Rabu, 14 April 2021

3. Sayyid Husein Tuan Besar Mempawah,: Bag.III. Sebaran Da"wah Keturunannya

Bagian Ke tiga ( III ) : Sebaran Da"wah Keturunannya

Tahun :  755 - 1900 M

By : SAY Qadrie : 

Pustaka Sejarah


Pangeran Syarif Hamid bin Sultan Abdurrahman
( Kramat Angke Jakarta ) 
Cucu Habib Husein Mempawah




Pengantar : 

       Anak cucu Habib Husein Tuan Besar Mempawah, sejak didirikannya Kesultanan Pontianak pada tahun 1771- 1778 M, tidak sedikit pula yang melanjutkan jalan Da"wah nenek moyangnya ini. Sebaran Da"wah Habib Husein tidak berhenti setelah wafatnya beliau. Anak dan cucunya, keturunan beliau banyak yang melanjutkan langkah dan jalan yang telah dirintis oleh beliau. 


        Sejak generasi pertama, putra - putra beliau, termasuk : 

   Syarif Abubakar, Syarif Muhammad, Syarif Ahmad,I, Syarif Ali, dan Syarif Ahmad II, tetap menggerakkan Da"wah Habib Husein ini. Sedangkan Syarif Abdurrahman bin Habib Husein, karena beliau menjadi Sultan, beliau menggunakan cara dan strategy sendiri, diantaranya berhasil menulis Al quran dengan tangan beliau sendiri. 


Berikut adalah sebaran Da"wah anak cucu beliau,: 



D.I. Belahan Barat, Selatan dan Utara Kalimantan, 


D. I. 1. Negeri Sembilan Kepulauan Melayu, Pulau Tujuh :  Belahan Barat, Selatan  dan Utara Kalimantan, termasuk Pulau Sumatra, 


         Di negeri sembilan ini,  keturunan anak cucu Habib Husein Tuan Besar Mempawah sudah mulai menginjakkan kakinya sejak sekitar  abad ke 18 dan awal abad ke 19. Hingga hari ini ditemukan keturunan Habib Husein ini di Palembang ada nama Sayyid Abdurrahman, di Muntok keluarga Syarifah Rugayyah yang berasal dari Sumba, di Bangka Belitung ada Sayyid Hardiyansyah dan Sayyid Kurniawansyah, di Tanjung Pinang, dan sekitarnya. 


       Termasuk Dabo Singkep, ada nama Syarif Mohammad cucu Wan Said Kampung Luar, ( Dari Ibunya, Syarifah Salmah binti Syarif Said ) keponakan Syarif Yusuf bin Dahlan yang dikenal sebagai "Wan Usof Wali Fagir" . Mereka berkerabat  dengan Pangeran Agussaid, salah satu Pangeran Istana Kadriah Pontianak. Sebaran ini juga    termasuk di Aceh, Medan, Jambi, Lampung, dll. 

Diperkirakan ada keluarga kaum kerabat anak cucu Habib Husein ini. 


Sebetulnya, Tanah Melayu bukanlah negeri asing bagi keluarga ini. 


        Karena Datuk Marang, (Sayid Muhammad Ibnu Ahmad Al-Qudsi)  adalah tokoh yang dulu semasa dan sezaman dengan ayah mereka, ( Habib Husein )  sama - sama dari Hadrami,  begitu pula Tuan Besar Siak, ( Sayid Umar Bachsan Assegaff  )  yang merupakan salah satu sahabat Habib Husein bin Ahmad, ketika  mengembara dari Hadrami, menyusuri pantai Barat India, lalu turun dan mendarat di Aceh, ( Tuan Besar Aceh, Sayid Abu Bakar Alaydrus ) juga adalah salah satu sahabat Habib Husein. Mereka dulunya sama - sama berkelana dari Yaman. 


                    ( Klik disini >>>: Baca kembali sejarah Habib Husein ini,) 



Titah Sultan :" Bersatulah Al Qadri,!" 

Titah Duli Yang Maha Mulia
Allahyarham Sultan Syarif Abubakar. 
Sultan Pontianak ke.VIII
Cucu Habib Husein Tuan Besar Mempawah, 
dari keturunan Sultan Yusuf


         Beliau , Habib Husein, dari Aceh baru kemudian melanjutkan perjalanan nya ke Batavia, Cirebon, Semarang, ( Di Semarang beliau bertemu dengan Syaikh Salim Hambal, yang jadi sahabat nya  )  Dan akhirnya menyeberang ke negeri Matan, dan menikah di Matan. 


       Datuk Marang ( Sayid Muhammad Ibnu Ahmad Al-Qudsi) yang menetap di Tanah Melayu, Kesultanan Trengganu, tentu saja mengenal dengan baik putra dari Habib Husein ini. 


        Itulah barangkali, kenapa salah satu Putra Beliau, Sayyid Abubakar, Panglima Laksamana,  bin Habib Husein, menikahi wanita dari Trengganu ini. Tanah Melayu. Bernama Inche Aminah/Syarifah Aminah binti Sayyid Abdullah Alidroos, Selain istri yang dinikahi di daerah asalnya, : Aluyah Sambe dan Inche Salmah


      Darah petualang mengalir di nadi mereka, putra dan cucu Habib Husein. Bagi keturunan ini, laut adalah berkah. Menaklukkan lautan merupakan kebanggaan tersendiri bagi keluarga ini. 


Diperkirakan, sekitar antara tahun : 1778 M hingga 1808 M, sekitar 30 tahun,: 


         Selama Masa berkuasa nya Sultan Abdurrahman di Pontianak, dan Sultan - Sultan berikutnya,  Keluarga Sayyid Abubakar, yang di daulat sebagai Panglima Laksamana, oleh Kesultanan Pontianak, bin Habib Husein Tuan Besar Mempawah ini, diperkirakan menjelajah daerah perairan Pulau Tujuh, Negeri Sembilan, menyinggahi pulau : Siantan, Tarempa, Midai, Serasan, Tambelan, Anambas, Natuna, Bunguran Besar, Ranai, Letung, Sedanau, hingga ke Negeri Trengganu.  Bahkan juga bagian timur Nusantara, Hindia Belanda saat itu


Terbukti,      

        Hingga hari ini, ada dan masih hidup keturunan anak cucu Habib Husein  bin Ahmad ini disana. Makam leluhur mereka yang dikenal dengan Panglima Hitam Paku Alam, dan  Ki Sauki atau Syaugi Yusuf, Jamalullail, serta Abdurrahman, yang merupakan putra dari Sayyid Abubakar Panglima Laksamana,  bin Habib Husein bin Ahmad, Tuan Besar Mempawah. 


Jadi pendapat yang ditulis "I Wayan Reken", sudah terjawab. 


       Bahwa Syarif TueAbdullah bin Yahya Maulana Al Qadri ( Makam beliau ditemukan di Loloan Bali ) bukanlah saudara Sultan Abdurrahman sebagaimana prediksi nya. Beliau juga bukan Putra Sultan Abdurrahman, tapi putra dari Yahya Maulana Al Qadri bin Yusuf, bin Abubakar Panglima Laksmana Tua -- Saudara Sultan Abdurrahman


Beliau merupakan Pangkat cucu kemenakan Sultan Abdurrahman. 


Sayyid Abdurrahman bin Mahmud Al Qadri & Istri
Ranai. Bunguran Besar. Natuna. 
Sekarang menetap di Tanjung Pinang. 


Menurut keterangan:  

           Sayyid Abdurrahman bin Mahmud, bin Hasan  bin Muhammad,  bin Yusuf, ( 65 th 2020)  bin Abubakar Panglima Laksamana, bin Habib Husein Al Qadri, ( beliau pernah ke Pontianak dan sempat bertemu dengan Almarhumah, ( semasa hidup nya )  Ratu Perbu Wijaya, atau Ratu Anom Bendahara, Putri dari Sultan Muhammad,) 


       Kedatangan Sayyid Abdurrahman ini  disambut dengan cucuran airmata, sambil  mendekap foto ayah nya ( Almarhum Sultan Muhammad) para Ratu itu memeluk beliau, karena wajah dan postur tubuh nya yang sangat mirip dengan Allahyarham Sultan Muhammad, ( beliau ini Syahid dibawah tebasan samurai Jepang tahun 1944, ketika Jepang menjajah Kalimantan Barat ) merupakan Abah mereka. Ada autobiografi  Sayyid Abdurrahman ini ditangan kami, yang  beliau tulis sebagai kenangan hidup.



D.I. 2. Pulau Bunguran Besar, Ranai, Natuna,Terempa, Midai, Sedanau, Serasan, Siantan, Letung, dsk 


Di Pulau Serasan, 

          Ditemukan juga keturunan Syed Mustafa, yang menikahi Dayang Masgi. 


         Di kepulauan itu juga ditemukan makam Sayyid Ahmad, dikenal dengan : Sayyid Ahmad Kamal Basyhar, yang kemungkinan besar keturunan  Habib Husein juga ( masih dilakukan penelitian lanjut)  


           Menurut keterangan Sayyid Abdurrahman bin Mahmud ini,  beliau juga masih berkerabat dengan mereka yang tinggal di pulau - pulau itu, meski terpisah pulau dengan jarak tempuh antara 2 sampai 12 jam pelayaran.

 (Beliau pernah menetap di Ranai, dan menjabat Camat Ranai, 2 Periode ). 

                Ranai adalah ibu kota Natuna, di Pulau Bunguran Besar, sekarang





Profile Kota dan Masyarakat Ranai di Natuna


Pulau Siantan, 

           Diperkirakan banyak anak cucu pecahan keturunan  Ibrahim, Jamalullail, Abdurrahman dan Yusuf  : bin Abubakar ini.  


           Sementara sebagian, mungkin keturunan ini setelah menikah, terutama anak - anak perempuan nya, dari istri Pontianak dan membuka hutan bersama suami- suami mereka tempat dimana perkampungan yang sekarang terletak di pinggiran Sungai Landak, dikenal dengan "Kampung Siantan", masuk wilayah Kecamatan Pontianak Utara, Kalimantan Barat sekarang. 


       Dalam waktu dekat, kami bermaksud berkunjung ke pulau - pulau sebelah Barat dan Utara Pontianak ini, guna  bersilaturrahmi dan menyambung kembali ikatan kekerabatan darah dengan Pontianak dan Mempawah, yang sempat los kontak sekitar 150 tahun lama nya.

 Insha Allah. Biiznillah,.... 


Syed Mustofa bin Muhammad Al Qadri
Makam di Tawao, Sabah. Malaysia Timur 
Keturunan Thaha Kholil 

D.I. 3. Tanah Melayu,:  Malaysia Barat, Timur, Trengganu, Sarawak, Kuching, Miri, Sabah, Brunei, dsk


 Menurut keterangan Syarifah Noor dan Syed Mansor,

 Yang menetap  di Singapore, 


          Diperkirakan keluarga anak cucu Habib Husein ini juga menyebar sampai ke Singapore, Trengganu, Kuantan, Pahang, Negeri Sembilan, Pulau sembilan, Malaysia bagian Barat, dan Utara pulau Kalimantan, Sarawak, Sabah, serta Brunei Darussalam. 


       Syarifah Noor dan Syed Mansor, yang di Singapore, adalah keturunan Al Qadri  juga menurut silsilah yang ada ditangan mereka, akan tetapi setelah mereka telusuri, ditemukan ternyata mereka dari keturunan : Habib Ali  bin Ahmad, ?

 

Di Kuching Malaysia Timur, 


        Ditemukan keturunan "Wan Dahlan, bin Tku Hamid, bin Muhammad, bin Yusuf  bin Abubakar, bin Habib Husein", bin Ahmad, bin Husein, bin Muhammad, Tuan Besar Mempawah ini. 


Keturunan Wan Dahlan, menetap  di Kuching, Miri, Sarikei, Bintulu, dsk. 


Mereka yang dulu nya berasal dari pulau Sedanau,Natuna, Pulau Tujuh


           Kemudian hijrah dan menetap di  Kampung Baru, Kota Samarahan, Muara Tuang, Kuching, Sarawak, Malaysia Timur. Keluarga ini juga berkerabat dengan warga Sejingkat, karena ibu Wan dahlan bin Tku Hamid, ( Syarifah Maysum, atau Umi Kulsum, Kalsum berasal dari Sejingkat)  


        Keluarga ini juga berkerabat dengan Mempawah, Singkawang, Pontianak, Serasan, Ranai, Bali, dll.  Bahkan ada keponakan kami yang menetap di Kuching saat ini karena menikah dengan wanita setempat, sekitar tahun 1980 an dulu. 


Keturunan Wan Muhammad di Tawao, 

         Kota Kinabalu, Malaysia Timur

        Menurut keterangan Khairulnizam, bin Hamid  yang saat ini menetap di Tawao Sabah, bahwa kakek moyangnya dulu di ambil dari Kalimantan, dibawa ke Tawao, kemudian dinikahkan dengan leluhur sebelah nenek mereka yang memang penduduk setempat di Sabah saat itu sekitar tahun 1940 an - 1950 an.  


       "Khairulnizam, bin Hamid bin Mustafa, bin Muhammad," dan keluarga besar mereka di Sabah, Tawau, di Kampung  Habeb Abdul Rahman, meyakini bahwa mereka bagian dari anak cucu  Al Qadri, karena ditemukan dokumen berupa surat nikah yang mencantumkan nama lengkap dengan marga leluhur nya : Al Qadri.



Syd Khairulnizam bin Hamid bin Mustafa 
bin Muhammad
Kiri Sultan 
Keturunan Thaha Kholil


Sejak zaman Belanda, 

Kaum kerabat Habib Husein memang dipecah belah. 

         Di adu saudara dengan saudara, kerabat dengan kerabat nya, bahkan ayah dengan anak nya. Devide et Empera, Pecah Belah Kemudian Kuasai.  


       Itulah kenapa sampai  terjadi perang  selama 8 bulan antara Pontianak dengan Mempawah. Keponakan menyerang paman nya. Menantu menyerang Mertua nya.  Keluarga Suami Menyerang Keluarga Istri. 


         Sejarah kelam masa lalu ini pelajaran berharga untuk kita  generasi yang hidup sekarang ini.  Politik adu domba Belanda , masih berkeliaran disekitar keluarga besar  kita, hingga    hari ini.  


Waspadalah, ..!


         Keluarga Habib Husein Tuan Besar Mempawah juga mengalami trauma psikologis yang luar biasa pada zaman penjajahan Jepang di Kalimantan Barat.


  Banyak anak cucu beliau yang dibunuh, dibantai, dengan semena - mena oleh Kampetai Jepang. Termasuk Allahyarham Sultan Syarif Muhammad Ibni Sultan  Syarif Yusuf, cucu Habib Husein dari Putra laki - laki tertua Beliau, Sultan Abdurrahman. 



D.I.4. Pulau Jawa : Jawa Barat, Jawa Tengah, Batavia, Jakarta, Semarang, Tuban, Surabaya, Banyuwangi. 


Di Pulau Jawa, khususnya Batavia, Jakarta sekarang, 


       Dikenal nama Pangeran Hamid bin Sultan Abdurrahman bin Habib HuseinTuan besar Mempawah ( Keramat Angke )   Beliau dulu nya belum jelas apakah dibuang Belanda, atau memang berda"wah ke Batavia ?. Atau menggerakkan perlawanan? Makam nya di temukan di kawasan Muara Angke Jakarta. 


       Allahyarham Pangeran Syarif Hamid bin Sultan Syarif Abdurahman Alkadrie wafat dalam usia 64 tahun, pada tahun 1854. Beliau lahir sekitar tahun 1790.M. Makamnya terletak persis di depan Masjid Jami’ Angke



Tahun 1790 - 1854 M. Usia 64 tahun
Pangeran Syarif Hamid bin Sultan Abdurrahman 

bin Habib Husein Tuan Besar Mempawah


Ditemukan juga nama Syarif Hasan Al Qadri di Bintaro. 


Di Jawa Barat, 


           Bogor, Purwakarta, Sukabumi, Garut, Cianjur, ada keturunan AlQadri. Tercatat nama Sayyid Abdullah Ghaniyyun, Sayyid Abdullah. dll 


         Di Pasuruan terdapat makam keluarga Al Gadri, yang kemungkinan anak cucu keturunan atau ada kekerabatan dengan Mr. Hamid Al Gadri, salah satu tokoh pergerakan kemerdekaan di tanah Jawa. Belum jelas apakah  mereka keturunan Habib Husein  atau bukan, masih ditelusuri. 


Pangeran Syarif Hamid Keramat Angke,: 

Sampai wafat nya , tak pernah dapat kembali lagi ke Pontianak. 

          Beliau menurunkan banyak keturunan diantaranya, Sayyid Ali Al Qadri, yang menetap di daerah Jatiasih, Bekasi. 2020.

Salah satu putri beliau juga menikah dengan keluarga keturunan Raja Kubu: 

          yang kemudian membuka hutan di Sabamban. 

         Pangeran Syarif Ali  Alydrus.  

        Anak keturunan dari beliau ini yang melanjutkan Kerajaan Sabamban, hingga Kerajaan Sabamban hilang dari sejarah di Kalimantan Selatan. Sampai hari ini keturunan Alydrus Sabamban yang berkerabat dengan keturunan Alydrus Kubu, dan Keluarga Al Qadri Pontianak, masih ada anak cucu nya. 


Di Banyuwangi, 

        Banyak ditemukan keluarga Al Qadri, yang mungkin berasal dari Bali. Keturunan Syarif Abdullah bin Yahya Maulana Al Qadri bin Yusuf bin Abubakar bin Habib Husein Tuan Besar Mempawah. 

              Salah satunya bernama : "Syarif Hasan bin Abdillah Al Qadri". 


Hasan bin Abdillah AlQadri
bersama Ust. Taufiq Assegaf. Pasuruan.
Sekarang beliau menjabat Ketua Umum Rabithah Alawiyah


D.I.5. Pulau Sepanjang, Sapekan, Masalembo, Sumenep, Talangu, dsk 


Menurut keterangan Maulana Syarif Husein, PPU


            Di Pulau Sepanjang, Sapekan, gugusan Pulau madura,  ditemukan makam Habib Nuh bin Muhdar Al Qadri, bersama istri beliau : Siti Jamilah binti Abdurrahman. Leluhur dari Sayyid Husein Maulana Al Qadri yang sekarang menetap di Penajam Paser Utara ( PPU ) 


           Beliau ini keturunan Sayyid Muhdar ( Makam beliau ditemukan di Mandar ), yang berda"wah di sekitar Sulawesi Selatan, dan  wafat di Mandar, Majene, Sulawesi Barat. 


Hingga hari ini masih dapat ditemukan keturunan dari : 

1. Syarif  Shaleh bin Ali AL Muhsen bin Abubakar

2. Syarif  Muhdar  bin  Ali Al Muhsen  bin Abubakar 

3. Syarif  Yusuf bin Ali Al Muhsen bin Abubakar




Sayyid Kupang : Tahun 1899 M
Abdurrahman bin Abubakar Al Gadrie


D. II. Belahan Timur  Kalimantan,:  Kaltim, Kalsel, Kalteng, Bali, Lombok, Papua, Manado, Maluku, Ternate, Tidore,  Sumba, Waingapu, Flores, Kupang, Sumbawa Besar, dsk 


D.II.1.  Kalimantan Timur,


           Di Kalimantan Timur, khususnya di Kabupaten Penajam Paser Utara, ditemui keturunan AlQadri bernama Sayyid Husein Maulana Al Qadri ( PPU ) Keturunan Sayyid Nuh ( makam di sapekan ) bin Muhdar Al Qadri (  makam di Mandar, Majene , Sulawesi Barat ) 


Di Samarinda 

        Banyak juga ditemukan keluarga Al Qadri, yang menetap di Kampung Seberang jembatan Mahakam. Salah satu nya keluarga : Sayyid Hery Al Qadri, dengan saudara perempuan nya bernama Syarifah Muhsena  yang menetap di Balik Papan. Selain mereka, ada banyak kaum kerabatnya yang bermukim di Kota Samarinda, dan sekitarnya. 


           Mereka mungkin berkerabat dengan keturunan Ibrahim Panglima Hitam Paku Alam Segeram, belum diketahui .

        Masih banyak juga keturunan anak cucu dari Pangeran Syarif Ahmad Giri, bin Habib Husein, yang dulu menikah di kerajaan Sadurangas, Kalimantan Timur, belum ditemukan jejaknya. 


          Ada juga nama : Sayyid Noviar Al Qadri di Samarinda, Sayyid Umar al Qadri di Balikpapan, Sayyid Syech di Berau. dll, yang kemungkinan berasal dari keturunan Sultan Abdurrahman, Atau Sayyid Abubakar Tuan Abu, sebagaimana ditemukan juga keturunan ini di Kalimantan Selatan dan sekitarnya. 



D.II.2. Kalimantan Selatan, dan Kalteng, 


Di Kalsel 

       ini diperkirakan ada  beberapa keturunan Habib Husein Tuan besar Mempawah, diantaranya ; Sayyid Yannur, Sayyid Abdullah,  dan bisa jadi juga mereka berkerabat dengan keluarga yang sekarang ada di Bangka Belitung, dengan ciri - ciri nama khasnya menggunakan "syah" termasuk Syed Hardiansyah dan saudaranya  Profesor Doktor Kurniawansyah ( dipanggil Wawan ) yang sempat menghadap Sultan ke Pontianak tempo hari.  Ternyata Keturunan Sirajudiensyah bin Ibrahim Segeram  .


          Didaratan pulau Kalimantan ini masih banyak keturunan Al Qadri yang belum di gali dan diidentifikasi dengan pasti. Bisa jadi karena lembaga yang ada selama ini hanya menunggu di menara gading dalam ruang ber AC, sehingga agak berat untuk mendata mereka yang masih terasing dan terisolasi ini. 



D.II.3. Bali, Lombok, Sumbawa, Manado, Ternate, Tidore, Maluku, hingga Papua. 


          Pulau Bali 


          Keturunan Habib Husein Tuan Besar Mempawah di Pulau Bali, adalah : 

         Syarif Abdullah bin Yahya Maulana Al Qadri, dikenal dengan Syarif Tue, Loloan. Anak keturunan beliau masih ada dan hidup di loloan, Denpasar, Banyuwangi, Pasuruan, dll. Hingga hari ini, sudah sampai ke generasi 8 dan 9 generasi. 

Tokoh sepuh keluarga ini masih hidup : 

Haji Sayyid Syarif Yasin bin Zein Al Qadri, 76 tahun 2020, menetap di Loloan. 


kompleks Makam Syarif Abdullah bin Yahya Maulana al Qadri
Syarif Tue. Loloan.  Bali. Jembrana


Pulau  Lombok NTB


Menurut keterangan Profesor Doktor Yek Amin Azis  ( UIN Mataram ) 


       Ditemukan Anak cucu Habib Husein Tuan Besar Mempawah  yang  makam nya di Jeranjang bernama Sayyid Abubakar Al Qadri, merupakan leluhur mereka.


      Meski belum diketahui beliau ini keturunan mana. 


      Apakah keturunan Sayyid Abubakar bin Habib Husein,  atau cucu Sultan dari keturunan Sultan Usman?  atau, Sultan Kasim? Karena dari Trah Habib Husein ini banyak  menggunakan nama yang sama secara turun temurun. 


Beliau ini merupakan leluhur sebagian besar Al Qadri Lombok. 

        Keturunan Lombok berasal dari kedua putra  Sayyid Abubakar,: 

1. Syarif  ALI  bin "Syarif Abubakar bin Abdillah, Panglima Laksamana IV," dan 

2.Syarif  ALWI bin "Syarif Abubakar bin Abdillah, Panglima Laksamana IV." 

 

            Anak cucu keturunan ini diantaranya : 


           Yek Amin Azis, Yek Agif, Syarif Hidayatullah, Syarif Umar bin Ali  bin Hasan. Syarif Jafar/ Abah ( Pengkores ) , Syarif Badri Al Qadri ( Tokoh paling sepuh yang menetap di Pengkores, kami sempat bertemu pada tahun 2012) semua mereka bermarga Al Qadri. 


           Di Lombok, mereka bermukim di kawasan kota Mataram daerah Sekar Bela, kemudian Lombok Tengah Pengkores, Kutaraja, dsk 


Gelar Syarif dalam bahasa setempat disebut : Serif, Serip, atau dipanggil : Yek. 


Pulau Sumbawa, 


           Di pulau ini, khususnya bagian barat, daerah Taliwang, ditemukan keluarga Al Qadri, salah satunya keluarga dari "Sayyid Fathi Al Qadri" yang bermukim dan menetap disana. 


            Menurut keterangan beliau, bahwa keluarga mereka sudah ada disana sejak ratusan tahun silam.  Selain di Sumbawa bagian barat, mereka juga memilki kerabat dengan yang ada di Mataram Lombok, dan Sumbawa Besar. 


             Menurut catatan kami  ada nama Sayyid Abubakar bin Abdillah, yang ditunjuk Sultan Hamid,I. sebagai Panglima Laksamana ke IV, sekitar tahun 1855 M, dan bertugas diwilayah Indonesia Timur. NTB, NTT, hingga Papua.


Ada  juga keterangan tentang  Syarif Abdullah bin Sayyid Abubakar  Panglima Laksamana Pertama, yang dimakamkan di Lombok  lahir Sambe Darit :  1769 M, wafat Lombok 1856 M, Makam di Lombok

 


Pangeran Jaya
Syarif Abdullah bin Sultan Usman



Di Manado, Air Madidi, Kota Mobagu,:


         Syarif Ali , bin Muhammad, bin Abdullah ( Pangeran Jaya ) bin Sultan Usman, bin Sultan Abdurrahman, bin Habib Husein Tuan Besar Mempawah,  Alqadri , Jamalullail. ( makam beliau ditemukan di Manado) 


Ditemukan juga keturunan Habib Husein Tuan Besar Mempawah ini. 


      Mereka berasal dari rumpun keluarga Sayyid Abdullah bin Sultan Usman, dikenal dengan : Pangeran Jaya. 


          Keturunan anak cucu Pangeran Jaya yaitu : 


1. Syarif Umar, bin Muhammad

2. Syarif Husein, bin Muhammad

3. Syarif Ali, bin Muhammmad

4. Syarif Hasan bin Muhammad, ( 4 saudara ) : 

 bin Abdullah, bin Sultan Usman, bin Sultan Abdurrahman


          Kemungkinan di ternate, Tidore, Maluku, ada keturunan Al Qadri yang belum diketahui.


Makam Syarif Ali bin Muhammad bin Abdullah 
bin Sultan Usman bin Sultan Abdurrahman
 

Di Papua, banyak ditemukan keluarga Al Qadri. 

        Termasuk Syarifah Rahma, ( bekerja di Dinas Perhubungan Udara Papua, sebagai pengawas lalu lintas penerbangan, menara kontrol  Bandara ) yang pernah sampai kerumah kami di Surabaya. 

        Selain keluarga mereka, kemungkinan ada keluarga lain yang menetap dan hidup di Bumi Cendrawasih ini. 

           Di Raja ampat, ditemukan Sayyid Husein Al Qadri. 

           Ada juga Syarifah Ima di Papua.    

        Bukan mustahil masih banyak lagi yang belum diketahui kaum kerabat Al Qadri di bumi  Cendrawasih ini. Dengan demikian kita dapat simpulkan sementara, bahwa sebaran kaum keluarga Al Qadri menjangkau dari Sabang sampai Merauke di Nusantara ini. 

     Diperkirakan mereka menyebar sejak abad ke 18  pasca  berdirinya Kesultanan Pontianak  pada tahun 1778 . Sebaran ini bisa jadi karena da"wah, ditugaskan secara resmi oleh Istana, bisa jadi karena dibuang Belanda, bisa juga karena tempat ini dijadikan pangkalan perlawanan terhadap penjajahan Belanda waktu itu. 



Sayyid Muhdar Mandar
bin Ali al Muhsen bin Abubakar Al Qadri


D.II.4. Sulawesi, Sumba, Waingapu, Flores, Kupang, Bima, Sumbawa Besar, 


Menurut keterangan Maulana Syarif Husein, PPU


          Di Sulawesi bagian Barat, Majene, Mandar, ditemukan keturunan Sayyid Mohdar Al Qadri. Beliau dikenal dengan nama : Puang Sayye. Gelar kehormatan masyarakat Sulawesi.  Salah satu cucu beliau ini ( Sayyid Muhdar Al Qadri ) ditemukan di Penajam Paser Utara, Sayyid Husein Maulana Al Qadri ( PPU). Husein bin Nuh ( makamnya di Sepanjang ) bin Muhdar.    


Syarif Muhdar bin Ali Al Muhsen  bin Abubakar  Alqadri, dan  Syarif Shaleh bin Ali Al Muhsen , bin Abubakar Al Qadri, : 


Menurunkan banyak keturunan yang menyebar di Sulawesi Selatan, Barat, Sumbawa, Sumba, Kupang, Flores, Nusa Tenggara Timur, Waingapu, Selayar, Waikabubak, Ende,  dan  ada juga yang menyeberang ke Pulau Kalimantan bagian Timur, Samarinda, Balikpapan, Penajam, dll. 



Sayyid Ali bin Shaleh bin Ali Al Muhsen bin Abubakar Al Qadri
Makam di Waingapu



Di Pulau Sumba, 

Ditemukan banyak sekali keturunan Habib Husein Tuan Besar Mempawah.

         Dalam Babad Kesultanan Pontianak, ada nama Muhammad Shurur, ( makam nya di Sumba )  dan Sayyid Abdurrahman bin Abubakar ( makam beliau di Kupang dipanggil Sayyid Kupang ) yang  dulunya kelihatan nya pergi berniaga dan berdakwah sampai ke Sumba.  

Dimakam beliau di Kupang tertulis wafat tahun 1899 M.( lihat gambar diatas tadi )  


Dari keturunan pecahan timur ini, tokoh tua nya diantaranya : 

        Tuan Guru Sayyid Abdurrahman Al Qadri, Labu Api, Lombok Barat. Nusa Tenggara Barat.  

         Ada juga  Keluarga Sayyid Abubakar Al Qadri di Waingapu. Kaum kerabat Sayyid Ahmad Jadid, Sayyid Zaidun, Sayyid Farouq, Sayyid Hafiz, Sayyid Hasan di Waikabubak, dll. 


Di Bima, 

       Ujung Pulau Sumbawa sebelah timur, ditemukan juga keluarga al Qadri. 

     Ketika kami di Bali, sekitar tahun 1998, pernah bertemu dengan salah satu keluarga Al Qadri yang menetap di Bima ini.


         Hingga hari ini, kami masih mencari keberadaan kaum kerabat kami, anak cucu keturunan Habib Husein Tuan Besar Mempawah ini




Bersambung  Klik Disini :>>> AL Qadri di Sulawesi dsk




Refrensi Utama : 

==, Diantara berbagai sumber adalah : 

1. Kitab Almausuah Li Ansabil Imam Al-Husaini . Pustaka Azmatkhan 

2. Asy-syajarah Al-Alawiyyah. Pustaka Azmatkhan

3. Asy-Syajarah Al-Husainiyyah Al Mausuah li  Al Imam Husein, Pustaka Azmatkan

4. Berdasarkan Manaqib singkat tulisan Pengeran Bendahara  Syarif Ahmad bin Sultan Abdurrahman, dan dokumentasi Belanda tahun 1827 M, yang menyebutkan tentang nama Ki Sauki atau Syaugi Yusuf, Koleksi keluarga Al Qadri

5. Berdasarkan Data Tua Nomor buku 763 s/ 770  halaman 336, angka tahun : 1857 M Tulisan Pangeran Bendahara Tua, Syarif Ja far bin Sultan Hamid I Alqadri, : Koleksi Pribadi keluarga AlQadri


Referensi, :


##, Napak Tilas Sejarah Kesultanan  Pontianak

1.  Al Qadri Indonesia Timur

2. Sayyid Abubakar Jeranjang Lombok 

3. Syarif Abdullah bin Yahya 

4. Keturunan Habib Husein Tuan Besar Mempawah

5. Keturunan Sultan Abdurrahman Pontianak

6. Abubakar bin Habib Husein 

7. Keluarga Al Qadri di Tawau