat Kotabaru Banyak Beliau Mengislamkan Suku Suku Orang Dalam Yang Belum Memeluk Agama Muslim


Adapun Perihal Beliau Bergelar Datu Indar Karena Beliau Suka Menghindari Keramaian Dan Senang Beruzlah Atau Khalwat Sehingga Beliau Ditokohkan Dmasyarakat Dalam Hal Bidang Medis nya .


Hingga Akhir Hayat Beliau Dimakamkan Di Desa Tirawan Kotabaru Di Depan Mesjid Tirawan Berdekatan Dengan Rumah Syarifah Sapiah  Al Idrus Tirawan Anak Cucu Beliau.


Penobatan Raja Kubu Kalimantan Barat 


Datu Indar dan Keturunan nya : 


         As Syarif Abdullah Baseran bin Abdul Qodir (Datu Indar ) bin Syarif Ahmad Al idrus  (Datu Pahat ) adalah anak dari pasangan Syarif Abdul Qodir yang menikahi seorang dzuriah dari kesultanan Banjar bernama Antung Rahmah binti Gusti Ahmad/Muhammad .

Dari pernikahan ini menurunkan keturunan : 

 1. Syarif Bustani bin  Syarif Abdul Qodir  Al -Idrus  ( Datu Indar ) 

2. Syarifah Umi Kalsum, binti Syarif Abdul Qodir  Al -Idrus  ( Datu Indar ) 

3. Syarif Muhammad Jafri, bin Syarif Abdul Qodir  Al -Idrus  ( Datu Indar ) 

4. Syarif Abdurrahman, bin Syarif Abdul Qodir  Al -Idrus  ( Datu Indar ) 

5. Syarif Ali , bin Syarif Abdul Qodir  Al -Idrus  ( Datu Indar ) 

6. Syarif Hasan,bin Syarif Abdul Qodir  Al -Idrus  ( Datu Indar ) 

7. Syarif Abdullah Baseran ( putra bungsu, atau, busu ) bin Syarif Abdul Qodir  Al -Idrus  ( Datu Indar ) bin Syarif Ahmad  ( Datu Pahat ) bin Pangeran Syarif Husein, bin Pangeran Syarif Ali Al - Idrus  Sabamban. 





Syarif Abdullah Baseran Al idrus tsibi :  1920 - 2017 M  ( 96 tahun ) 


         Adalah seorang pejuang veteran perang dimasa era penajajahan Dan masa masa gerombolan sebelum merdeka sekaligus beliau juga pejuang dakwah agama dan syiar islam beliau kerap dikenal masyarakat dengan sebutan gelar Busu Basran sebab beliau anak bungsu dari 9  ( sembilan ) bersaudara


        Tidak banyak yang mengetahui beliau adalah seorang Syarif,  karena memang beliau adalah seorang pejuang dimasa era gerombolan dan penjajahan Belanda untuk syiar islam 


Beliau mampu dalam satu minggu selalu mengkhatamkan Al qur'an tanpa dketahui anak cucunya semasa hidup beliau,  sampai amalan dan ilmu pun beliau simpan sebab ke wara'an beliau dalam menjaga ilmu tidak terbuka sembarangan bahkan banyak orang tidak mengetahui hal tersebut setelah terbuka baru dlihat banyak kitab kitab yang tersimpan didalam peti beliau


        Beliau pulalah yang pertama kali mendirikan kampung Tirawan Kotabaru sekaligus memberi nama kampung Tirawan Kotabaru. Luas tanah beliau meliputi seluruhnya Didesa Tirawan Kotabaru 1 km persedi Kiri, kanan, depan , belakang panjangnya 1km,  djadikan beliau perkampungan , Dan mendirikan mesjid dan sebagainya.

           Beliau dlahirkan diwilayah distrik kesultanan Banjar pada sekitar tahun 1920 Masehi  dan wafat pada tahun  2017 Di Desa Tirawan Kotabaru dalam usia (96) tahun. 





Karomah - karomah  beliau : 


1.Melawan penjajah belanda berhadapan dan mempunyai kekuatan dan ketahanan tubuh
2.Mampu mengkahatamkan Al qur an dalam 1 minggu
3.Mampu menguasai beberapa kitab tanpa diketahui oleh orang banyak
4.Tangkas dalam perjuangan tanpa kenal lelah andil dalam perjuangan untuk me merdekakan Indonesia Di wilayah kesultanan Banjar


           Beliau sampai akhir hayat tidak mempunyai rumah harta dan tahta. 


      Beliau berikan untuk keluarga Dan umatnya rasulullah untuk mendirikan perkampungan Tirawan Kotabaru, padahal Beliau mempunyai tanah yang banyak dan rumah beliau dibangunkan oleh veteran tentara. 


         Beliau lebih mengedepankan ilmu adab dan akhlak ketimbang daripada siapa beliau namun beliaulah yang memberikan Info Catatan sejarah keluarga kepada anak beliau yang dkenal, diantaranya : 


        Beliau punya beberapa orang istri Ada yang dkenal dengan istri beliau bergelar Nenek Tuha setelah dengan Syarifah Norsyeha,  diantara anak anak beliau dari semua istri yang kami ketahui diantaranya : 


1. Syarif Muhammad Syahrani  bin Syarif Abdullah Baseran Al idrus,

2. Syarif  M  Ulan Al idrus bin Syarif Abdullah Baseran Al idrus,

3. Syarifah Sapiah Al idrus binti  Syarif Abdullah Baseran Al idrus,

4. Syarif  Supiani Al idrus bin Syarif Abdullah Baseran Al idrus,

5. Syarif Alwi Syarwani Al idrus bin Syarif Abdullah Baseran Al idrus,

6. Syarif  Bastiah Al idrus bin Syarif Abdullah Baseran Al idrus,

7. Syarif Ampur Al idrus bin Syarif Abdullah Baseran Al idrus,

8. Syarif  Syahransyah Al idrus, bin Syarif Abdullah Baseran Al idrus, dan beberapa orang lainnya

          Keturunan beliau ini, Syarif Abdullah Baseran, : 

      yang bernama Muhammad Al - Idrus  atau, Syarif Muhammad Syahrani  Al idrus,  --, dikenal masyarakat sepuh beliau di Desa Tungkap dengan gelar Abuya Syarif atau Habib Syarif , diantara  teman teman sepuh beliau Abuya Syarif Muhammad Al idrus ini, ialah  Ammi Ian atau paman Mariyani, penghulu Haji Ja'far ,Ammi Saudi , Ammi Lukman Martapura (selaku keturunan datuk kelampayan,) dan beberapa orang sepuh lainnya ,


-- Beliau kemudian menikahi 2 perempuan dan menurunkan : 


I. Keturunan istri pertama Syarifah Siti Nurjennah binti.KH.Syarif  Muhammad Jafri Al idrus

1. Syarif  Ahmad Syarifudin Al idrus, bin Syarif Muhammad Syahrani  Al idrus

2. Syarifah Rabiatul Adawiyah Al idrus,  binti Syarif Muhammad Syahrani  Al idrus

3. Syarif .M.Hasan Al idrus, bin Syarif Muhammad Syahrani  Al idrus

4. Syarif.M Husein Al idrus,  bin Syarif Muhammad Syahrani  Al idrus

5. Syarifah Suaibatul Aslamiyah bin, Syarif Muhammad Syahrani  Al idrus

6. dan Syarifah  Nurhidayah binti, Syarif Muhammad Syahrani  Al idrus



II. Keturunan  dari istri kedua Dengan Siti  Aminah binti Jafri Bin Yunus bin Datu Thaberani Baalawi Al Husaini  punya anak : 


1. Syarif Ali zainal abidin bin, Syarif Muhammad Syahrani  Al idrus

2. Syarifah Badariyah bin, Syarif Muhammad Syahrani  Al idrus

3. dan Syarif Abdurrahman bin, Syarif Muhammad Syahrani  Al idrus






Karomah karomah dari Assyarif Muhammad Syahrani Bin Syarif Abdullah Baseran Al Idrus 

1.Mampu berkomukasi dengan hewan
2.Beberapa perjalanan bisa di beberapa tempat
3.Dianggap sebagai orang gila,  namun beliau tidak gila  ( Majdub ) 
4.Ibadahnya tidak pernah ketinggalan siang dan malam
5.Apa yang beliau ucap terjadi dengan sangat cepat 
6.Berguru dengan Nabi Khaidir as.
7.Mampu memimpin 2 bangsa jin dan manusia
8.Ketika beliau wafat beliau masih bisa menghubungi anak angkat dan sohib karib beliau nan jauh
9.Di fitnah luar biasa namun beliau tetap merangkul bahkan di dalam keluarganya sendiri beliau dkucilkan
10.Banyak membantu meneliti dan membuka sejarah sejarah para wali wali allah di Kalimantan
11.Ketika terjadi badai petir beliau menengadahkan tangan keatas dan beliau g3ser seketika itu langsung berhenti itu badai dan petir
12.Banyak mengajarkan anak anak desa tungkap tentang ilmu agama dan mengaji
13.Andil dalam syiar dakwah kepelosok pelosok tanpa kenal lelah
14.Berjalan tanpa rasa lelah beliau walau tidak ada duit ditangan masih bisa bepergian






           Riwayat  berikut ini masih diperdebatkan oleh kalangan Trah keturunan Pangeran Syarif Ali Sabamban sendiri dan Trah Kerajaan Kubu Tua, Kertamulya serta Ambawang, 


         Mengenai kebenarannya, kami tidak masuk ke ranah benar - salah, karena tugas seorang pemerhati sejarah, hanya menyampaikan saja, dari versi manapun. Silahkan mereka yang mencari dan menemukan sendiri kebenaran dan keabsahan nya. 


3.  Asy-Syarif Al-Habib Hasyim Al-Idrus di kenal sebagai Keramat Betatak. Keturunan  Syarif Thahir/Thohir bin Syarif Ali Sabamban 


      Satu putra Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus yang bernama Asy-Syarif Al-Habib Thahir Al-Idrus ( adiknya Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus ) dari Kotabaru merantau ke Sampit dan di sana kemudian menikah dengan perempuan asal Nagara. 


     Di Sampit ini beliau memiliki kebun kelapa yang oleh beliau kemudian ditinggalkan karena Asy-Syarif Al-Habib Thahir Al-Idrus bersama sang istri pulang kampung, ke daerah asal istrinya di Nagara (Kandangan) . 


     Suatu ketika Asy-Syarif Al-Habib Thahir Al-Idrus mengunjungi kakeknya di Pontianak yaitu Asy-Syarif Al-Habib Abdurrahman bin Sultan Kubu Asy-Syarif Al-Habib Idrus Al-Idrus. 


       Akhirnya Asy-Syarif Al-Habib Thahir Al-Idrus tak kembali ke tanah Banjar karena meninggal dunia di Pontianak. 


          Kebun kelapa di Sampit yang dtinggalkan Asy-Syarif Al-Habib Thahir Al-Idrus dan istrinya itu sebenarnya dititipkan kepada tetangga. Suatu ketika putra beliau yang tertua Asy-Syarif Al-Habib Ja'far Al-Idrus (saudara Asy-Syarif Al-Habib Hasan Al-Idrus) ke Sampit untuk melihat-lihat kebun kelapa itu. Namun si tetangga tak mengakui. 


Dan, akhirnya muntah darah-lah si tetangga yang khianat itu.


         Asy-Syarif Al-Habib Ja'far Al-Idrus punya anak namanya Asy-Syarif Al-Habib Salim Al-Idrus ( Abahnya Habib Yahya Al-Idrus, mantan Bupati Pangkalanbun), disamping itu juga ada salah satu buyutnya Asy-Syarif Al-Habib Thahir Al-Idrus yang bernama : 


 Asy-Syarif Al-Habib Ahmad Al-Idrus Tanjung, 


         Kemudian Asy-Syarif Al-Habib Umar Bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus (Adik Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus) yang bermukim di daerah Tarjun, Kotabaru. 


        Beliau kemudian dikenal sebagai “ Pangeran Tarjun “ menyebarkan agama Islam atau Ulama di sana hingga akhir hayat beliau dan di makamkan di daerah Tarjun, yang selalu dijiarahi oleh masyarakat, karena memiliki karomah atau Waliyullah, tepatnya di dekat area pabrik semen Kotabaru.


         Adapun Asy-Syarif Al-Habib Mustafa bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus setelah pernyataan ketidak inginan beliau untuk menjadi Sultan, maka beliau lebih memilih mengembangkan syi’ar agama Islam ke daerah-daerah lain di Kalimantan Selatan khususnya hingga akhir hayat beliau dan di makamkan depan Masjid Tambarangan di daerah Tatakan kabupaten Tapin yang terkenal dengan sebutan “ makam Turbah tua / Surgi Syarif Mustafa “ yang saat ini lagi dalam proses dibangun. 


         Di sebelah makam Asy_syarif Al-Habib Mustafa bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus ini juga terdapat makam istri kedua beliau. Dan sampai sekarang, makam beliau menjadi salah satu tempat yang sering dijiarahi oleh masyarakat, Karena menurut cerita beliau adalah salah satu keturunan Sultan sekaligus Ulama dan Waliyullah yang memiliki banyak karomah.




Adapun beberapa karomah beliau antara lain :

1.ketika beliau berbicara dengan Abahnya Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus, suaranya masih ada di tampat, akan tetapi beliau berdua sudah tidak terlihat lagi karena sudah jauh menghilang.


2.Apabila beliau berada di suatu tempat, dan ada orang Belanda yang menunggang kuda atau naik Kereta Kuda, maka seketika juga kuda itu akan berhenti berjalan dan menurunkan ekornya menutupi bagian belakangnya.


3.Apabila beliau berwudhu, sewaktu-waktu beliau menceburkan diri ke sungai atau kolam, ketika beliau naik ke daratan maka bagian tubuh yang basah hanya daerah wudhu saja.


4.Ketika ditembak, peluru hanya menempel di jubah beliau dan ketika dikibaskan maka peluru itu berjatuhan di tanah, sebagian lagi mengenai pepohonan.


5.Bila ada burung yang terbang di atas makam beliau maka akan terjatuh seketika.


6.Di waktu malam hari, makam beliau seperti ada cahaya yang terang.


7.Masyarakat sekitar kadang-kadang melihat dua ekor Macan yang menjaga makam beliau.


Itulah beberapa karomah beliau yang sering diceritakan oleh masyarakat setempat dan para keluarga keturunan beliau.




Asy-Syarif Al-Habib Mustafa bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus meninggalkan beberapa putra dan putri dari tiga orang istri beliau, yaitu ;


Dari putri Bugis di Batulicin, melahirkan :

1.Asy-Syarif Al-Habib Muhammad Al-Idrus

2.Syarifah Syaikha Al-Idrus


Dari istri kedua di Tatakan yang bernama Alama binti Amidin, keturunan Datu Labas (makamnya di Lok Paikat, Tapin), melahirkan :

3.Asy-Syarif Al-Habib Umar Al-Idrus (Makamnya di belakang Masjid Tambarangan)

4.Syarifah Alaiyah Al-Idrus

5.Syarifah Qomariah Al-Idrus

6.Syarifah Masturah Al-Idrus

7.Asy-Syarif Al-Habib Hasyim Al-Idrus (Makamnya di belakang Masjid Tambarangan).


Dari istri ketiga, Syarifah Mujenah binti Al-Habib Ali Asseggaf (Kandangan) :

8.Asy-Syarif Al-Habib Alwi Al-Idrus, tidak memiliki keturunan.


         Anaknya Asy-Syarif Al-Habib Mustafa bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus yang bernama Asy-Syarif Al-Habib Hasyim bin Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus yang bermukim di daerah Tatakan, Rantau Kabupaten Tapin, memiliki tiga istri dan menurunkan keturunan yang antara lain :


1.Asy-Syarif Al-Habib Hasan Badri Al-Idrus (domisili Jogja atau Bulungan).

2.Asy-Syarif Al-Habib Ahmad Al-Idrus (makamnya di Halong, Paringin).

3.Asy-Syarif Al-Habib Abu Bakar Al-Idrus (makamnya di depan makam Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus).

4.Asy-Syarif Al-Habib Abdul Hamid Al-Idrus (domisili Rantau)

5.Syarifah Aminah (domisili Rantau)

6.Syarifah Zubaidah (domisili dekat komplek makam Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus).

7.Syarifah Aisyah (domisili dekat komplek makam Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus).

8.Syarifah Nurhayati / Ibu Ifah Nur (domisili di depan Polsek Tambarangan)


Pentabalan Sultan Pontianak ke. IX - tahun 2017


       Asy-Syarif Al-Habib Hasyim bin Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus memiliki kegemaran berjiarah ke makam Syekh Maulana Abdussamad Al-Palimbangi yang lebih dikenal sebagai “ Datu Sanggul ” (Ulama yang sezaman dengan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari).


    Dan ketika bermunculan kelompok-kelompok “Gerombolan” di era pasca kemerdekaan antara tahun 1945 sampai tahun 1950, Asy-Syarif Al-Habib Hasyim bin Asy-Syarif Al-Habib Mustafa Al-Idrus ini merupakan figur tokoh kharismatik yang disegani baik dari pihak Gerombolan maupun dari pihak pemerintahan.


        Dimana setiap yang memiliki hubungan dengan Asy-Syarif Al-Habib Hasyim Al-Idrus tidak akan diganggu oleh kelompok Gerombolan juga tidak akan ditangkap oleh Pemerintah. Beliau merupakan salah satu tokoh yang giat menyebarkan syi’ar Islam hingga beliau wafat pada tahun 1960 M, dan dimakamkan di belakang Masjid Tambarangan, Tatakan, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan dan dikenal sebagai " Keramat Betatak".


       Mengenai gelar Keramat Betatak ini dikarenakan suatu ketika beliau hendak shalat subuh dan mengambil air wudhu di sungai, sarung beliau diinjak dari belakang oleh seorang pria dan seorang wanita yang menyimpan iri dengki kepada beliau, hingga menyebabkab beliau terjatuh dalam posisi tengkurap, lalu dua orang tadi yang sebelumnya sudah menyiapkan senjata tajam, segera menyerang Asy-Syarif Al-Habib Hasyim Al-Idrus. 


     Akan tetapi serangan pria itu tidak dapat menembus kulit beliau sedikit pun, hanya wanita saja yang dapat melukai tubuh beliau, begitu juga wanita itu yang segera menyayat punggung beliau seperti menyayat ikan, namun sayatan itu tidak dapat begitu dalam melukai beliau, hanya sedalam kurang lebih ½ cm. 


       Selama beberapa hari beliau berada di pinggir sungai dalam posisi tengkurap namun beliau tidak meninggal, sampai akhirnya ditemukan dan dibawa oleh sanak keluarga ke rumah, dan beliau kembali sehat seperti sedia kala hanya dalam tempo beberapa hari. 


        Lain halnya dengan pria dan wanita pelaku penyerangan itu yang mengalami muntah darah dan menjadi gila hanya dalam tempo yang singkat setelah aksi jahat mereka, kemudian rumah mereka pun terbakar beserta pria dan wanita yang telah menjadi gila itu, dan mereka terbakar hidup-hidup di dalam rumah mereka. 


Sejak itulah Asy-Syarif Al-Habib Hasyim Al-Idrus di kenal sebagai Keramat Betatak.


          Adapun salah Satu cucu Asy-Syarif Al-Habib Hasyim Al-Idrus yang bernama Asy-Syarif Al-Habib Muhamad Effendi bin Asy-Syarif Al-Habib Hasan Badri bin Asy-Syarif Al-Habib Hasyim bin Asy-Syarif Al-Habib Mustafa bin Sultan Asy-Syarif Al-Habib Ali Al-Idrus Raja Sabamban pertama,


           Telah dinobatkan selaku Imam Mursyid salah satu Thariqah Mu’tabarah pada hari Kamis 16 Ramadhan 1423 / 21-11-2002, oleh Rais Am Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah Indonesia yaitu Al-Allamah Al-Arif Billah Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim Bin Yahya, Pekalongan (Jateng



Syarif Ali Zainal Abidin bin Syarif Muhammad Al - Idrus




-------------------

Referensi : 

Syarif Ali Alidrus

https://id.wikipedia.org/wiki/Pangeran_Sjarif_Ali_Al_Aidroes#:~:text=Pada%20saat%20Pangeran%20Syarif%20Ali,Pangeran%20Syarif%20Hamid

Eko Setiadi@102007  : dari kisahbanua.blogspot.com

 "Administrative sub-divisions in Dutch Borneo, ca 1879". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-05-24.

 "Native states (zelfbesturen) in Dutch Borneo, 1900". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-12-11. 

 (Belanda) Veth, Pieter Johannes (1869). Aardrijkskundig en statistisch woordenboek van Nederlandsch Indie: bewerkt naar de jongste en beste berigten. 3. P. N. van Kampen.

 Muhammad Syamsu As, Ulama pembawa Islam di Indonesia dan sekitarnya, Lentera, 1996

 (Belanda) Staatsblad van Nederlandisch Indië, s.n., 1849

 (Belanda) Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde, Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, 1860

 (Belanda) {{cite book|url=http://books.google.co.id/books?id=j8kZAQAAIAAJ&dq=Pangeran%20Tjabief%20Alie%20%2C%20Bin%20Abdal%20Rahman%20Al%20Aidroes&pg=RA1-PA351#v=onepage&q=Pangeran%20Tjabief%20Alie%20,%20Bin%20Abdal%20Rahman%20Al%20Aidroes&f=false |title= Verhandelingen en Berigten Betrekkelijk het Zeewegen, Zeevaartkunde, de Hydrographie, de Koloniën |Volume= 13 |year=1853

 Saleh, Idwar; SEJARAH DAERAH TEMATIS Zaman Kebangkitan Nasional (1900-1942) di Kalimantan Selatan, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Pusat, 1986.

 (Indonesia) Patrice Levang, Ayo ke tanah sabrang: transmigrasi di Indonesia, Kepustakaan Populer Gramedia, 2003 ISBN 979-9100-03-8, 9789799100030

 (Belanda) Institut voor taal-, land- en volkenkunde von Nederlandsch Indië, The Hague, Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië, Bagian 4 M. Nijhoff, 1856

 (Belanda) Verhandelingen en Berigten Betrekkelijk het Zeewegen, Zeevaartkunde, de Hydrographie, de Koloniën, Volume 13, 1853

  "Landsdrukkerij". Regeerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië 1870 (dalam bahasa Belanda). 43. Batavia: Ter Lands-Drukkerij. 1870. hlm. 181.

 "Landsdrukkerij". Regeerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië 1871 (dalam bahasa Belanda). 44. Batavia: Ter Lands-Drukkerij. 1871. hlm. 198.

 Dienst van den Mijnbouw, Netherlands. Departement van Kolonien, Dutch East Indies (1888). Jaarboek van het mijnwezen in Nederlandsch-Indië (dalam bahasa Belanda). 17. J.G. Stemler.

 "Anak Cucu Pangeran Syarif Ali Alaydrus". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-03-05. Diakses tanggal 2009-12-27.

 Dalam naskah hikayat Tutur Candi (Hikajat hal kadjadian negri Bandjermasin) disebut Ampoe Djatmika

 Dalam naskah hikayat Tutur Candi, Lambung Mangkurat memiliki adik bungsu perempuan bernama Déwi Kariang Boengsoe

 Nama isteri tua Lambung Mangkurat disebutkan dalam naskah hikayat Tutur Candi atau Hikayat Banjar Resensi II yaitu Tuan Puteri Bayam Beraja, anak dari Ratu Gagelang

 Nama isteri Ampu Mandastana disebutkan dalam naskah hikayat Tutur Candi atau Hikayat Banjar Resensi II yaitu disebut putri Ratna Déwi, anak dari Ratoe Palembang Sari

 Blume, Carl Ludwig (1843). De indische Bij, tijdschrift ter bevordering van der Kennis der nederlandsche volkplantingen en derzelver belangen, uitgegeven door C. L. Blume: Eerste Deel. Met Platen (2 Bl. IV, 664 S. 1. Leyden: H. W. Hazenberg en Comp. hlm. 321.

 Müller, Georg (1843). Proeve eener geschiedenis van een gedeelte der west-kust van het eiland Borneo. Leyden: H.W. Hazenberg en Comp. hlm. 137.

 Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Lembaga Kebudajaan Indonesia (1862). "Tijdschrift voor Indische taal-, land-, en volkenkunde". 11. Lange & Co.: 2.

 Dalam naskah hikayat Tutur Candi disebut Puteri Ratna Minasih (anak dari Patih Lau), melahirkan anak sulung perempuan bernama Puteri Ratna Sari, berikutnya dua anak laki-laki yaitu Raden Menteri dan Raden Santang

 Hoëvel, Wolter Robert (1861). Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (dalam bahasa Belanda). 52. Ter Lands-drukkerij. hlm. 199.

 Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (1861). "Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (Geschiedkundige aanteekcningen omtrent zuidelijk Borneo)". 23. Ter Lands-drukkerij: 199.

 Hernadi, Edi (2013). Sejarah Nasional Indonesia: Edisi Revisi 2013. Indonesia: Uwais Inspirasi Indonesia. hlm. 204. ISBN 6232271211. ISBN 9786232271210

  Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Lembaga Kebudajaan Indonesia (1862). "Tijdschrift voor Indische taal-, land-, en volkenkunde". 11. Lange & Company: 49.

 Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Lembaga Kebudajaan Indonesia (1857). "Tijdschrift voor Indische taal-, land-, en volkenkunde" (dalam bahasa Belanda). 6. Lange & Co.: 242.

 J. Pijnappel (1854). Beschrijving van het Westelijke gedeelte van de Zuid- en Oosterafdeeling van Borneo (de afdeeling Sampit en de Zuidkust) (dalam bahasa Belanda). 3. hlm. 280.

 "Institut voor taal-, land- en volkenkunde von Nederlandsch Indië, The Hague, Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde von Nederlandsch Indië (Netherlands)". Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië (dalam bahasa Belanda). 3. M. Nijhoff. 1860. hlm. 280.

 Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Lembaga Kebudajaan Indonesia (1862). "Tijdschrift voor Indische taal-, land-, en volkenkunde". 11. Lange & Company: 49.

 Veth, Pieter Johannes (1854). Borneo's wester-afdeeling: geographisch, statistisch, historisch : voorafgegaan door eene algemeene schets des ganschen eilands. 1. Noman en Zoon. hlm. 213.

 Ludovicus Carolus Desiderius van Dijk (1862). "Neêrlands vroegste betrekkingen met Borneo, den Solo-Archipel, Cambodja, Siam en Cochin-China: een nagelaten werk" (dalam bahasa Belanda). J. H. Scheltema: 190.

 Majod, Ali (2004). Hikayat Banjar, Siri karya sastera klasik untuk remaja (dalam bahasa Melayu). Malaysia: Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia. ISBN 9836280146. ISBN 9789836280145

 "Dinasti al-Idrus (atau Al-Aidarus), Silsilah 2". Christopher Buyers. Januari 2002 – September 2008. Diakses tanggal 22 Juli 2020.

 Burhanudin, Jajat (2 Januari 2017). Islam Dalam Arus Sejarah Indonesia. Indonesia: Prenada Media. hlm. 36. ISBN 6024225334. ISBN 9786024225339

 Syamsu As, Muhammad (1999). Ulama pembawa Islam di Indonesia dan sekitarnya; Volume 4 dari Politik Indonesia Kontemporer; Volume 4 dari Seri buku sejarah Islam (edisi ke-2). Indonesia: Lentera. hlm. 88. ISBN 9798880161. ISBN 9789798880162

 Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde (dalam bahasa Belanda). 3. 1855. hlm. 569.

 Radermacher, Jacob Cornelis Matthieu (1826). Beschryving van het eiland Borneo, voor zoo verre het zelve, tot nu toe, bekend is (dalam bahasa Belanda) (edisi ke-3). Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. hlm. 118.

 Radermacher, Jacob Cornelis Matthieu (1780). Beschryving van het eiland Borneo, voor zoo verre het zelve, tot nu toe, bekend is (dalam bahasa Belanda). Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschappen. hlm. 115.

 "Landsdrukkerij". Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indië voor 1860 (dalam bahasa Belanda). 33. Batavia: Ter Lands-Drukkerij. 1860. hlm. 141.

 "Landsdrukkerij". Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indië voor 1861 (dalam bahasa Belanda). 34. Batavia: Ter Lands-Drukkerij. 1861. hlm. 141.

 Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde (dalam bahasa Belanda). Lange & Co. 1862. hlm. 141.

 "Landsdrukkerij". Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indië voor 1858. 31. Batavia: Ter Lands-Drukkerij. 1858. hlm. 134.

 "Dinasti al-Idrus (atau Al-Aidarus), Silsilah 3". Christopher Buyers. Januari 2002 – September 2008. Diakses tanggal 22 Juli 2020.

Keterangan dari assyarif al habib junaid al idrus bin assyarif al habib muhammmad jafri al idrus raudhoh tsibi th. 2007-2017 (kubu),

Sejarah yang tercatat dkeluarga bani Arsyadi dan kesultanan Banjar ,kai ismail dalam pagar,,thn.2018

Kitab Sairussalikin dan kitab kitab sejarah

Catatan dkitab Mujamul Lathif dan famili Habaib yang tersebar dari garis Al huseini

 Tulisan tangan tertulis Abuya Syarif Muhammad Bin Syarif  Abdullah Baseran Al idrus   dalam tulisan arab melayu dan catatan - catatan nasab silsilah keluarga yang dpegang oleh Syarif Muhammad Syahrani Al idrus , dihimpun dan di teliti beliau Semasa hidup nya. 

 https://www.kompasiana.com/jurnalwicaksana/59a279d2a25c5f6801308922/syarif-syahril-alaydrus-dinobatkan-menjadi-raja-kubu-dengan-gelar-tuan-besar-raja-kubu?page=all

  https://www.suarapemredkalbar.com/read/advertorial/29082017/tuan-besar-dan-raja-kubu-resmi-dinobatkan

 https://kalsel.prokal.co/read/news/15807-h-sayid-umar-al-iderus-dinobatkan-jadi-raja-sebamban

 https://infobanua.co.id/2018/06/h-sayid-umar-al-iderus-di-nobatkan-sebagai-raja-sebamban-di-haul-habib-pangeran-syarief-ali-bin-abdurrahman-al-iderus/

 http://web.raex.com/~obsidian/seasiaisl.html#Bandjarmasin

http://algembira.blogspot.com/2008/10/habib-hasyim-alaydrus.html