Sabtu, 10 April 2021

TUAN ABU, PANGLIMA LAKSAMANA PERTAMA KESULTANAN PONTIANAK

Riwayat Hidup  (  1735    - 1814 M )   Usia 79 tahun

SAYYID ABUBAKAR BIN HABIB HUSEIN AL KADRI

MENIKAHI 11 WANITA, ANAK  KETURUNAN  32  ORANG 

By : SAY Qadrie :

 Pustaka Sejarah Kadriah



Panglima Laksamana Kesultanan Melayu


Berdasarkan Data Tua warisan Sayyid Syarif Husein Al Kadri Jamalullail. Nomor buku 763 s/d 770  halaman 336, angka tahun : 1857 M, Koleksi Tulisan Pangeran Bendahara Tua, Syarif Ja far bin Sultan Hamid I Alqadri, dan Koleksi Pribadi keluarga AlQadri Pontianak keturunan Sayyid Abubakar bin Habib Husein Mempawah. 



BIOGRAFI SAYYID ABUBAKAR , 1735 - 1814  M


Sekilas  Riwayat  Hidup Syarif Abubakar bin Habib Husein, 


Gelar : 

Panglima Laksamana Adiwijaya Wiralesmana Mangkunegara, Tuan Abu, Panglime Ribot, Harimau Waqqar, Singa Lautan, Panglima Laksamana Tua, Tuanku Sayyid Abubakar, Pelaut tangguh di perairan Pulau Tujuh, Trengganu, Tanah Melayu dan Nusantara   : 1735 - 1814  M



A. KELAHIRAN, MASA KECIL, REMAJA, DEWASA


1. Asal - usul, Syarif Abubakar bin Habib Husein


*Syarif Abubakar bin Habib Husein bin Ahmad bin Husein bin Mohammad Al Qadri


Beliau adalah putra Habib Husein dari istrinya Nyai Tengah.

 

         Lahir di Matan, pada sekitar tahun : 1735 M, ketika keluarga besar beliau hijrah dari Matan pada : 8 Muharam 1160 H/20 Januari 1747 M. Beliau, Abubakar ini, yang diperkirakan berusia sekitar  12 tahun, ikut bersama rombongan keluarga besar Habib Husein. 

      Sementara abang/kakak beliau, Abdurrahman ( Yang kemudian menjadi Sultan Pontianak ) saat itu berusia 16 tahun lahir 1732 M


    Hal ini disimpulkan karena catatan sejarah menyebutkan:' setelah 2 tahun menetap di Mempawah, Abdurrahman kemudian dinikahkan dengan Utin Chandramidi, Ratu Sultan, putri Opu Daeng Manambon, Raja Mempawah, " mereka menikah sekitar tahun: 1757.M.  Abdurrahman berusia 18 tahun saat menikah. 

Sekitar 14 tahun sebelum membuka hutan Pontianak, pada tahun : 1771.M. 

         Rombongan besar ini hijrah atas permintaan dan undangan Raja Mempawah, Opu Daeng Manambon. Keluarga Habib Husein bin Ahmad kemudian menempati daerah yang dikenal dengan Galah Herang, atau Sejegi, tempat dimana jasad beliau dimakamkan. 



Makam Leluhur Al Qadri - Pontianak
Habib Husein bin Ahmad Al Qadri



2. Masa Kecil, dan Remaja, *Syarif Abubakar bin Habib Husein, 


       Masa kecil Abubakar bin Habib Husein banyak di lalui di negeri Matan, sampai  kemudian hijrah ke Mempawah.  Sebagaimana abang dan kakak - kakak nya, tentu, beliau juga mendapat pendidikan dan pelajaran ilmu dari Abah beliau, Habib Husein yang menguasai berbagai disiplin ilmu, termasuk ilmu pelayaran, yang di peroleh beliau ( Habib Husein ) semasa mengembara sebelum menetap di Matan dulu. 


     Ketika pindah ke Mempawah,:" Abubakar  menginjak masa remaja menjelang dewasa,  bersama saudara - saudaranya,: " Abdurrahman, Muhammad, Ahmad, Ali dan Alwi "( Tuan Bujang),- yang ikut berhijrah,  

     Sebagai putra Mufti di kerajaan Amantubillah Mempawah, tentu saja , Abubakar mendapatkan pendidikan dan pelajaran langsung dari Abah nya, Habib Husein. Berbagai disiplin ilmu yang diajarkan Abah nya kemudian menjadi bekal perjalanan hidup selanjutnya nanti. 


   Dalam sejarah catatan pembuka kota Pontianak, tahun 1771 nanti, nama Abubakar ini disebut ikut serta dengan Abangnya, Abdurrahman, yang kemudian menjadi Sultan di Pontianak dan beliau menjadi Panglima Laksamana Pertama.


Sayangnya,..... 

Setelah membuka hutan, catatan tentang beliau ini sangat terbatas yang dapat ditemukan. 

    Ada cerita dari mulut ke mulut orang tua -tua keturunan ini, bahwa beliau ini bermukim di sekitar daerah yang sekarang di kenal dengan Kampung Mariana Sungai Jawi. Tentu saja saat itu masih berupa hutan rimba.  

     Disebutkan dulunya banyak burung merak disekitar tempat yang sekarang dikenal Gang Merak. Itulah kenapa kemudian beliau di makamkan di Kampung Mariana, Gang Merak, (Bukan di Batulayang ) dulunya itu adalah tanah hutan belantara garapan beliau dan  kompleks pemakaman khusus keluarga beliau dan anak cucu keturunan nya.   


 NAMA ABUBAKAR KETURUNAN HABIB HUSEIN 


 Daftar letak makam keturunan Habib Husein dengan nama Abubakar 


1. Syarif Abubakar bin Habib Husein , Panglima Laksamana I

Makam : Jalan Sidas Kecil Dusun 1 Mariana, belakang hotel Mahkota Pontianak


2. Syarif Abubakar bin Sultan Abdurrahman, Panglima Laksamana II

Makam : Pemakaman tua muslim Tibet Wuhan China 


3. Syarif Abubakar  bin Abdullah, Panglima Laksamana III

Makam :  Banjarmasin Kalsel


4. Syarif Abubakar bin Abdillah, Panglima Laksama IV 

Makam :  Jeranjang Lombok  NTB


5. Syarif Abubakar bin Sultan Usman, Panglima Laksamana V

Makam : Manokwari, Papua


6.  Syarif Abubakar bin Sultan Usman  , Pangeran Cakrabuana

Makam : Pemakaman Tua Layu Sampang  Madura


7.Syarif Abubakar bin Muhammad 

Makam : Sengkubang  Mempawah Kalbar


8. Syarif Abubakar bin Usman bin Jafar, Pangeran Bendahara bin Sultan Hamid I

Makam : Kompleks makam Habib Husein Mempawah


9. Syarif Abubakar bin Husein bin Sultan Abdurrahman

Makam : Gua Seliung Kalbar


10. Syarif Abubakar bin Ahmad bin Habib Husein

Makam : Kutai Kertanegara Kaltim


11. Syarif Abubakar bin Pangeran Bendahara Ja far, bin Sultan Hamid I

Makam : Desa Peniti Dalam, Segedong, Kalbar    

Sumber : Maktab Nan GQ 1857 Al Qadri Pontianak 


Bersatulah Al Qadri,!

Titah Allahyarham DYMM Sultan Syarif Abubakar 
Sultan Pontianak ke .VIII
Anak Cucu Habib Husein Tuan Besar Mempawah
Keturunan Sultan Abdurrahman Pontianak



3. Masa Dewasa, *Syarif Abubakar bin Habib Husein, 


       Abubakar bin Habib Husein, tumbuh besar di Mempawah,  karena abang beliau, Abdurrahman, setelah menikah, sering melakukan pelayaran ke berbagai daerah, Abubakar ini juga ikut bersama saudaranya, melanglang buana di lautan, bersama Nakhoda Daud, orang kepercayaan abang nya di lautan. 


Saat itu, usia beliau, Syarif Abubakar ini , mulai menginjak dewasa


Sejarah mencatat : 


         Pada tahun 1759 Syarif Abdurrahman mengadakan pelayaran ke beberapa tempat seperti ke Pulau Tambelan, Siantan dan Negeri Siak, ketika ia berumur sekitar 20 tahun, dan pada tahun 1765 ke Kerajaan Palembang dan Banjarmasin, ketika ia berumur kurang dari 26 tahun. 


        Di Palembang Sultan kerajaan ini -- yang telah mengenal baik ayah dan mertuanya -- memberinya hadiah berupa : sebuah perahu, 100 pikul timah dan uang 2.000 ringgit.


      Pada tahun 1767  Syarif Abdurrahman Al-Qadrie meninggalkan Mempawah menuju Kerajaan Banjarmasin dan Paser -- sekarang lebih dikenal dengan Kabupaten Paser dengan ibu kota nya Tanah Gerogot -- yang masing-masing terletak di kawasan selatan dan pantai timur Pulau Kalimantan.


       Sekembalinya dari penjelajahannya ke beberapa kawasan disekitar Selat Karimata, Selat Malaka, Laut Natuna, Selat Bangka, Laut Jawa dan Selat Makasar, pada 11 Rabiul Akhir tahun 1185 atau pertengahan 1771,-  orang tua yang sangat dikasihinya, Habib Hussein , meninggal dunia. 




Letung, Jemaja , Anambas KEPPRI sebelah Barat Kalimantan 


4. Mengelana di lautan, dan gelar yang disandang 

    *Syarif Abubakar bin Habib Husein,

 

       Setelah cukup dewasa dan  punya pengalaman, sekitar usia antara : 20 hingga 25 tahun, atau kurang dari itu,  beliau kemudian ditugaskan oleh Opu Daeng Manambon menjadi Pengawal Abdurrahman dan melakukan pelayaran keberbagai negeri, diberi gelar : Mangku Negara Wira Lesmana. 

       Wilayah Pulau Tujuh,  Negeri Sembilan, dan Tanah Melayu : Pulau itu diantaranya, Serasan, Midai, Natuna, Terempa, Siantan,  Bunguran Besar, Sedanau, Tambelan, Ranai, sedangkan wilayah Singapore, Melaka, Trengganu, Johor, Kedah, Kuantan, Pahang, disebut dengan : Tanah Melayu.


##, Gelar Panglima Laksmana, Adiwijaya Wiralesmana Mangkunegara,  


    Gelar Panglima Laksamana ini diperoleh  ketika  Kesultanan  Pontianak ditabalkan pada tahun  1778. pada hari ke 5, setelah Abdurrahman dinobatkan menjadi sultan, Beliau kemudian dilantik oleh saudaranya, Sultan Abdurrahman sebagai Panglima Laksamana Nusantara, dengan wilayah operasional seluruh Nusantara bahkan seluruh dunia. 

Belakangan beliau dikenal dengan "Panglima Laksamana Pertama", atau,Tua.  Dikenal juga dengan nama kecil "Tuan Abu"

     Gelar : "Adiwijaya Wiralesmana Mangkunegara", diberikan oleh Opu Daeng Manambon, karena sebelum kesultanan Pontianak berdiri, beliau sudah aktif dalam politik di Mempawah, termasuk orang kepercayaan istana Amantubillah. 

      Panglima Laksamana menunjukkan kepiawaian beliau di bidang ilmu pelayaran dan kelautan, yang tentu saja di pelajari dari Abah dan Abang beliau, Habib Husein yang mulia, dan Abdurrahman saudara tertua laki - laki nya. 

     Dari beberapa sumber klasik, kami temukan bahwa beliau ini orangnya besar dan tingginya mencapai 180 cm, gagah, kuat, dan berani. Kukunya sengaja diruncingkan yang digunakan sebagai senjata tangan kosong menerkam tenggorokan lawan. Beliau juga bergelar : "Harimau Waqqar " 


##, Gelar Tuanku Encek Panglime Ribot


      Gelar : Tuanku Ncek Panglime Ribot, diperkirakan di berikan oleh anak buah kapal dan  pasukannya yang berasal dari wilayah Tanah Melayu, Trengganu, dan Negeri Sembilan dan mungkin juga orang dari Pulau Tujuh. 


      Panglime Ribot diambil dari keahlian beliau menaklukkan lautan dalam kondisi badai besar ( Ribot , bahasa Melayu ) Kelak gelar ini diwarisi putra beliau "Jamalullail " di Segeram, dengan gelar yang sama : Panglima Ribot .



Penjelasan dari keturunan Syarif Tue
Abdullah bin Yahya Maulana Al Qadri
Oleh Haji Sayyid Syarif Yasin bin Zein Al Qadri
Loloan Bali Negare Jembrana


Gelar : Tuanku Sayyid Abubakar, 


        Kemungkinan di peroleh setelah menikah dengan salah satu wanita yang berasal dari Trengganu, Inche Aminah/ Syarifah Aminah binti Abdullah Alydrus.  Karena negeri- negeri Melayu memanggil Sayyid dengan Tuanku, atau Tengku,  disingkat Tku, yang masih berlaku hingga hari ini. 


Gelar : Harimau Waqqar, 


      Panglima Laksamana I Tuan Abu Syarif Abu Bakar memiliki tubuh yang kekar dan tegap gagah perkasa tingginya mencapai 180 cm, sehingga Oleh Opu Daeng Manambong (Syed Syeich Abu Bakar Adeni Qaulan Jajirah memanggil Syarif Abu Bakar dengan Panggilan ( Panglima Laksamana Adiwijaya Wirelesmana Mangkunegara) yang di harapkan nantinya dapat membantu perjuangan abangnya Sultan Syarif Abdurrahman Al-Kadrie dalam mendirikan kesultanan Pontianak.,

 

      Maka Sejak Itu beliau melatih dirinya menjadi seorang Panglima yang gagah berani dalam Setiap medan pertempuran baik laut maupun di daratan . Untuk memperkuat benteng dan untuk dirinya sendiri.

 Beliiau juga memelihara kukunya hingga panjang hampir setengah centi,

 

Kemudian kuku - kuku tersebut beliau runcingkan

 

      Dengan tujuan apabila tidak ada senjata atau tangan kosong beliau dapat melawan musuhnya dengan cakaran kuku Maut nya., hal ini beliau lakukan Karena hampir setiap pelayaran selalu di cegat oleh bajak laut maupun musuh - musuh yang akan menyerang abang nya maupun dirinya dan pengawal Sultan

 

""Sehingga beliau di sebut Panglima Harimau Wakkar"" dari pulau Borneo.,      


       Merujuk kata Harimau, mahluk buas yang kuat, beliau di anugerahi gelar ini, karena keberanian membela hak nya dan membela kebenaran, baik di darat atau di lautan. 

      Ada riwayat pitutur dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi dalam keluarga ini disebutkan, ketika terjadi peperangan maka beliau yang masuk ke dalam moncong meriam dengan senjata ditangan,- kemudian di tembakkan ke arah musuh nya.  

 

Syarif Tue / Abdullah bin Yahya Maulana Al Qadri - Bali
merupakan cucu keturunan beliau
dari putra beliau bernama Yusuf bin Abubakar




PERNIKAHAN DAN KELUARGA 

5. *Syarif Abubakar bin Habib Husein:  Menikah pertama sekitar 1755 - 1760 M di usia antara 20 atau 25 tahun. Lahir tahun 1735 M di Matan.  


 Keluarga Anak dan Istri serta Keturunan beliau:  istri 11, anak 32


        *Syarif Abubakar bin Habib Husein, setelah melanglang lautan, kemudian menikahi 11 wanita masing-masing :


 I. Aluyah Sambe, dinikahi sekitar tahun 1767 M, 

    Dikaruniai keturunan 6 anak

I.1. Sayyid Abdullah, bin Abubakar  lahir :  1769 M, wafat 1856 M, Makam di Lombok

I.2. Sayyid Husein, bin Abubakar  lahir di Lombok   : 1772 , Kembar  Abdillah.  Makam di Pantai Lombok

I.3. Sayyid Abdillah, bin Abubakar  Lahir  di Lombok  1772 , Kembar Husein . Makam di Pantai Lombok 

I.4. Sayyid Jamaluddien , bin Abubakar  lahir  1779 M, Wafat   1850 M 

I.5. Sayyid Mohdar, bin Abubakar  Lahir  1782, Wafat  1860 , Makam sekitar kraton Sambas

I.6. Sayyid Najarudien bin Abubakar   ( lahir karena Nazar setelah wafatnya Abdurrahman Bayi , dari ibu lain, : Inche Salmah)


II. Inche Aminah / Syarifah Aminah binti  Sayyid Abdullah Alidroos Wanita yang berasal dari Trengganu, yang saat  itu berada  di Kalsel pada 1772 M, dinikahi dan  dikaruniai 6 anak :

II.1. Sayyid Ibrahim, bin Abubakar   lahir  1773, Wafat 1857, Makam  Kpg. Segeram, Natuna

II.2. Sayyid Yusuf , bin Abubakar   lahir   1776 , Wafat  1867, Makam Natuna

II.3. Sayyid Jamalullail, bin Abubakar    lahir 1778 , Wafat  1869, Makam Kpg.Segeram, Natuna

II.4. Sayyid ALI Pertama  bin Abubakar   : ( makam TPU Sungai Bambu, Tanjung Priok  ) 

II.5. Sayyid Abdurrahman, bin Abubakar   lahir  1781 , Wafat 1872, Makam Kpg. Segeram,Natuna

II.6. Sayyid Maulana Malik  bin Abubakar  lahir  1783, Wafat   1871, Makam Mbah Priok Batavia 


III.Inche Salmah, dikaruniai  5 keturunan : 

III.1. Sayyid Abunijam, bin Abubakar  Lahir 1776, Wafat 1859, Makam tua kandangan di Aceh

III.2. Syarifah Fathimah binti Abubakar   ( Pr )

II.3. Sayyid Abdurrahman binti Abubakar   ( Wafat Bayi ), makam Mariana

III.4. Sayyid Hasan, bin Abubaka   lahir  1774, Wafat  1860, Makam  Jln. Taman Sri Kuncoro.III. No.28. Kalibanteng Kulon Semarang Barat Jawa Tengah  

III. 5. Syarifah Aishah  binti Abubakar  ( Pr )


IV. Dayang Kesumbi, Sintang, keturunan  : 

1. Sayyid Ahmad bin Abubakar  

2.Syarifah  Laila binti Abubakar  

3. Sayyid Hamid bin Abubakar  

4. Syarifah Salmah binti Abubakar  


V. Saodah  ( dari Madura ) Sumenep,

1. Sayyid Wahidin   bin Abubakar    

2. Sayyid Syamsudin bin Abubakar  


VI. Kristina ( Minah ) Papua, keturunan : 

1. Sayyid  Al Amanah bin Abubakar  

2. Sayyid Samanhudi bin Abubakar  

3. Syarifah Rukayah binti Abubakar  


VII. Dayang Cut Maidah, Palembang , keturunan :  

1. Sayyid Tengku  Burhanuddin  bin Abubakar  

2. Sayyid Tengku Rahmadi bin Abubakar  

3. Syarifah Cut Salmah Munawarah  binti  Abubakar  


VIII. Saidah , Kapuas Hulu, tidak berketurunan


IX. Dewi Asmairah, keturunan :  

IX.1.  Sayyid Muhammad Jamalullail  bin Abubakar  


X. Nurmaini, wanita Singapore, tidak berketurunan, 


XI. Maria, Keturunan Dayak mualaf,  istri terakhir di Pontianak, keturunan : 

XI.1. Syarif Ali bin Abubakar , makam di Sei Purun

XI.2. Syarif Alwi bin Abubakar, selisih 20 tahun  usia dengan Ibrahim Segeram. Makam di Mariana dekat dengan Abah nya, : Tuan Abu, Sayyid Abubakar


 Dengan demikian beliau meninggalkan  32 anak keturunan hingga hari ini,


  250 tahun yang lalu, keturunan pertama Tuan Abu sudah lahir ke bumi.

     Yang pasti beliau memiliki banyak keturunan yang masih hidup hingga hari ini.  Saat  ini keturunan terpanjang mencapai 10 generasi, sementara terpendek mencapai 5- 6 generasi dari  Tuan  Abu, Syarif Abubakar Panglima Laksmana ini. 


Keterangan Sumber : 


     Keturunan lengkap Sayyid Abubakar Panglima Laksmana Pertama, bin Sayyid Husein Tuan Besar Mempawah, dari semua istri beliau. Berdasarkan catatan Pangeran Bendahara Syarif Ja Far bin Sultan Hamid.I. Kode Dokumen : NanGq 1857 M, Nomor : 36/763, Halaman : 327 s/d 330 berangka tahun 1857M. Tebal 600 halaman, huruf arab, bahasa arab Melayu

     Sayyid Abubakar Wafat pada tahun 1814 M, Usia 79 tahun, dimakamkan di Jalan Sidas Kecil, Dusun,I. Kampung Maria Pontianak ( nama kampung ini diambil dari nama istri beliau setelah membuka hutannya,  sementara parit batas dinamai :  Sungai Jawei ), dulu banyak ditemukan burung merak disini, sehingga sekarang dikenal dengan Gang Merak . 

     Dimasa tua nya beliau sempat tinggal di Segeram Natuna, selama 10 tahun, bersama  istri dan  anaknya, : Ibrahim, Abdurrahman, Yusuf dan Jamalullail, yang makam nya ditemukan di Segeram. Dikenal sebagai makam Panglima, Makam keramat 7 

    Beliau juga sempat berkunjung ke Sabamban, menengok cucunya  

    Karena salah satu putranya bernama : Sayyid  Ibrahim, menikahi Syarifah Aminah binti Pangeran Syarif Ali Alidrus  dan mendapat cucu bernama : Sayyid Sirajudien Syah bin Sayyid Ibrahim. Makam nya ditemukan di perbatasan Kalsel - Kalteng.

Sayyid Sirajudien syah kemudian menikahi Syarifah Nuswainah binti Syarif Ali Alidrus.   

     Beliau ini, : Sayyid Sirajudien Syah bergelar " Pangeran Sabamban"  menikahi Syarifah Nuswainah , ( cucu Pangeran Syarif Ali Sabamban )  Keturunan ini  ada di Babel sekarang. 

      Setelah mulai uzur kemudian menetap di Pontianak, sekitar Kampung Mariana, hingga wafatnya. 4 anaknya, istri kedua,: Syarifah Aminah binti Abdullah Alidros, cucu, dan banyak kaum kerabatnya menetap hingga wafat dan dimakamkan di Segeram Natuna


        Dokumen terbatas Kesultanan Pontianak.  Tidak dibagikan. Hanya untuk diakses kaum kerabat Al Qadri yang ingin meluruskan Nasabnya dan percaya kepada kerabatnya sendiri.  



Keindahan Kota Pulau Sedanau


B. Wafat nya Habib Husein bin Ahmad di Mempawah,- 19 Mac 1771 


          Habib Husein bin Ahmad, wafat pada pukul 2.00 petang,  2 Zulhijjah 1184 H/ atau, 19 Mac 1771 dalam usia 64 tahun.  Beliau menutup mata di Mempawah, dan dimakamkan di Desa Sejegi, Mempawah Hilir. Beliau dikenal dengan : 

          Tuan Besar Mempawah. 


         Wafat nya Ayahanda yang sangat di kasihi dan dihormati putra - putrinya ini, menyebabkan semua keluarga besar berkumpul di satu titik, yaitu di Mempawah. 


        Setelah menyempurnakan jenazah dan memakamkan jasad beliau di Sejegi, Mempawah Hilir, keluarga ini kemudian fokus untuk melaksanakan wasiat Abah mereka, mencari tempat hunian baru untuk keluarga besar mereka, dan anak cucu keturunan nya nanti. 


       Baru setelah  6 bulan kemudian, pada sekitar Oktober 1771.M, 

     Ekspedisi mencari pemukiman baru di laksanakan, dengan berlayar ke arah Selatan dari kota Mempawah, menyusuri laut dan pantai Borneo. Mereka sempat masuk di Sungai Peniti, dan sholat Dzohor di Tanjung Dzohor. 


         Mereka juga singgah di Kelapa Tinggi Segedong, baru kemudian melanjutkan perjalanan . 


Allahyarham Sayyid  Hasan , bin Abdullah,  
bin Abdul Latif,  bin Yahya Maulana Al Qadry , 
bin Yusuf,  bin Abubakar,  bin Habib Husein Tuan Besar Mempawah
Bersama Sayyid  Hud bin Muhammad, 
Keturunan Yahya bin Yusuf  bin Sayyid Abubakar



MENCARI TEMPAT HUNIAN BARU 


1. Wasiat untuk mencari tempat hunian baru


        Sebagaimana sejarah mencatat, bahwa wasiat Habib Husein adalah:", agar keturunannya mencari tempat bermukim sendiri, dan mengembangkan wilayah baru, untuk keturunan dan anak cucu beliau nanti ". 


          Setelah beberapa waktu wafat nya  beliau, wasiat ini kemudian di laksanakan oleh keluarga besar mereka, anak cucu Habib Husein, yang melakukan ekspedisi, mencari tempat pemukiman baru. 


      Rombongan besar ini menyertakan semua keluarga besar mereka yang tadinya menetap di Mempawah untuk mencari tempat hunian baru yang belum diketahui tempat dan letaknya. 


      Waktu itu Borneo masih berupa hutan lebat dengan sungai yang masih mengalir deras belum adanya sedimen endapan pendangkalan seperti sekarang. Pohon kayu hutan tropis yang besarnya 3x pelukan orang dewasa. Hutan tropis tadah hujan yang kerapatannya mendekati kerimbunan bumi amazon. 


Hijau subur hijau rimbun yang menyejukan mata. 

         Rimbun pepohonan dengan dahan dan daun yang sanggup menjadi peneduh dari sinar matahari langsung pada siang hari. Borneo dihuni oleh puluhan ribu satwa langka dunia, ratusan ribu jenis burung yang tak ditemukan di belahan bumi manapun. 


        Kekayaan ikan dan udang di dasar sungai nya. Yang cukup untuk menghidupi penduduknya dari profesi sebagai pemancing saja. Udang galah adalah lobster sungai yang sangat bergizi tinggi, yang hidup di perairan air tawar pulau Borneo. 


Kawasan hutan Pontianak
sebelum menjadi Kota
ilustrasi



MEMBUKA KOTA PONTIANAK 


2. Abubakar bin Habib Husein, 

     Ikut  Rombongan ekspedisi mencari wilayah baru


Pada pukul 14.00 ,  9 Rajab tahun 1185 H, 

         Atau  sekitar  Oktober , 1771 M,

     Pangeran Abdurrahman Al-Qadrie berangkat bersama seluruh keluarganya menuju ke pemukiman baru yang belum mereka ketahui dalam satu konvoi besar yang terdiri dari 2 kapal besar , dan 14 kapal kecil beserta dengan awak kapal nya lengkap dengan peralatan tidur, makanan, minuman untuk dua bulan. 


      2 Saudara laki-lakinya --  *Syarif Abubakar dan *Syarif Alwi Tuan Bujang  ikut dalam rombongan ini. Sementara : 

     *Syarif Muhammad dan ( *Syarif Ali sudah merantau ke Malaysia. Syarif Ali kemudian diperkirakan menetap di Brunai, apakah beliau yang dikenal sebagai Syarif Ali Al Barkat, Sultan Brunei , wafat pada tahun 1432 M itu? Tapi tahun dan masa nya tidak se zaman ? )

       Dimana Keturunan dan makam Syarif Ali bin Habib Husein Al Kadri, masih kami telusuri  hingga saat ini, 2022 

     Sedangkan *Syarif Ahmad merantau  ke pulau Jawa , kelak dikenal dengan Pangeran Giri dan menikah di kerajaan Sadurangas, Pasir Blengkong, Kalimantan Timur, Sementara *Syarif Ahmad Bungsu, menetap di daerah  pesisir utara  Kalimantan Barat. 


       Rombongan mereka meninggalkan Mempawah mencari pusat pemukiman baru, dan Syarif Abdurrahman ditunjuk sebagai kepala rombongan besar itu  pada tahun  1771 M, sekitar bulan  Oktober. 



3. *Syarif Abubakar bin Habib Husein, ikut Membuka Hutan Pontianak


23 Oktober 1771 M :

     Pada subuh hari Rabu tanggal 14 Rajab 1185.H  bertepatan dengan 23 Oktober 1771 M  rombongan Pangeran Syarif Abdurrahman Al-Qadrie memasuki kawasan perairan di pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak .

    Pada sekitar jam , 07.00 pagi, rombongan mendarat di persimpangan tiga Sungai kapuas Kecil, Sungai Landak dan Sungai Kapuas Besar itu. Mereka memulai merimba hutan di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Mesjid Jami Sultan Abdurrahman Pontianak. 


       Pada pagi hari Rabu itu juga, rombongan itu mendarat pada salah satu kawasan tepi Sungai Kapuas tidak jauh dari muara Sungai Landak. Mereka mulai menebang dan membersihkan pohon-pohon serta mendirikan surau yang sekarang menjadi Mesjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie. 


          Kemudian Abdurrahman dan rombonganya mulai mempersiapkan tempat pemukiman ( bangsal darurat ) yang letaknya menjorok ke darat sekitar 800 meter dari surau tersebut. Pemukiman itulah kemudian menjadi Istana Kesultanan Qadriah Pontianak seperti sekarang ini 


Keturunan 
Sayyid Syarif Yahya Maulana Al Qadri,  
bin Yusuf bin Abubakar bin Habib Husein




4. Penobatan Sultan Abdurrahman dan Pelantikan Panglima Laksamana


Setelah sekitar 7 tahun, 

  Pada tahun : 1778 M (1192 H)  tanggal 18 Syaban hari Senin, setelah menaklukkan Sanggau, dan Tayan, dengan dihadiri oleh raja-raja kerajaan Landak, Simpang, Matan, Sukadana dan Mempawah, Sultan Riau Raja Haji Fisabilillah,Yang Dipertuan Muda Riau,:  menobatkan Syarif Abdurrachman Alkadrie sebagai sultan (pertama) di kesultanan Pontianak.

   Dalam semua  peperangan diatas, Sayyid Abubakar ikut aktif membela saudaranya, karena beliau adalah :

       "Panglima Perangnya Kesultanan Pontianak"

      Sampai kemudian Abdurrahman diangkat menjadi Sultan Pertama Kesultanan dari Dynasti Al Kadri/Al Qadry di Pontianak ini, bergelar : 

     *Duli Yang Maha Mulia Tuanku  Sultan Sayyid Syarif Abdurrahman Nur Alam Kahar, Ibni As Sayyid Syarif Al Habib Husein Al Qadri, Mufti Istana Amantubillah Tuan Besar Mempawah* Dan  Sayyid Abubakar dilantik saudaranya menjadi " Panglima  Laksamana Nusantara Pertama, dikenal sebagai Laksamana Tua.



MUNDUR DARI KESULTANAN : 1779  M


5. *Syarif Abubakar bin Habib Husein, Melanjutkan tugas ber da"wah 


      Setelah menyampaikan permintaan PENSIUN DINI kepada Sultan.,  Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar bin Habeb Husein Al-Kadri Jamalulai., beliau mulai membuka Hutan., Hutan yang beliau buka saat itu berada pertengahan antara sungai Kapuas yang sudah banyak di lalui pelayaran dari pedagang - pedagang yang masuk dari berbagai negeri (sekarang menjadi Pelabuhan Pontianak)


     Di daerah aliran sungai tanpa nama., yang kemudian oleh Panglima Laksamana I Syarif Abu Bakar bin Habib Husein Al-Kadri Jamalullail., diberi dengan nama aliran "Sungai Jawei""


    Nama ini beliau ambil dari nama istri Sultan Pontianak yang Berkebangsaan belanda Lia Van Heden binti Van Heden Werjawei (Jawei ). ( Sekarang menjadi Sungai Jawi) dengan maksud untuk mengenang sumber pangkal melemahnya Kesultanan Pontianak kerena membuat perjanjian dengan Belanda, 


1779 M (1193 H) 

          Residen Rembang Willem Adrian Palm mewakili VOC, untuk kali pertamanya menginjakkan kaki di kesultanan Pontianak. Dilangsungkan kontrak pertama antara VOC dengan kesultanan Pontianak dan Sanggau. 


Sejak tanggal 5 Juli, 1779.M, 

     Kesultanan Pontianak beserta negeri taklukkan nya (Sanggau dan Tayan) berada di bawah kekuasaan VOC. Langkah politis berkompromi dengan Belanda ini mungkin strategy Sultan Abdurrahman untuk mempertahankan eksistensi  kesultanan yang baru saja di bangunnya itu. 

      Sebab, jika beliau menolak dan kemudian berkonplik dengan Belanda lebih tepatnya VOC, maka bisa jadi kesultanan yang baru seumur jagung itu, musnah dan lenyap seketika. 


1784 M (1198 H) 

    Dibantu tentara kompeni Belanda, Sultan Syarif Abdurrachman Alkadrie menyerang kerajaan Sukadana yang dikuasai Kesultanan Riau.


1786 M (1200 H) 

   Kesultanan Pontianak dengan bantuan Belanda menyerang kerajaan Mempawah. Perang saudara berkecamuk hampir delapan bulan, di mana akhir nya Mempawah dapat ditundukkan. Panembahan Mempawah, Adijaya Kusuma tak sudi negeri nya diinjak Kolonial Belanda kemudian meninggalkan negeri Mempawah. 


        Dengan persetujuan VOC,:  Syarif Kasim, salah seorang putera Sultan Syarif Abdurrachman, dinobatkan sebagai Panembahan Mempawah. Belum berapa lama Syarif Kasim menduduki tahta kekuasaan, Belanda menyodorkan sebuah kontrak kepadanya.


1791 M (1206 H) 

      Selama kurang lebih delapan bulan, terjadi peperangan antara kesultanan Pontianak dengan Sambas.


1792 sampai 1808 M 

    Sultan Syarif Abdurrachman Alkadrie meneruskan menata pemerintahan kesultanan nya bersamaan dengan tindakan Belanda membangun di sebelah barat sungai kapuas. dikenal dengan tanah seribu. Sekarang Kelurahan Mariana, 


1808 M (1223 H) Hari sabtu tanggal 1 Muharram selepas zuhur, dalam usia 78 tahun, Sultan Syarif Abdurrachman Alkadrie berpulang ke Hariban llahi dan dimakamkan di Batulayang. ( lahir 1730 - wafat 1808 , usia  78 tahun )  


Sejarah masuknya Islam 
di Jembrana - Bali


     Hal ini juga menjelaskan tentang makam Abubakar yang ada di Batulayang sebagaimana disebutkan oleh sdr. Usman Said, dkk , jelas bukan makam Abubakar bin Habib Husein, karena beliau saat itu sudah dewasa  dan bukan lagi anak kecil, tentu saja beliau hidup dan bahu membahu bersama kakak nya  Sultan Abdurrahman. Bahkan beliau merupakan "Panglima Perang" 


        Pandangan bahwa Abubakar bin Habib Husein ini wafat di usia kecil dan tidak meninggalkan keturunan, tidak bisa diterima karena beliau ikut pada saat membuka hutan 1771 M, dan keturunannya sangat banyak hingga hari ini.  


 Keturunan ini dikenal dengan sebutan Keturunan Tua. 


      Karena tua secara urutan generasi dan memang sebagian tua karena usia hidup yang panjang. Rata- rata masa hidup diatas 70 tahun. Bahkan salah satu cucunya, Syarif Abdullah bin Yahya/ Syarif Tue, menurut catatan sejarawan Bali, I Wayan Reken, beliau wafat di usia 104 tahun. ( masih kita cari pembanding sejarahnya ) Bisa jadi, keturunan ini hidup se zaman, 4 generasi, : Anak, Ayah, Kakek, dan kakek Buyut. ( Abah , Datuk, dan Moyang )  



Pulau Tarempa


#, 30 tahun ,  masa kekuasaan Sultan Abdurrahman, antara : 1778 M - 1808 M


           Nampaknya 30 tahun masa kekuasaan Sultan Pontianak Pertama, : 

      Syarif Abubakar bin Habib Husein, saudara Sultan ini, tetap melanjutkan kegiatan perdagangan dan mengunjungi negeri - negeri bagian Barat Pulau Kalimantan, bahkan juga mungkin ke kawasan Timur Kalimantan. 


       Karena  ditunjuk sebagai Duta Kesultanan, yang bertugas mengadakan hubungan diplomasi ke Kerajaan yang ada di Nusantara saat itu, dalam jabatan Panglima Laksmana, guna menjalin persahabatan  antara Kesultanan, dimasa awal Kesultanan berdiri.  


     Itulah kenapa salah satu putra beliau, **Syarif Yusuf bin Abubakar, mungkin karena ikut berlayar, akhirnya menetap dan menikah di kepulauan Timur Indonesia, dalam catatan ini makam beliau disebutkan di Bali.  ( Maktab Nan Gq 1857 )  


      Belum jelas siapa yang pertama masuk Kuala Perancak itu, : 

      Apakah Yusuf, atau Yahya, atau  Abdullah ? 


    Keturunan inilah yang kemudian menetap di Loloan, Bali Barat, -- ( bukan keturunan Sayyid Abubakar bin Sultan Abdurrahman, Panglima Laksamana Muda, II, yang dikirim ke Tibet itu )--  mereka dengan menggunakan 4  armada kapal perang, memasuki Kuala Perancak, menyusuri Sungai Ijo Gading, yang karena banyak belokan, mungkin pelihat arah, yang biasanya ditempatkan di atas menara kapal, meneriakkan : 

" kelokan, kelokan, atau , belokan , belokan, keloan, keloan!" dari bahasa Melayu. 


       Lama kelamaan, kata ini berubah menjadi "Loloan,"  Tempat dimana makam cucu dari Ki Sauki Yusuf ini ditemukan, dikenal dengan : ****Syarif Abdullah bin ***Yahya Maulana Al Qadri, atau Syarif Tue dikebumikan. 

       Keluarga Al Kadri diperkirakan masuk ke Loloan pada sekitar abad ke 18 pertengahan, mendarat dan kemudian menetap disana. 


       Hingga hari ini, masyarakat Loloan menggunakan bahasa Melayu mirip dengan bahasa Melayu Pontianak, dengan campuran Melayu Malaysia, dan logat serta lahja Bali. Sampai saat ini masih dapat ditemukan keturunan Melayu Trengganu dan orang Melayu dari sekitar Pulau Tujuh, Negri Sembilan, yang hidup di Loloan. 

       Mungkin mereka yang dulunya ikut bersama dalam rombongan Syarif Abdullah yang berlayar dengan membawa 4 armada kapal perang itu.



C. Wafat nya *Syarif Abubakar bin Habib Husein, makam di Pontianak


          Syarif Abubakar bin Habib Husein, Panglima Laksamana Tua, lahir di Matan :  1735 M - Wafat  Pontianak.  Kamis, :  27 JULI  1814 M. dalam usia : 79 tahun. Menikahi 10 perempuan, salah satunya bernama : Syarifah Aminah binti Abdullah  Alydrus, dari Trengganu, bisa jadi berasal dari pecahan Kubu, Dipanggil ( TOK ABU KRAMAT ), keturunan ini banyak menggunakan panggilan "WAN" 


1. **Syarif Ibrahim bin Abubakar,  Gelar : Panglima Paku Alam, Segeram


       Cucu Habib Husein Tuan Besar Mempawah, ( TOK AEM ),  ( anak cucu Ibrahim ditemukan  di Pontianak, daerah Siantan. Kebanyakan anak perempuanya. Sedangkan keturunan anak lelaki ditemukan di Sei Pinyuh, Mempawah, Singkawang, Ngabang, Sanggau, Surabaya, Malang, Kuching, dan Pulau Tujuh , Kalimantan Tengah, Selatan, Timur dsk )  


   Salah satu putra beliau bernama "Syarif Muhammad bin Ibrahim", dimakamkan di Desa Sungai Purun Besar , km 36  dari kota Pontianak menuju  Sungai Pinyuh.  Keturunan ini masih berlanjut hingga saat ini, 2022. 


  Keturunan ini juga ditemukan di pulau tujuh, Ranai, Tarempa, Midai, Serasan, Siantan, hingga   Riau Kepulauan. Diantaranya Ketururan dari :  

        Sayyid Mustafa yang menikahi  Dayang Masgi . 


2. **Syarif  Jamalullail bin Abubakar  Gelar Panglima Ribot, Segeram 


       Cucu Habib Husein Tuan Besar Mempawah,  Beliau hidup sampai tua, karena keluarga ini mengenal beliau dengan panggilan : ( TOK LIL ), Datuk adalah panggilan untuk orang yang sangat tua, baik secara usia, maupun kepangkatan urutan generasi.   ( Belum diketahui keturunan beliau ini )


3. **Syarif Yusuf bin Abubakar,  Ki Sauki Yusuf, 


      Cucu Habib Husein Tuan Besar Mempawah ( anak cucu beliau ini " Ki Sauki Yusuf",   keturunan ini ditemukan di Ranai, Serasan, Sedanau, Midai, Sei Pinyuh, Mempawah, dsk  serta di daerah lain.  

       Yang terkenal diantaranya : ****Syarif Abdullah bin ***Yahya Maulana Al Qadry bin **Yusuf bin *Abubakar bin Habib Husein Tuan Besar Mempawah / Syarif Tue,  di Bali. Dalam sejarah Loloan, beliau disebutkan berusia sangat panjang, hingga mencapai : 104 tahun usia hidup nya. 


4. Syarif Abdullah bin  Abubakar, :


      Makam di Lombok, keturunan ini yang banyak ditemukan di  Lombok.  Termasuk "Panglima Laksamana IV, Sayyid Abubakar bin Abdillah tahun 1855 M", bin Abubakar, bin Abdullah ini. Makam beliau, Panglima Laksamana IV,  ditemukan di Jeranjang, sebagian mengatakan di Sekar Bela, Mataram.


5. Syarif Abdurrahman bin Abubakar,  makam Segeram, Natuna

     Gelar : Panglima Karang  Tanjung 


        Susunan ini tidak menunjukkan urutan kelahiran, , : **Ibrahim , **Jamalullail, dan **Yusuf  serta Abdullah ini. (Selengkapnya kembali ke atas )


Nampaknya keluarga ini memang agak sedikit berbeda, dan bervariasi.  


        Jika para sejarawan mendefinisikan ukuran satu generasi itu sekitar 25 tahun, maka, khusus keluarga ini terlihat bentang generasinya bervariasi antara : 18 - 20 tahun pada puak di Bali misalnya, 

         Dan 30 - hingga 40 tahun, pada puak keluarga di Kalimantan Barat dan Pulau Tujuh, - untuk satu generasi mereka.  Sehingga hari ini terjadi selisih , 2, 3, bahkan 4  generasi dari satu kakek moyang yang sama, yaitu : 

            Sayyid Abubakar bin Habib Husein Al Qadri ini.   

           Selain itu karena usia hidup yang panjang, menyebabkan ada generasi yang pendek dari yang lain nya. Kemungkinan juga generasi ini ada yang hidup sezaman antara : Anak, Ayah, kakek, dan Kakek Buyut, 4 generasi sezaman. 


Bersama Harimau Tua Loloan
Haji Sayyid Syarif  Yasin bin Zain Al Qadry, 76 tahun
Bali, 05 April 2021


D.  Sebaran anak cucu *Syarif Abubakar bin Habib Husein Mempawah, 


1. **Syarif  Yusuf bin Abubakar, :  Ki Sauki Yusuf 

Cucu Habib Husein Tuan Besar Mempawah ini, : 


          Data yang ditemukan, sehubungan beliau ini, berdasarkan keterangan dari anak cucu keturunan beliau langsung di Ranai, yang pernah menjabat sebagai Camat Ranai dua Periode, bernama  : ******Syarif Abdurrahman bin *****Mahmud bin ****Hasan bin ***Muhammad bin **Yusuf  bin *Abubakar bin Habib Husein Tuan Besar Mempawah Al-Qadry:  yang menyebutkan bahwa makam beliau ( Ki Sauki atau Saugi Yusuf ) ada disana. 


      Dan di Pulau Serasan, Sedanau, banyak kaum kerabat beliau ( Syarif Abdurrahman bin Mahmud ini ) yang masih hidup dan menetap di Pulau Tujuh itu. Keluarga ini huga ditemukan di Sarawak, Malaysia Timur bernama Wan Dahlan bin Tku Hamid yang menetap di Kota Samarahan.  


           Adanya  keturunan Syarif Yusuf ini,  juga membuktikan bahwa beliau pernah hidup dan mengikuti jalan nenek moyang nya menyebarkan Dawah agama 

          Pulau Tujuh , adalah gugusan pulau kecil yang sekarang masuk Provinsi Riau Kepulauan. Termasuk , Pulau Serasan, Midai, Tarempa, Tambelan, Sedanau, Letung, Natuna, Anambas, Siantan, Bunguran Besar, Ranai, dll.  

         Makam cucu beliau, ditemukan di  Loloan, Bali Barat, dikenal dengan : Syarif Abdullah bin Yahya Maulana Al Qadry/ Syarif  Tue Loloan. 



2. **Syarif Ibrahim bin Abubakar , Panglima Paku Alam, Segeram


    Beliau ini kelihatannya sempat menikah di Kalimantan Barat, karena anak cucu nya banyak ditemukan di Pontianak, Mempawah, Sei Purun besar, Sungai Pinyuh, Sei Bakau, meski ada juga yang menyebar keluar semisal Kuching Sarawak, Paloh, dan mungkin ikut paman nya ke kepulauan sana. 

       Makam beliau ditemukan di Desa  Segeram, Natuna, Pulau Tujuh

      Banyak anak cucu keturunan ini hingga saat ini. Baik dari anak cucu beliau laki - laki dan anak cucu beliau dari anak perempuan nya.  


      Termasuk keturunan Sayyid Mustafa Serasan, berasal dari keturunan Panglima Paku Alam Segeram ini.



Silaturrahmi dengan keturunan 
Cucu Habib Husein Tuan Besar Mempawah, 
Keluarga Syarif  Abdullah bin Yahya Maulana Al Qadry 
/Syarif Tue Loloan.

Bali, 05 April 2021 


3. **Syarif Jamalullail bin Abubakar, makam di Segeram Natuna


    Beliau ini juga dimakamkan di Segeram, satu hal kami belum menemukan catatan tentang keturunan beliau ini. Hanya saja generasi terdahulu, menyebut beliau dengan : TOK LIL, artinya Datuk Lil, yang menisbatkan usia tua. 

      Dalam catatan kami, nama   Jamalullail, ada 3 nama : 1. Jamalullail  Bin Tuan Abu, 2. Muhammad Jamalullail  bin Tuan Abu, dan 3. Jamalulail bin Ibrahim, cucu. 

       Tok adalah bahasa  Melayu Pontianak, untuk panggilan Datuk.  


4. ***Syarif Yahya Maulana Al Qadry  bin Yusuf bin  Abubakar, makam di Kalimantan Barat


       Beliau adalah ayah dari Syarif Abdullah, Syarif Tue Loloan,  ditemukan bahwa beliau ini bergelar : Maulana Al Qadry, jadi lengkapnya : Yahya Maulana Al Qadry bin Yusuf, bin Abubakar bin  Habib Husein. 

        Kemungkinan besar beliau adalah anak pertama dari Syarif Yusuf. 


          Beliau menurunkan anak cucu yang banyak. 

      Tersebar di Kalimantan Barat, Pulau Tujuh, Malaysia Barat, Malaysia Timur, dan yang sangat terkenal yaitu di Bali, : Syarif Abdullah bin Yahya Maulana Al Qadry, yang makam nya ditemukan di Loloan, Bali Barat, di wilayah kota Negare, Kabupaten Jembrana. Bali. 

        Makam beliau ( Yahya Maulana AlQadri ini ) diperkirakan di Kalimantan Barat. Masih diadakan penelitian lanjut, mengenai letak pastinya. 

Satu hal bahwa beliau ini menurunkan banyak keturunan hingga hari ini, 2020.M.





Penjelasan kebenaran Makam Tua Mariana. Pontianak.
 Oleh Imam Naqib Qabilah Azmatkhan

 
Tanya : 

       Berdasarkan data dari beberapa sumber, ini adalah makam Abubakar bin Habib Husein bin Ahmad AlQadri Mohon pencerahana Buya mengenai kebenaran dan keabsahan makam ini. Afuan🙏🤝

Jawab :

 [11:20, 4/5/2021] Faroji Naqib Azmatkan: Makam ini Shahih adalah Makam Habib Abu Bakar bin Husain bin Ahmad Alqadri

[11:21, 4/5/2021] Aku :  Alhamdulillah  Syukron katsir Buya🙏🤝

Tanya : 

[11:23, 4/5/2021] :  Menurut catatan dari suatu lembaga mereka mengatakan beliau mastur, tidak punya keturunaan, sementara banyak anak cucunya sampai hari ini. Mohon pencerahan Buya🙏

Jawab : 

[11:24, 4/5/2021] Faroji Naqib Azmatkan:  Beliau punya banyak keturunan Habib ku. Datanya ada di Kitab Almausuah

[11:24, 4/5/2021]  : Alhamdulillah

Tanya : 

[11:25, 4/5/2021]  : Nambah dikit Buya🙏apakah ada nama putra beliau Ibrahim dan Yusuf🙏

Jawab:

 [11:29, 4/5/2021] Faroji Naqib Azmatkan:  Ada.

[11:58, 4/5/2021]  : 😃Alhamdulillah🙏🤲🤝



Apa yang mereka lakukan?

Makam Tua Mariana 



Bersambung Klik Disini >>> Sebaran Da"wah keturunan Habib Husein 

-----------------------

Sumber data : 

1. Kitab Almausuah Li Ansabil Imam Al-Husaini . Pustaka Azmatkhan

2. Asy-syajarah Al-Alawiyyah. Pustaka Azmatkhan

3. Asy-Syajarah Al-Husainiyyah Al Mausuah li  Al Imam Husein, Pustaka Azmatkhan

4. Berdasarkan Manaqib singkat tulisan Pengeran Bendahara  Syarif Ahmad bin Sultan Abdurrahman, dan dokumentasi Belanda tahun 1827 M, yang menyebutkan tentang nama Ki Sauki atau Syaugi Yusuf, makam nya ditemukan di kepulauan Natuna, wilayah kepulauan Riau, .Koleksi keluarga Al Qadri

5. Berdasarkan Data Tua Nomor buku 763 s/ 770  halaman 336, angka tahun : 1857 M Tulisan Pangeran Bendahara Tua, Syarif Ja far bin Sultan Hamid I Alqadri, Koleksi Pribadi keluarga AlQadri

       Ada terdata bahwa : Abubakar ini memiliki banyak keturunan.  


Referensi : ( klik link nya untuk membaca ) 

*** Silsilah Habib Husein Tuan Besar Mempawah

1. Pulau Tarempa Siantan 

2. Pulau Serasan 

3. Pulau Tambelan

4. Lagi tentang Tambelan

5. Cucu Habib Husein di Pulau Bali

6. Sejarah Habib Husein Tuan Besar Mempawah

7. Cucu Habib Husein di Pulau Lombok

8. Makam tua di Kepri

9.Kerajaan Mempawah 

10. Kerajaan Kubu

11. Kerajaan Tanjungpura

12. Kerajaan Sintang

13. Kerajaan Sambas

14. Kerajaan Sanggau

15. Kerajaan Tayan

16. Kerajaan Sabamban Kalsel  & Hubungan nya dengan Matan, Pontianak, dan Mempawah

Keterangan : Tanda Bintang ( * ) adalah urutan generasi

Bintang (*) Anak generasi pertama

Bintang ( **) Cucu generasi kedua 

Bintang ( ***) Cicit generasi ketiga

Bintang ( **** ) Cicit Buyut generasi ke empat