Jumat, 22 April 2022

Mengenal Bidadari di Bumi : Episode II

Seri Pemuka Ahl Baith Nabi : Pertama

Fathimah penerus nasab Rasullullah 

Episode Kedua 

 By SAY Qadrie : Pustaka Sejarah


Sebagian  orang meyakini makam ini sebagai makam Fathimah



Dari pernikahan inilah, keturunan Rasul diteruskan hingga akhir zaman.

4. Fathimah penerus nasab Rasullullah 


2 putra Fathimah yaitu Al Hasan dan Al Husein, meneruskan banyak keturunan yang tersebar diseluruh muka bumi hingga hari ini. 

Adapun pertanyaan kenapa keturunan Rasul nisbatnya kepada   wanita yaitu putrinya ini?  Bukankah nasab berasal dari laki - laki?  Silahkan anda cari sendiri jawabanya, karena ada banyak sumber yang menegaskan hal tersebut.  

Dalam hal ini mungkin kita dapat sampaikan bahwa tidak semua nasab dari sulbi laki - laki.


 Kenapa  ? 


        Karena Adam lahir tanpa ayah, dan ibu.  Karena Hawa lahir tidak dari rahim seorang wanita.  Karena Isa  putra Maryam, tidak berasal dari nutfah siapapun! Karena para bidadari dan malaikat juga tidak berasal dari dua orang tua manapun.  Urusan penciptaan jauh diluar nalar dan jangkauan akal manusia yang terbatas. Manusia hanya mahluk, yang diciptakan dari segumpal darah dan melekat di dinding rahim.  Manusia hanya diciptakan, bukan pencipta. Mereka hanya menemukan, bukan meng adakan. 

     Meski manusia mampu membuat kehamilan diluar rahim, atau kehamilan dalam tabung kaca laborat ( bayi tabung ) tapi manusia tetap memerlukan sperma dan ovum untuk mewujudkan hal itu.  


      Bagaimana kita menjelaskan hamilnya istri nabi Zakaria? atau istri nabi Ibrahim? Padahal pasangan ini sudah sangat tua.  Karena hingga hari ini, banyak suami istri yang tidak dikaruniai keturunan, meskipun mereka menikah sudah puluhan tahun? 

Manusia tidak sanggup menciptakan seekor semut atau seekor lalat,! 


      Jadi, bersujudlah pada Allah. Baik dengan terpaksa atau dengan kesadaran. Terang-terangan atau sembunyi.  Karena pada dasarnya, manusialah yang perlu dan butuh kepada Allah, dan bukan sebaliknya. Apa yang kita lakukan, akan kembali kepada diri kita sendiri. Siapa menabur angin , maka dialah yang akan menuai badai. 



5. Wafatnya sang  Bidadari Bumi :  


           Ada 2 pendapat  yang mashur dikalangan sejarawan mengenai hari wafatnya : 3 Hb Jumadil Tsani,  tahun 11 Hijriah, atau :  3 Hb Ramadhan , Tahun ke 11 Hijriah, 

        Pendapat lainya : Wafat di Madinah: Jum'at, 3 Jumadilakhir 11 H atau tanggal 18 Agustus 632 Masehi), dimakamkan di Madinah Muanawwarah (tidak diketahui letak pastinya)  Negeri Hijaz.


      Setelah mengalami pendarahan hebat akibat benturan keras di dirusuk dan perutnya, dan menyebabkan keguguran janin yang tengah dikandungnya, Fathimah mulai sakit berlarut - larut , ditambah kesedihan karena kehilangan ayah yang sangat mengasihi dan dikasihi, hingga pada akhirnya, 6 bulan setelah wafatnya Rasulullah 


 Diriwayatkan pada pagi tanggal 3 Ramadhan Tahun 11 Hijriah, / atau, 3 Hb Jumadil Tsani,  tahun 11 Hijriah :


Fatimah mandi dan berpakaian baru, kemudian berbaring di tempat tidurnya yang sederhana, hanya beralaskan daun dan pelepah kurma dan hambal diatasnya. 

Kepada Ali, Fatimah berkata bahwa,  saat-saat kepergianya sudah dekat.


   Ali pun menangis, namun Fatimah menghibur suaminya agar jangan bersedih dan menjaga anak² mereka.  Fatimah juga berpesan, setelah meninggal nanti, Ia tidak ingin di kuburkan dengan upacara pemakaman.

    Lantaran waktu shalat tiba, Ali berangkat ke masjid.

 Saat Ali tidak ada,  Fatimah menghembuskan nafas terakhir.

 Kedua putra mereka, Hassan dan Husain,  menyusul Ali ke masjid untuk mengabarkan berita duka itu. 

     Mendengar istrinya tiada, Ali  pingsan tak sadarkan diri


    Setelah siuman, Ali menuruti pesan terakhir istrinya, menyempurnakan jenazahnya dengan dimandikan, dikafankan dan di sholatkan dirumahnya. Fatimah kemudian di kuburkan secara diam² disuatu tempat di Madinah pada malam hari tampa upacara. 


Tidak ada warga Madinah yang tahu Selain Ali dan keluarga terdekat.

    Saat Ali Bin Abi Thalib memasukkan jenazah istri tercintanya Fatimah, Beliau menangis terisak-isak

   Putranya Al Hasan Ra Pun Bertanya :" Wahai Ayahku, apa yang membuat Dirimu menangis sedemikian rupa?"

                Ali lalu menjawab "Wahai Putraku Al Hasan, Aku teringat pesan kakek Mu Rasulullah Saw, Beliau bersabda kepadaku : "Kelak jika putriku Fatimah telah tiada, wahai Ali, maka Akulah yang akan pertama kali menerima jasadnya di liang lahat" 

          Dan Demi Allah,  Aku melihat tangan kakekmu Rasulullah menerima jasad ibumu, Aku melihat Rasulullah mencium wajah ibumu, Fatimah"

                  Ali lalu berkata lagi

      "Wahai Rasulullah, kini Aku kembalikan amanah yang telah Engkau berikan ke padaku. Aku kembalikan belahan jiwa Mu, yang setiap Engkau rindu akan surga, Engkau mencium wajah suci putrimu, Fatimah"...

 


Hak Ahl Baith dalam kitab klasik




6. Fitnah sepeninggal Fathimah  


       Sepanjang  hayatnya Fathimah membaktikan dirinya sebagai manusia yang  berbeda dengan wanita lainya. Ketika masih kecil, sewaktu ayahnya dilempari anak- anak kecil hingga wajahnya berdarah, Fathimah mengusap dan membersihkan darah diwajah ayahnya. Fathimah merawat luka - luka ayahnya. Itulah kenapa Fathmah mendapat julukan : "Ummu Abiha,"  Ibu dari ayahnya.  


        Sepeninggal wafatnya, fitnah mulai menyebar luas, dunia Islam mulai bergolak dengan berbagai kejadian.  Susul menyusul dan sambung menyambung , dari berbagai tempat hingga ke Madinah kota ayahnya. 


Fathimah wafat di Madinah, pada masa ke khalifahan pertama, Abubakar Shiddiq, dimana pada masa itu, suaminya : Ali bin Abi Thalib, lebih banyak mendidik umat dan mengarahkan mereka, serta berusaha menjauhi politik.  Ia senantiasa memperhatikan dan menjaga persatuan umat Islam, dan segera  memberikan pendapatnya, ketika diminta. 


       Selain keluarga terdekat, anak dan keponakannya, kerabat dan beberapa sahabat yang banyak belajar dari Ali bin Abi Thalib ini, ( Beliau dijuluki pintu ilmu Rasullullah )  mereka sangat mengasihi dan mencintai sosok Ali, hanya saja memang sebagian besar dari mereka bukan orang kaya, pejabat tinggi, atau punya pengaruh lainya.

       Sayangnya zaman itu, sebagian umat mulai terperangah oleh godaan ghanimah, kemilau  dunia dan kedudukan  sementara.  Para pengikut Ali ini,  belakangan disematkan  sebutan : " Syiah Ali,"   Pengikut Ali.   


##,-  Ulama Ahlusunnah Abul Hasan Al-Asy’ari, berkata  :


       “Sesungguhnya mereka dikatakan syi’ah, karena mereka mengikuti (syaaya’u) Ali, dan mereka mengutamakan beliau dari seluruh sahabat Rasulullah”. (“Maqaalaat Islamiyyin”, jilid 1, hal. 65, terbitan Mesir. Yang dikutip dalam kitab “Asy-Syi’ah Fi Maukibi At-Tarikh”, dikeluarkan oleh “Mu’awaniyyah Syu’un At-Ta’lim Wa Al-Bahuts”.)


##,- Ulama Ahlussunah lainya , bernama Syahrastani, berkata :


        “Syi’ah adalah mereka yang mengikuti (syaaya’u) Ali secara khusus. Dan mereka berkeyakinan bahwa Imamah dan Khilafah beliau ditetapkan dengan nash dan wasiat, baik secara jelas maupun tersamar. Mereka juga berkeyakinan bahwa Imamah berlanjut pada putera-putera beliau”.  (Syahrastani,dlm “Milal Wan Nihal”, hal. 118)


        Para sahabat dan orang dekat Ali, semisal : Miqdad, Abu Dzar Al ghifari, Malik Al asytar, Salman Al farisi, dll. yang meski cukup dihormati dikalangan Muhajirin dan Ansyar Madinah, tapi tak cukup kuat berhadapan dengan Zubair Ibn Awwam, Thalhah Ibn Ubaidillah, dan tentu saja Umar bin Khattab dan Usman Ibn Affan,  serta  Abdurrahman bin Auf, tokoh Quraisy Mekah dari golongan Muhajirin.  


        Belakangan dikenal nama pengikut Ali diantaranya : Mohtar putra Abu Ubaid atau Ubaidah At Tsaqafi, dan Ibrahim putra Malik Al Asytar, yang dicatat sebagai para pengikut Ali yang setia dan berjuang di jalan Ali, sesuai keyakinan mereka. 


Gambar Ilustrasi

Alhasil, waktu terus berlalu, para pemimpin silih berganti, ........


        Setelah wafatnya Khalifah Abubakar, kemudian digantikan Khalifah  Umar, dan  setelah terbunuhnya Khalifah Umar, Khalifah Usman memegang tampuk politik di Madinah. Beliau juga terbunuh dalam suatu huru hara yang melibatkan puluhan ribu manusia di Madinah. 

Berikut ini daftar harta dan kekayaan para sahabat yang sempat dicatat oleh para perawi ternama  dari berbagai sumber : 


1. Abdurrahman ibn ‘Awf 

Kekayaan nya  mencapai Rp. 6.212.688.000.000,-. ( 6 Triliun,dst )  Saat beliau wafat meninggalkan 1.000 ekor unta, 100 ekor kuda, dan 3.000 ekor kambing. -- Ibn Katsir  (al Bidayah wa an Nihayah, Juz 7, hal, 184)

_

____________

2. Az Zubayr ibn Al ‘Awwam

kekayaan berupa aset tidak bergerak (tanah), di antaranya yang berada di Ghabah (wilayah di barat laut Madinah, sekitar 6 km dari Madinah), 11 (sebelas) rumah (besar/dar)  di Madinah, 2 (dua) rumah di Bashrah, mesir, kuffah, alexandria1000 kuda, 1000 budak Nilai kekayaan saat wafatnya jika ditotal mencapai Rp.3.543.724.800.000,- ( 3 Triliun, dst)  Sumber al-Bukhariy al Jami’ al Shahih, al Bukhariy, Juz 3, hal. 1137

_

______________

3.Utsman ibn ‘Affan

Nilai kekayaan mencapai  Rp.2.532.942.750.000,-. ( 2 Triliun,dst ) 

Nilainya ini bisa jadi lebih kecil dari nilai kekayaan yang sesungguhnya mengingat jumlah tersebut belumآ mencakup aset-aset berikut lainnya termasuk pembelian sumur di rumah sekitar 5 km dari Masjid Nabawi yang senilai 35.000 Dirham 950 unta Juga kuda yang jumlahnya amat sangat banyak -- (al Mu’jam al Kabir, ath Thabaraniy, Juz 2, hal. 41 atau 1227),  (Tarikh Ibn Khaldun, Jil. 1).

__

_____________

4. Kekayaan Umar bin Khattab

• Mewariskan 70.000 properti (ladang pertanian) seharga @ 160juta (total Rp 11,2 Triliun)

• Cash flow per bulan dari properti = 70.000 x 40 jt = 2,8 Triliun/ tahun atau 233 Miliar/bulan. • Simpanan = hutang dalam bentuk cash -- (Data) itu dari Kitab al-Fiqh al-Iqtishadi Li Umar Ibn al-Khaththab, halaman 44 dan halaman 99

_

______________

5.Thalhah ibn ‘Ubaydillah

Nilai kekayaan nya Rp.542.100.500.000,-. Total  lebih dari 1 Trilliun 

perputaran uang yang dimilikinya seribu dinar setiap hari dari usaha di Iraq, dan lebih lagi dari as-Sirrah (Yaman). Beliau juga membangun rumah di Kufah, merenovasi rumah di Madinah dengan plester, batu bata dan kayu berlapis (sesuatu yang sangat mewah saat itu) mengutip bahwa jumlah seluruh kekayaan Thalhah (tunai dan non-tunai) saat wafat adalah 30.000.000 Dirham atau setara Rp.1.845.690.000.000.--  ( 1 Trilyun dst )  sumber : (ath Thabaqat al Kubra, Ibn Sa’d, Juz 3, hal. 222)  (ath Thabaqat al Kubra, Ibn Sa’d, Juz 3, hal. 222 



6. Kekayaan Amr bin Al-Ash  -- • 300 ribu dinar

___Beliau ini adalah juru runding Muawiyah bin Abi Sufyan, dalam tahkim shiffin. Dari pihak Imam Ali diwakili Abu Hasan Al As"ari.


____________

7.Sa’d ibn Abi Waqqash

Seperti dilansir dari situs MUI, kekayaan Sa’d ibn Abi Waqqash saat wafat Rp.15.380.750.000, - ( 15 Trilyun, dst ) Ia membangun Rumah bertingkat serta luas halaman nya dengan bangunan mahal  yg terbuat dari bahan batu akik, Sebagian sejarah mencatat Saad bin Abu Waqqash meninggal di Canton selatan China sebagai saudagar kaya.Sebagian mngatakan di baqi madina -- Ibn Katsir (al Bidayah wa an Nihayah, Juz 8, hal. 84)    

---------------------------

 Pasca  wafatnya Khalifah Usman bin Affan,....... 


       Ali kemudian didapuk menjadi Khalifah, dengan aklamasi , akan tetapi tentu saja klan Umayyah tidak menyetujui hal ini. Maka gesekan muncul dan memercikkan api peperangan  antara Madinah dengan Syam, hingga meletusnya perang Jamal, perang Shippin, dan perang Nahrawan. 


      Khalifah Ali terbunuh oleh pedang beracun Abdurrahman Ibnu Muljam, di mihrab mesjid Kufah ketika dalam sujud shalat subuhnya. Waktu itu, pusat pemerintahan Ali sudah dipindahkan nya ke kota Kufah dari Madinah sebelumnya, demi menjaga kesucian kota Nabi ini dari  noda pertumpahan darah. 

Kufah , masuk wilayah Irak sekarang.



Persitiwa terbunuhnya Imam Ali - Gambar Ilustrasi

      Setelah wafatnya Khalifah Ali , Hasan bin Ali sempat didaulat umat menggantikan posisi ayahnya, akan tetapi hanya berlangsung dalam tempo singkat. Kekuasaan dan politik kemudian dipegang bani Umayyah, dengan pusat pemerintahan klan ini di Syam , mereka  memerintah turun temurun hingga sampailah: 



 ##, Masa kekuasaan Umar bin Abdul Azis  sebagaimana dikisahkan berikut ini : 

 

---, Diceritakan bahwa seorang pria Kristen ingin menikahi seorang wanita Muslim, tetapi keluarganya menolaknya - maka dia pergi ke raja Bani Umayyah Umar bin Abdul Aziz dan bertanya kepadanya tentang alasannya ?


Sang Raja mengatakan kepadanya jawaban yang sama bahwa tidak diperbolehkan bagi seorang wanita Muslimah menikah dengan seorang pria kristen.

Orang Kristen itu menjawab :

"Bagaimana bisa tuan mengharamkannya sementara Nabi anda Muhammad  menikahkan putri nya dengan seorang laki-laki kafir ?"

Maka Raja umar bin Abdul Aziz berkata kepadanya, 

"Siapakah orang kafir itu ?"

Pria Kristen ini menjawab :  

"  Ali bin Abi Thalib !". 

" Bukankah selama lebih dari enam puluh tahun anda telah mencaci maki, melaknat dan menyatakan Ali kafir dalam khutbah di mimbar-mimbar dan di pasar-pasar !! Dan Nabi Muhammad  menikahkan nya dengan Putri nya (Sayyidah) Fatimah ?!"


    Raja Bani Umayyah Umar bin Abdul Aziz tercengang dengan kebenaran pria Kristen itu -- dia menundukkan kepalanya dan merasa malu dan bingung - yang mendorongnya menyelenggarakan pertemuan mendesak di mahkamah Bani Umayyah -  dengan hasil keputusan --             "Mengeluarkan perintahnya kepada para khatib dan masyarakat umum untuk segera berhenti menghina, menghujat dan melaknat Imam Ali bin Abi Thalib". "


Sayang nya Umar bin Abdul Azis hanya berkuasa sekitar 2 tahun saja, dan kebijakan itu tidak dilanjutkan oleh penerus nya. 

   




7. Dimanakah letak pusara fathimah?    


Pengantar : 


     Ketika setiap mata dari penduduk Madinah tertutup, ketika tak ada suara sedikitpun dari mereka, rombongan surga itu meninggalkan rumah Imam Ali  membawa usungan tandu berisi jenazah suci dari puteri sang Nabi, Fatimah Az-Zahra . Anak-anaknya sekarang mengantar jenazah ibunya itu ke sebuah pemakaman yang sunyi yang sudah ditentukan.  


Epik sejarah wafatnya Fathimah  

     TARIKH ini dicatat dalam catatan-catatan lintas mazhab, baik dari kalangan muhaddits hingga para sejarawan yang semasa atau yang hidup di jaman berikutnya. Memang, ada satu kejanggalan, ketika mayoritas ummat Islam barangkali tidak pernah bertanya ‘di mana gerangan makam Fatimah Azzahra as?’ 


Inilah Kisahnya , 

Dikegelapan malam pada bulan Jumadil Tsani, hari ketiga di tahun 11 Hijriah.

 

         Sebuah rombongan (kafilah) kecil yang terdiri dari orang-orang yang setia dan patuh pada keluarga  Rasulullah tampak berjalan gontai. Segukan tangis lirih yang terasa mengiris-iris hati yang pilu terdengar dari mereka. Wajah-wajah mereka lusuh tertunduk tersembunyi dalam tutup-tutup kepala yang jatuh menaungi kepala-kepala merekaMereka berjalan dalam kegelapan malam pada bulan Jumadil Tsani, hari ketiga di tahun 11 Hijriah.

 

Rombongan itu menyusuri jalan-jalan kota Madinah. 

    Terasa segar dalam ingatan, baru beberapa lama lewat mereka melakukan hal yang sama untuk manusia suci lainnya, Muhammad Al-Mustafa. Sekarang giliran puterinya yang tercinta, Fatimah Az-Zahra 


    Dalam rombongan itu ada anak-anak dengan ayah mereka beserta teman-teman dekat dari sang ayah. Mereka semua berjalan dalam kebisuan dan keheningan. Pada wajah-wajah mereka tampak kepasrahan dan keridhoan akan apa yang telah menimpa mereka selama beberapa hari ini. 


     Akan tetapi meskipun begitu, sesekali masih terdengar tangis yang tertahan di tenggorokan, meski air mata yang mengucur deras dengan tangisan yang lirih sekali hampir tak terdengar, seakan ingin menyembunyikan kepedihan yang telah menimpa mereka agar tidak ada orang yang mendengar mereka di kegelapan malam, karena memang mereka tidak ingin seorangpun tahu di kota Madinah itu bahwa mereka sedang melakukan sebuah perbuatan yang akan direkam baik oleh sejarah.


Imam Ali dengan kepala merekah dan darah mengering dikeningnya 
setelah ditebas pedang dalam sujud sholat subuh di mihrab mesjid Kufah
Gambar - Ilustrasi  


      Seorang ayah yang tadi disebutkan di atas ialah Imam Ali , sementara anak-anak yang turut bersamanya ialah putera-puterinya. Ada Imam Hasan  di sana, ada Imam Husain , ada Zainab, dan ada Umm Kultsum yang berjalan gontai dalam kebisuan di belakang ayahnya. Bersama mereka ada para sahabat pilihan yang sangat setia kepada Nabi saw, baik ketika Nabi masih hidup atau ketika sudah wafat. Mereka adalah Abu Dzar Al-Ghifari, Ammar bin Yasir, Miqdad al-Aswad, dan Salman Al-Farisi.


         Ketika setiap mata dari penduduk Madinah tertutup, ketika tak ada suara sedikitpun dari mereka, rombongan surga itu meninggalkan rumah Imam Ali  membawa usungan tandu berisi jenazah suci dari puteri sang Nabi, Fatimah Az-Zahra . Anak-anaknya sekarang mengantar jenazah ibunya itu ke sebuah pemakaman yang sunyi yang sudah ditentukan. 


    Akan tetapi di manakah ribuan penduduk kota Madinah yang seharusnya ada di tempatKetika iringan pengantar jenazah puteri Nabi itu lewat, mengapa tak seorangpun dari mereka datang melawat? Mengapa pemakamannya dilangsungkan pada saat dianggap sangat tidak tepat? Mengapa pemakaman itu harus dilangsungkan di kegelapan malam yang pekat?


     Sayyidah Fatimah Az-Zahra memang merencanakan itu semua sebelum wafatnya, dan telah memberi wasiat kepada Imam Ali bin Abi Thalib as agar para penduduk kota Madinah itu tidak datang ke pemakamannya. Ia ingin dikuburkan pada malam hari dan ingin agar kuburannya disembunyikan dari pengetahuan penduduk kota Madinah.


Ada kesunyian dan keheningan yang mencekam di sana, namun tiba-tiba terdengar tangisan agak keras dan parau memecah kesunyian tersebut. 


      Tangisan itu datang dari pahlawan padang pasir yang musuh manapun pasti akan ngeri dan menyingkir saat berhadapan dengannya. Tapi tangisan itu tiba-tiba terdengar lebih keras seakan ingin menuntaskan rasa penasaran, setelah sebelumnya berusaha ditahan sekuat tenaga dan perasaan.


     Dalam liang lahat istrinya, sang pahlawan itu berkata dalam tangisannya:  “Ya, Rasulullah! Salam bagimu, wahai kekasihku. Salam dariku dan dari puterimu yang sekarang ini akan datang kepadamu dan ia sangat bergegas meninggalkanku untuk sampai kepadamu"


         "Ya, Rasulullah, rasa luluh lantak terasa pada diriku dan rasa lemah tak berdaya telah menggerogoti diriku. Itu tak lain karena engkau dan puterimu telah meninggalkanku. Tapi aku sadar semua ini milik Allah dan kepadaNyalah segala sesuatu itu kembali " (Al-Qur’an Surah Albaqarah [2] Ayat 156).


Imam Ali kembali mengadu kepada Rasulullah dalam rintihan yang lirih:

 ”Ya, Rasulullah, puterimu pastilah akan mengadukan kejadian yang sedang menimpa umat ini. Puterimu ingin umat ini bersatu kembali. Puterimu ingin agar engkau datang kembali agar bisa mempersatukan umat yang sudah bercerai berai ini. Dan engkau nanti akan bertanya padanya secara rinci" 


" Engkau akan bertanya mengapa umat ini menentang keluarga Nabi. Mengapa mereka mengkhianati apa-apa yang telah ditentukan oleh Nabi. Dan mengapa mereka melakukan hal ini, padahal kematianmu itu baru saja terjadi dan umat masih merasakan kejadian ini!"  


" Salam untuk kalian berdua! Salam perpisahan dariku yang sedang berduka bukan dariku yang telah tak suka kepada kalian berdua. Kalau aku pergi dari pusara kalian, itu bukan karena aku merasa bosan kepada kalian. Dan kalau aku berlama-lama di pusara kalian, itu bukan karena aku tak lagi percaya dengan kuasa Tuhan dan apa yang telah Tuhan janjikan kepada orang-orang yang tengah ditimpa kepedihan.”


       Setelah menguburkan Fatimah Az-Zahra , rombongan berisi keluaga dekat Nabi dan para sahabat pilihannya itu pun segera bergegas kembali ke rumahnya masing- masing, sehingga tidak ada satu orangpun di kota Madinah yang tahu di mana Fatimah Azzahra dikuburkan (dimakamkan).


      Sesampainya mereka di rumah, anak-anak dengan segera sadar bahwa mereka telah ditinggalkan oleh ibunya. Mereka merasakan kesepian yang mencekik. Imam Ali segera menghibur mereka supaya kesedihan tak terlalu larut membawa pikiran mereka. 


      Mereka semua telah melalui serangkaian kejadian yang menyesakkan sepeninggal Rasulullah. Pengangkatan Imam Ali di Hujatul Wada, di suatu padang bernama Ghadir Kum, sudah dilupakan pengikut nya. Beliau dan keluarga nya sedang memandikan , mengkafankan dan memakamkan Rasulullah, ketika sebagian sahabat sudah sibuk berdebat mencari siapa yang akan menjabat ?  


Warisan Rasulullah pun sudah dirampas penguasa. 


Rumah mereka telah diserang oleh para utusan demi segenggam bai’at . Pintu rumah keluarga Nabi yang dibakar itu pun menimpa Fatimah Az-Zahra — pintu itu mematahkan beberapa tulang iganya dan menggugurkan kandungannya.


       Isteri sang Imam harus terbaring sakit di ranjangnya selama beberapa hari setelah itu, terbaring sendirian dan terisolasi dari dunia luar dan kemudian meninggal dalam kepedihan yang menyesakkan!




MENGAPA MAKAM FATIMAH AZZAHRA DIRAHASIAKAN?


         Hingga detik ini, tidak ada seorang pun yang tahu persis di manakah makam (kuburan) Sayyidah Fatimah Azzahra , yang kepadanya Rasulullah selalu memberikan pernghormatan yang penuh takzim. Rasulullah selalu senantiasa berdiri menyambut apabila Fatimah Az-Zahra  datang menjenguk. Rasulullah seringkali berkata (yang acapkali didengar langsung oleh sejumlah para sahabat dan kaum muslim): “Fatimah itu adalah bagian dari diriku. Siapapun yang menyakiti diri Fatimah akan berarti menyakiti diriku.”


         Sejarah telah mencatat bahwa Fatimah dikuburkan di sekitar Jannat al-Baqi di Madinah, akan tetapi tidak ada seorangpun yang tahu tempat persisnya. Tak ada seorangpun yang bisa menunjukkan dengan pasti di mana makam dari puteri Nabi yang suci itu.



SEJARAH DUKA  FATIMAH AZ ZAHRA 


      Diantaranya adalah, seperti dikatakan oleh ahli sejarah bahwa Fatimah Az-Zahra (semoga Allah melimpahkan padanya kesejahteraan) pernah keluar mendatangi tempat-tempat pertemuan kaum Anshar dan minta mereka membantu dan mendukung Imam Ali. 


Mereka menjawab: “Wahai putri Rasulullah, kami telah berikan bai’at kami pada orang lain Seandainya suamimu dan putra pamanmu mendahului , niscaya kami tidak akan berpaling darinya.”


Kala itu Imam Ali berkata: 

“Apakah aku harus tinggalkan jasad Nabi di rumahnya dan tidak kuurus jenazahnya, lalu keluar berdebat dengan kalian?” 


         Fatimah Az-Zahra  pun menyahut, “Abul Hasan telah melakukan apa yang sepatutnya beliau lakukan, sementara mereka telah melakukan sesuatu yang hanya Allah sajalah akan menjadi Penghisab dan Penuntutnya.”[1]


        Seandainya mereka memang berniat baik dan keliru, maka kata-kata Fatimah Az-Zahra  telah cukup untuk menyadarkannya. Tetapi, hingga 6 bulan kemudian Fatimah az-Zahra masih tetap marah pada mereka dan tidak berbicara dengan mereka sampai beliau wafat.


          Karena mereka telah menolak setiap tuntutan Fatimah Az-Zahra dan tidak menerima kesaksiannya, bahkan kesaksian suaminya sekalipun, akhirnya Fatimah Az-Zahra  pun murka , sampai beliau tidak mengizinkannya hadir dalam pemakaman jenazahnya, seperti yang beliau wasiatkan pada suaminya, Imam Ali.  


          Fatimah Az-Zahra  juga berwasiat agar jasadnya dikuburkan secara rahasia di malam hari tanpa boleh diketahui oleh mereka yang menentangnya.[2]


         Alhasil, hingga hari ini kita  bertanya-tanya kenapa Fatimah Az-Zahra sampai berwasiat dan memohon pada suami nya agar dikebumikan di malam hari secara sembunyi dan tidak dihadiri oleh siapa pun,?  Lalu dimanakah letak pasti makam nya?.  Hal ini juga jadi motivasi guna memungkinkan seorang muslim untuk sampai pada sebuah jawaban dan kebenaran, lewat telaah-telaah nya yang intensif dalam bidang sejarah ."   

"Kenalilah kebenaran, kalian akan tahu siapa mendukungnya" 

Demikian pesan Imam Ali, suami Sayyidah Zahra, Fathimah binti Muhammad Rasullullah.   


Klik >> Kembali Ke Episode Pertama


Catatan Referensi : 

Tarikh al-Khulafa jil. 1 hal.19; 

Syarh Nahjul Balaghah oleh Ibnu Abil Hadid al Mu’tazili.

Shahih Bukhori jil.3 hal. 36; 

Shahih Muslim jil. 2 hal. 72.

buku Wanita-Wanita Kebanggaan Islam (2015) karya Umar Ahmad al-Rawi, Sayyidah Fatimah wafat dalam usia 28 tahun.

Lesley Hazleton dalam After the Prophet: The Epic Story of the Shia-Sunni Split in Islam (2009

Siyar Alamin Nubala karya Adz-Dzahabi,

 Al-Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir, 

Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, 

Zad al-Ma'ad karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah; 

Raudhatul Anwar karya Shafiyyurahman al-Mubarakfuri

Berbagai sumber lainya