Selasa, 14 September 2021

Muhammad bin Ali Zainal Abidin,: Al Baqir

Seri Pemuka Ahl Baith Nabi : Ke Lima,  

Muhammad bin Ali Zainal Abidin, - Al BAQIR : 

Usia hidup 57 tahun. 10 Mei 676 – 28 Januari 732 M. 

By : SAY Qadrie

Pustaka Sejarah 


Muhammad bin Ali Zainal Abidin 
bin Husein putra Fathimah
Muhammad Al Baqir
Gambar Imajiner



Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin,

Salah satu , leluhur keturunan Husein putra Fathimah, binti Rasullullah


1. Pengantar Umum, 


            Muhammad al-Baqir bin Ali bin Husain (676–743), (Bahasa Arab: محمد ألباقر إبن علي) adalah keturunan Ahlul Bait Nabi, cicit Imam Ali, cucu Husain, dan putra Ali Zainal Abidin. 


      Muhammad al-Baqir , Lahir di Medina, sekitar waktu ketika Muawiyah bin Abu Sofyan  tengah mencoba mengukuhkan tahta untuk putra nya, : Yazid .


  Sebagai seorang anak, Al-Baqir menyaksikan Tragedi Karbala , 

  Diperkirakan saat itu beliau usia 4 atau 5 tahun, di mana kemudian semua kerabat laki-laki nya, kecuali ayah nya yang sakit, Ali Zainal Abidin bin Husein : Syahid dan terbunuh. 


    Sebagai seorang pemuda, 

   Al Baqir mengamati perebutan kekuasaan antara "Bani Umayyah" , dengan "Abdullah ibn al-Zubair", pada saat yang sama Al Baqir melihat ayah nya mengundurkan diri dari masalah politik. 


     Al-Baqir dihormati oleh Muslim karena kepemimpinan agama nya, dan dihormati oleh Muslim karena pengetahuan dan keilmuan Islam nya sebagai ahli hukum di Madinah . 


   Muhammad Al-Baqir tinggal sepanjang hidupnya di kota Madinah, namun sebagian besar murid-muridnya tinggal di Kufah. 


   Seperti ayahnya, dia berusaha untuk tidak terlibat dalam konflik yang dipicu melawan Khalifah Umayyah, bahkan mencoba berbicara dengan saudara beda ibu nya, "Zayd ibn Ali ", agar keluar dari konflik.


      

Muhammad al-Baqir : Nama kecil Abu Ja'far


     Lahir : 10 Mei 676  / 01 Rajab 57 H di Madinah :, 

   Masa Kerajaan Umayyah zaman "Muawiyah bin Abi Sufyan", pendiri Daulat Umayyah. Saat Muawiyah wafat, diperkirakan beliau berusia 4 - 5 tahun. Beliau adalah anak kecil yang ikut dijadikan tawanan di Karbala, ketika Yazid membantai kakek nya, Husein bin Ali dan menyeret keluarganya dengan rantai di kaki dan tangan, dari Karbala, ke Kufah, kemudian ke Syam, sejauh 600 kilometer.  


      Wafat : 28 Januari 732  (umur 57) / 07 Dzulhijjah 114 H

     Tempat beristirahat  Pemakaman Jannat al-Baqi , Madinah , Arab Saudi

      - 3 tahun bersama kakek nya Husain

      - 34 tahun bersama ayahnya Ali Zainal Abidin bin Husein as-Syahid

     Gelar al-Baqir (bahasa Arab: Penyingkap keilmuan‎)

      Ayah Ali Zainal Abidin as-Sajjad

      Ibu  Fatimah binti Hasan atau Ummu Abdullah

     Anak Ja'far ash-Shadiq, dll


Muhammad al-Baqir bin Ali bin Husain (676–743), 


             Beliau lahir pada tanggal 1 Rajab 57 Hijriyah, di Madinah. Ayahnya adalah  Ali Zainal Abidin dan ibunya adalah Fatimah binti Hasan bin Ali. Dia mendapatkan penghormatan yang tinggi di kalangan muslim  karena pengetahuan agamanya.


           Beliau hidup sezaman dan semasa dengan berkuasa nya Umar bin Abdul Aziz dari bani Umayyah yang menduduki jabatan khalifah (717-720 M), dikenal dengan  Umar.II. 


          Dimasa inilah penulisan hadis secara khusus baru dimulai atau pada awal abad ke-2 H,  Sayangnya Umar bin Abdul Azis ini, tidak memerintahkan agar mengambil hadist dari pemuka Ahl Baith Nabi yang satu ini, padahal beliau  cukup dikenal pada saat itu. 



2. Susunan Nasab Muhammad Al Baqir


Muhammad bin Ali Zainal Abidin , :  Al Baqir


        Bin Husain putra Fatimah binti Rasulullah bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr[2] bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan bin Ismail bin Ibrahim


        Muhammad al-Baqir ( Arab : ٱلْبَاقِر ‎) nama lengkap Muhammad bin 'Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib , juga dikenal sebagai Abu Ja'far atau hanya al-Baqir ("yang membuka ilmu") [2 ] (677-733) menggantikan ayahnya Zayn al-Abidin dan digantikan oleh putranya Ja'far al-Sadiq .


      Ibunya, Fatima Umm Abdallah, adalah putri Hasan ibn Ali , menjadikan nya penghubung pertama dari kedua cucu Muhammad : Hasan ibn Ali dan Husain ibn Ali .  


     Dalam Naqshbandi order, ia dihormati sebagai ayah Ja'far al-Sadiq, dan periwayatan mereka dianggap riwayat dari Rantai Emas .



Riwayat mengenai Beliau



3. Keluarga, istri , dan keturunan Muhammad Al Baqir, 


3.1. pasangan/  Istri : 

1. Umm Farwah binti al-Qasim

2. Umm Hakim binti Usayd bin al-Mughīrā al-Thaqaf


3.2.  Keturunan Muhammad Al Baqir,  : 

        8 orang putra dan putri :  6 putra, 2 putri sbb : 


3.2.1. Putra : 

1. Ja'far al-Shadiq , bin Muhammad Al Baqir

2. Ibrahim, bin Muhammad Al Baqir

3. Alī , bin Muhammad Al Baqir

4. Abdullah, bin Muhammad Al Baqir

5. Ahmad, bin Muhammad Al Baqir

6. 'Ubaydullah, bin Muhammad Al Baqir


3.2.2. Putri : 

7. Zainab, binti  Muhammad Al Baqir

8. Ummu Salam binti  Muhammad Al Baqir



4. Orang tua Muhammad Al Baqir, 

Ali Zain Al Abidin bin Husain (ayah)

Fatimah binti Hasan (ibu)


Muhammad al-Baqir 

        Lahir di Medina, sekitar waktu ketika Muawiyah bin Abu Sofyan  tengah mencoba mengukuhkan tahta untuk putra nya, Yazid . Sebagai seorang anak, Al-Baqir menyaksikan Tragedi Karbala , diperkirakan saat itu beliau usia 4 atau 5 tahun, di mana kemudian semua kerabat laki-laki nya, kecuali ayah nya yang sakit, Ali Zainal Abidin bin Husein : Syahid dan terbunuh. 


           Sebagai seorang pemuda, Al Baqir mengamati perebutan kekuasaan antara Bani Umayyah , dengan Abd Allah ibn al-Zubair, pada saat yang sama Al Baqir melihat ayah nya mengundurkan diri dari masalah politik. 


       Al-Baqir dihormati oleh Muslim karena kepemimpinan agama nya, dan dihormati oleh Muslim karena pengetahuan dan keilmuan Islam nya sebagai ahli hukum di Madinah . Muhammad Al-Baqir tinggal sepanjang hidupnya di kota Madinah, namun sebagian besar murid-muridnya tinggal di Kufah. 


            Seperti ayahnya, dia berusaha untuk tidak terlibat dalam konflik yang dipicu melawan Khalifah Umayyah, bahkan mencoba berbicara dengan saudara beda ibu nya, "Zayd ibn Ali ", agar keluar dari konflik.


4.1. Keturunan dari ayah dan ibu


Al-Baqir memiliki garis keturunan Sayyid yang menonjol 


          Ayahnya adalah Ali bin Husain "Zayn al-Abidin" , dan kakek dari pihak ayah adalah Husain bin Ali, sedangkan ibunya adalah Fatima Umm Abd Allah, dan kakek dari pihak ibu adalah Hasan bin Ali . 


         Kakek nya Hasan dan Husain adalah dua putra  Ali yang masih hidup melalui istri pertamanya Fatimah, putri bungsu dari Nabi Islam Muhammad, sekaligus merupakan pembawa nasab keluarga Muhammad Rasullullah ini. 



Jafar As - Sadiq bin  Muhammad Al - Baqir
Salah satu putra beliau 
dalam catatan kitab klasik



4.2. Nenek moyang Muhammad al-Baqir


Dari Jalur Ayah dan Ibu : 

     Dari jalur ayahnya Ali bin Abi Thalib , Husain bin Ali, Fatimah binti Muhammad , Ali bin Husain Zayn al-Abidin, sedangkan dari jalur nenek nya Syaharbanun merupakan putri dari Yazdegerd III dari Persia.


4.3. Arti Nama  Al Baqir


   Al-Baqir adalah singkatan dari Baqir al-'ilm , yang berarti "dia yang membuka pengetahuan" (membawanya ke cahaya), atau "orang yang memiliki pengetahuan yang besar", karena dia dikenal karena ilmunya. 


         Menurut Ibnu Khallikan , ia mendapat julukan "al-Baqir" (yang cukup) karena "banyak nya ilmu" yang dikumpulkan nya.


     Namun, Ya'qubi percaya bahwa dia disebut al-Baqir karena dia "membuka pengetahuan", menelaah kedalaman nya. Sebagian  percaya bahwa Baqir al-'ilm bukanlah gelar biasa, karena itu diberikan kepadanya oleh Muhammad kakek moyang nya, jauh sebelum Dia lahir ke dunia. 


Sebuah riwayat menyebutkan :


     " Nabi Muhammad mengatakan bahwa Jabir bin Abdillah, akan bertemu dengan cucunya ini." Dan ketika  Jabir bin Abd Allah duduk di masjid dimana Muhammad Al Baqir tengah menyampaikan pelajaran,

 Jabir bin Abdillah tiba-tiba   menangis sambil berkata : 

      "Ya baqir al-ilm, Ya baqir al-ilm ". 

Meskipun orang Medina berpikir bahwa Jabir gila,

   Dia meyakinkan mereka bahwa Muhammad Sang Nabi telah mengatakan kepadanya: "O Jabir! Anda akan bertemu dengan seorang pria dari keluarga saya yang akan memiliki nama yang sama dan karakteristik yang sama dengan saya. Dia akan membagi pengetahuan secara luas." 


      Jabir bin Abd Allah bertemu al-Baqir ketika melewati sekolah Quran. Abd Allah melihat bahwa Baqir masih anak-anak, dan memeriksanya untuk melihat apakah dia memiliki ciri-ciri yang digambarkan Muhammad Sang Nabi. 


Jabir bertanya, 


   "Demi Dia yang jiwaku berada di tangan-Nya, hai anak laki-laki, siapa namamu?" 

Ketika al-Baqir menjawab bahwa dia adalah Muhammad ibn Ali ibn al-Husain, 

   Jabir "mendekatinya, mencium kepalanya dan bersumpah demi ayah dan ibunya bahwa Muhammad kakek nya, telah menyampaikan  salam untuk nya."


Tentang pertanyaan apakah Baqir dikenal dengan nama ini, 


           Selama hidupnya atau setelah itu, ada riwayat di mana,  "Hisyam bin Abd al-Malik" , bertanya kepada Zayd , saudara lain ibu  Al Baqir,  tentang saudaranya al-baqara. ( sapi) menyiratkan al-baqir. 


     Zaid menjawab Hisyam dengan mengatakan bahwa:" Nabi Muhammad , memanggil saudaranya Al-Baqir (dia yang membelah pengetahuan) sementara Anda memanggilnya al-baqara (sapi)?". 



Ini Kisah Syeck Subakir di Tanah Jawa


5. Biografi Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin 


5.1. Kelahiran dan kehidupan awal


      Al-Baqir lahir di Madinah sekitar tahun 56 H (676 M), ketika Muawiyah I sedang berusaha agar anaknya Yazid I bisa mewarisi kekhalifahan.  Ketika Al-Baqir masih kecil, keluarganya terlibat Pertempuran Karbala ; saat itu dia berusia tiga atau empat tahun ketika kakek nya, Husain, terbunuh.


Menurut Ya'qubi , al-Baqir hadir di Karbala . 


    Di masa mudanya ia menyaksikan perebutan kekuasaan di antara Bani Umayyah , Abdullah ibn al-Zubair dan kelompok lain nya.  Sementara ayah nya "Ali Zainal Abidin bin Husein" menjaga jarak dari aktivitas politik.



5.2. Masa kehidupan Muhammad Al Baqir


5.2.1. Di bawah khalifah Umayyah


    Meskipun tidak terlibat dalam kegiatan politik, penguasa Umayyah melecehkan Muhammad al-Baqir. Banyak individu dan delegasi  datang ke Madinah dari Irak untuk mendengar ajaran al-Baqir dan mengajukan pertanyaan kepadanya, akan tetapi kaum Nashibi  mengubah panggilannya dengan : Al Bagarah ( sapi ) 


5.2.2. Pemerintahan Abd al-Malik bin Marwan bin Al Hakam, 


     Dikatakan bahwa Abd al-Malik ibn Marwan berkonsultasi dengan Muhammad al-Baqir tentang surat ancaman yang dia terima dari kaisar Romawi . Itu karena Abd al-Malik melarang kertas dan pakaian dengan motto Kristen pada mereka. 


     Kaisar Romawi menulis kepada Abd al-Malik, mengancamnya bahwa dia harus berubah pikiran, jika tidak, dia (kaisar Romawi) akan mengukir kata-kata yang menghina Muhammad pada koin yang diukir di kekaisaran Romawi.


    Ketika Abd al-Malik berkonsultasi dengan al-Baqir, dia mengusulkan pembuatan koin, sehingga umat Islam tidak perlu menggunakan koin Romawi. 


5.2.3. pemerintahan Umar II : Umar bin Abdul Azis,  - hanya 3 tahun


Umar II sering dianggap sebagai khalifah Islam yang saleh. 


        Dia banyak membantu keluarga ini, dengan  melarang mengutuk Ali , dan mengembalikan tanah  Fadak kepada keluarga iAHL Baith Nabi ni. 


      Menurut Kohlberg, dalam sebuah riwayat yang disebarkan oleh anti-Ali, dan dicatat oleh Ibn Sa'd , : Al-Baqir mengidentifikasi Khalifah Umar II sebagai Mahdi . 


Al Baqir meramalkan bahwa Umar akan menjadi Khalifah, akan melakukan yang terbaik untuk menyebarkan keadilan dan akan dihormati oleh orang-orang, setelah kematiannya. Menurut kisah ini, penduduk bumi akan menangisi kematian Umar.



5.2.4. pemerintahan Hisyam bin Abd Malik bin Marwan Al Hakam,


Menurut Kohlberg,:  


    Al-Baqir dipanggil beberapa kali ke Damaskus, setidak nya sekali dia ditahan di sana sebagai tawanan. Kemudian dia dikirim ke Madinah, bersama dengan pengawal yang diperintahkan untuk tidak memberi nya makanan atau air dalam perjalanan. 


Menurut catatan yang lebih rinci, 

     Khalifah Hisyam bin Abd al-Malik berziarah ke Mekah , di mana Muhammad al-Baqir dan putranya Ja'far al-Sadiq hadir. 

Dalam sebuah pertemuan, al-Baqir menyampaikan khotbah:

   "Kami adalah hamba-hamba Allah yang paling disayangi dan dipilih, dan khalifah-Nya di muka bumi. Orang yang menaati kita akan berhasil dan orang yang menentang akan menjadi jahat dan celaka."


Pernyataan-pernyataannya disampaikan kemudian kepada Hisyam ,


      Yang kemudian memanggil  al-Baqir dan putranya ke Damaskus. 


      Ketika mereka tiba, dia membuat mereka menunggu selama tiga hari; dan pada hari keempat barulah dia memanggil mereka ke pengadilan, di mana dia selama tiga hari itu hanya berlatih memanah dengan para pejabat nya. 



6. Wafat dan perdebatan tentang sebab nya : 


     Ada perbedaan pendapat tentang tanggal kematian al-Bagir. 


     Beliau hidup direntang masa antara  kisaran waktu dari 114 Hijriah/  732 Masehi,  hingga 118 Hijriah /  736 Masehi. 


6.1.  Menurut salah satu catatan, 


Al-Baqir wafat diracun oleh Khalifah Hisyam bin Abd al-Malik, 


   Yang  lain mengatakan Hisham meninggal sebelum berhasil membuatnya diracuni. yang lain mengatakan  kematian al-Baqir wafat dimasa kekuasaan al-Walid. yang lain lagi yang dikutip oleh Al-Shaykh al-Saduq mengatakan al-Baqir diracun oleh Umayyah Ibrahim b. al-Walld, selama kekuasaan singkat nya. 


       Al-Baqir dimakamkan di bawah kubah di al-Baqi' , di mana Hasan bin Ali dan Ali bin Husain Zayn al-Abidin dimakamkan. 


6.2. Masa Muhammad al-Baqir, Lahir 676 M dan Wafat  antara :114 H/ 732 M,- 118 H / 736 M , Usia hidup : 56 - 58 tahun. 


     Masa kehidupan Al Baqir, selama 56 - 58 tahun, merentang di zaman kekuasaan dinasti Umayyah, : lahir di masa Muawiyah, menjadi tawanan sebagai anak kecil di masa Yazid, mulai remaja di masa Marwan bin Al Hakam, dan dewasa si zaman :


 Hisyam I bin Abdul-Malik, bin Yahya bin Hakam, 106-126 H / 724-743 M -  Memerintah selama 19 tahun, dari keturunan Yahya bin Hakam, saudara Marwan.


11. Al-Walid II bin Yazid II, 126-127 H / 743-744 M              1 tahun

12. Yazid III bin al-Walid, 127 H / 744 M                               kekacauan

13. Ibrahim bin al-Walid, 127 H / 744 M                                kekacauan

14. Marwan II bin Muhammad (pusat di Harran, Jazira), 127-133 H / 744-750 M


     Hisyam merupakan penguasa ke 10 dari Umayyah, yang didirikan Muawiyah bin Abi Sufyan. 

Hisyam keturunan "Al - Hakam bin Abi Al -Ash", 

Dari Yahya bin Al Hakam. ( orang ini, Al Hakam,  pernah dikutuk Nabi, karena sering mengganggu Nabi, mengolok - olok Dawah Nabi, dan mengintip rumah tangga Nabi, mereka dikenal sebagai Kaum Nashibi, belakangan ikut Islam setelah "Fathul Makkah", 2 tahun sebelum Nabi wafat, dan mereka disebut "Kaum Thulaqa" ), 

    Mereka dan keturunannya, merupakan para pembenci keturunan Ali dan keturunan Nabi sejak hidupnya Nabi dan Ali, hingga pembantaian Karbala, : 


   Penguasa Umayyah ini, saat itu,  mereka mulai berhadapan dengan pergolakan dan kerusuhan yang meletus di seluruh dunia Islam karena penindasan "Kekhalifahan Umayyah" ini. 


       Ketidak sepakatan dalam partai Umayyah membuat mereka sibuk, dan mereka meninggalkan  keluarga ini serta tidak mengganggu untuk beberapa waktu. Kondisi ini menyebabkan kaum muslimin bebas  untuk bepergian ke Madinah dalam kelompok besar dan mengunjungi al-Baqir dengan bebas.


          Hal ini menyebabkan Al Baqir lebih leluasa menyampaikan ilmu nya. 


Muhammad Al Baqir dalam kitab 



7. Karomah Muhammad Al Baqir, 


Beberapa karomah  dikaitkan dengan al-Baqir. 


   Dia bisa berbicara dengan binatang, membuat orang buta melihat, dan meramalkan peristiwa masa depan seperti kematian saudaranya Zayd, kekalahan Umayyad dan aksesi Khalifah Abbasiyah , al-Mansur. 


8. Hubungan Muhammad Al Baqir dengan Zaid  saudaranya,: 


   Setelah kematian Ali bin Husain Zayn al-Abidin, sebagian besar ummat menyetujui putranya al-Baqir sebagai pemimpin keluarga  berikutnya; minoritas menyukai putra lain Zayn al-Abidin ( Zayd ibn Ali ). 


     Menurut Ibn Khallikan ,  Zaid (saudara Muhammad al-Baqir), mengimbau orang-orang untuk mendukung perjuangannya. Menurut Al-Masudi , ia meminta nasehat dari Muhammad al-Baqir; al-Baqir menasihatinya untuk tidak bergantung pada orang-orang Kufah , menjelaskan bagaimana mereka sebelumnya berperilaku terhadap anggota keluarganya.


    Zaid tidak mendengarkan nasihat saudaranya, Dan memimpin orang-orang Kufah dalam perlawanan yang menyebabkan Ia Syahid. Jasadnya digali oleh bani Umayyah, mayat kepalanya kemudian dipenggal dan dikirim ke Syam. Sementara jasadnya digantung dipintu kota bertahun - tahun hingga mengering, setelahnya diturunkan, dan dibakar, abunya dihamburkan beterbangan ditiup angin, Innalillah. 


8.1. Menurut Al-Shahrastani ,


      Perselisihan telah muncul antara Muhammad al-Baqir dan Zaid karena Zaid telah mengikuti Mu'tazilah Wasil ibn Ata.  Zaid juga telah mengumumkan bahwa posisi pemimpin bergantung pada penampilannya di depan umum untuk menegas kan hak-haknya. 


Muhammad al-Baqir menolak klaim ini dan menjawab, 


     "Imanmu hanya pada ayahmu , karena menurut teorimu dia bukan seorang pemimpin, karena dia pasti tidak pernah muncul untuk menegaskan klaim nya." 


Suksesi


       Al-Baqir digantikan oleh putranya Ja'far al-Sadiq ,sebagai kepala keluarga ini yang diterima oleh keluarganya sebagai kepala keluarga berikutnya dari keturunan Husein bin Ali ini. 


8.2. Menurut Lalani, 


      Al-Baqir adalah orang yang sangat luas ilmunya, darinya sejumlah besar hadis diturunkan, sebagaimana nama al-baqir (yang membelah ilmu) menunjukkan munculnya Ilmu ini dalam berbagai hal,  termasuk :  tafsir. Al - Qur'an, pengetahuan hadits Nabi, masalah hukum, dan topik teologis baik yang bersifat duniawi maupun spiritual. 


       Penafsiran Al-Qur'an, sebagai perhatian utama zaman Al Baqir, membutuhkan beberapa bidang ilmu lain seperti,: filologi dan leksikografi. Juga ucapan dan tindakan nabi yang memiliki beberapa relevansi dengan subjek teks Quran, harus dikumpulkan.


    Aturan kehidupan sehari-hari umat Islam, juga dicari dari praktik nabi yang disebut Sunnah  Ini memunculkan pengetahuan Hadis , yang dengan sendirinya, bersama dengan Quran, merupakan dasar dari pengetahuan Kalam dan fiqh . 


     Baqir dikenal karena mendirikan mazhab Hukum, kemudian dikenal sebagai Madzhab Ja'fari diambil dari nama putranya, Ja'far al-sadiq, yang mengembangkan sekolah tersebut. 


       Baqir membawa kembali ritual-ritual seperti ungkapan "Heyya ala khairil amal" ( berbuat sebaik-baiknya) ke Adzan ; 


      Melarang menyeka sol alas kaki, bukan kaki, dalam wudhu ; dan mencabut larangan Nikah Mut'ah, yang dilarang di zaman pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab dulu. 


       Pandangan Baqir tentang hal-hal yang berkaitan dengan kepemimpinan umat , seperti Islam, Imam dan Ghada wa Ghadar dibedakan di antara diskusi teologis yang serius terjadi di antara para ulama.  


Jadi al-Baqir adalah penggagas prinsip-prinsip yang kemudian menjadi prinsip khas dari ajaran berkelanjutan keluarganya.


     Al  Baqir menekankan pentingnya kecerdasan dengan mengatakan bahwa Allah akan meminta pertanggungjawaban setiap orang pada hari penghakiman "sesuai dengan tingkat kecerdasan (kemapuan akal dan fikir ) yang mereka terima dalam kehidupan duniawi" 



 Mengenal Leluhur Beliau, Imam Ali bin Abi Thalib



9. Murid-murid  Muhammad Al Baqir


      Sebagian besar murid-murid nya berada di Kufah , beberapa lain nya di Mekah dan Basra . Yang paling menonjol, di antaranya adalah: Jabir bin Yazid al-Ju'fi, Aban bin Taghlib, Zurara bin A'yan dan Burayd bin Mu'awiya al-ijli.


9.1.  Di Irak dan sekitar nya, 


9.1.1. Jabir ibn Yazid al-Ju'fi ,

        Kadang-kadang dikenal sebagai Thiqa (dapat dipercaya), diakui sebagai Babul (gerbang) al-Baqir, yang menceritakan 70 hadits rahasia kepadanya. 

Jabir mengklaim bahwa dia telah melihat beberapa keajaiban dari Baqir;  Jabir juga perawi beberapa hadis dalam kitab Umm al-Kitab , yang merupakan jawaban Baqir atas pertanyaan para pengikutnya.


9.1.2.  Aban ibn Taghlib adalah murid lain dari Muhammad al-Baqir. 


       Dia sebelumnya adalah murid ayah Baqir, zayn al-abedin, dan hidup cukup lama untuk menceritakan tradisi dari putra Baqir, Ja'far al-Sadiq, juga. 

Dia adalah seorang ahli hukum dan hadis terkenal, sehingga Baqir mengatakan kepadanya " Duduklah di masjid Kufah dan berikan penilaian hukum kepada orang-orang. Sesungguhnya saya ingin melihat di antara murid saya, orang-orang seperti Anda". 

    "Pada masa al-Shadiq , Aban begitu terkenal sehingga setiap kali dia mengunjungi Madinah, orang-orang akan memberi jalan kepadanya dan membiarkannya bersandar pada tiang yang digunakan nabi untuk bersandar. 


9.1.3. Zurarah ibn A'yan,:


    Adalah mantan murid al-Hakam ibn Utayba,( bukan Al - Hakam Ibn Abi Al Ash ) kemudian berganti baiat dan bergabung dengan Muhammad al-Baqir. Zurarah dan murid-muridnya memainkan peran penting dalam perkembangan keilmuan, karena sejumlah besar tradisi keluarga Al Baqir  ditransmisikan melalui dia. 

    Zurarah hidup cukup lama dan kemudian  menjadi murid dekat Ja'far al-Sadiq juga. 


9.1.4. Muhammad bin Muslim : 


         Adalah seorang Mawla dari Thaqif , yang menjadi terkenal di kalangan hukum Kufah karena keputusannya yang cepat sebagai pengacara yang berpraktik. Ia juga dikenal sebagai seorang penganut tradisi dan pertapa. 


9.1.5. Burayd ibn Mu'awieh Ejli adalah murid terkenal lainnya, dari al-Baqir dan al-Sadiq. 

         Dia adalah seorang ahli hukum yang kemudian menjadi otoritas dalam Fiqh jafary Diketahui bahwa al-Baqir mengatakan dia (bersama dengan Abu Basir Moradi, Muhammad bin Muslim, dan Zurarah) layak masuk surga. 


9.1.6. Abu Basir Moradi adalah rekan lain dari al-Baqir dan al-Sadiq, 


     yang merupakan seorang Faqih dan ahli tradisi yang terkenal. Al-Sadiq percaya bahwa kata Moradi, Zurarah, Burayd dan Muhammad ibn Mosmlem, bahwa tanpa mereka Hadits kenabian akan hilang. 


9.1.7. Abu Hamza al-Thumali dan Abu Khalid Kameli ,: 


    Mantan murid Zayn al-Abedin, juga termasuk di antara pengikut al-Baqir. Menurut, Abu Hamza al-Thumali adalah perawi hadis terpercaya, terutama tentang mukjizat. 


9.1.8. Fudayl ibn Yasar adalah rekan terkenal lainnya, dari al-Baqir dan al-Sadiq. 

        Dikatakan bahwa al-Shadiq mengatakan tentang dia apa yang dikatakan nabi tentang Salman orang Persia , bahwa Fudayl berasal dari kami, Ahlil Bait


9.1.9. al-Kumayt atau( Kumail ?) ibn Zayd al-Asadi : 


Adalah seorang penyair terkenal pada masanya. 

     Hashimiyyat -nya , memuji Ahl al-Bayt dan dianggap sebagai salah satu bukti kuno doktrin agar berpegang kepada keluarga ini. Salah satu penginggalan Kumail Ibn Zayd adalah doa yang diajarkan kepada  leluhurnya lewat lisan Imam Ali, bernama : "Doa Kumail".


9.1.10. Abu Ja'far Muhammad ibn Ali ibn Nu'maa :  adalah seorang teolog terkenal, Basrah


9.1.11. Muhammad bin Marwan al-Bashri lahir di Kufah.


            Menurut al-Kashani, dia adalah keturunan "Abu al-Aswad al-Du'ali "salah satu pembela keluarga Ali, yang sempat merampas "tawanan" keluarga Rasullullah saat digiring menuju Damaskus tempo hari. 


9.1.12. Isma'il ibn Fadl al-Hashemi: 


       Adalah pengikut al-Baqir terkemuka lainnya, dan perawi hadis yang terpercaya . Dia adalah keturunan Abd al-Muttalib 


9.1.13. Malek ibn A'yan al-juhani yang tidak boleh disamakan dengan saudara Zurara yang memiliki nama yang sama. ( Maksudnya mereka 2 orang yang berbeda, dengan nama yang sama ) 



9.2. Murid Muhammad Al Baqir Di Mekah Al Mukarramah,


9.2.1. Ma'ruf ibn Kharbuz Makki : 


        Adalah seorang faqīh dan tradisiis , tidak sebanding dengan Zurarah, namun terkenal di Mekah. Menurut al-Kashani dia adalah seorang ulama moderat. 


9.2.2. Maymun ibn al-Aswad al-Qaddah : 


      Adalah pengikut terkemuka al-Baqir dan putranya, al-Sadiq di Mekah. Menurut Ivanov , Maymun adalah sejenis saudagar yang menguasai harta Baqir di Mekah. Ia bukanlah sosok yang terpelajar, namun memiliki karakter yang mengesankan, mungkin karena kejujurannya.


9.2.3. Pengikut Muhammad al-Baqir terkemuka lainnya , 


           Yang tidak ditentukan di mana mereka tinggal: Muhammad ibn Isma'il Bazi, dan anggota keluarga Bazi lainnya, Abu Harun dan senama, Abu Harun Makfuf, Uqba ibn Bashir al-Asadi, Aslam al-Makki, dan Najiyy bin Abi Mu'adz bin Muslim. 


10. Buah Pemikiran Muhammad Al Baqir:  ( dalam bentuk kitab dibukukan )


10.1. Musnad al-Imam al-Baqir


    Musnad al-Imam al Baqir adalah buku enam jilid yang dikaitkan dengan Al Baqir,. Buku itu mencakup: masalah hukum seperti perceraian, pembebasan, kesaksian, warisan, pemakaman, dan pernikahan; Praktek - praktek ritual seperti doa (permohonan), doa, puasa, sedekah , dan haji; dan Masalah doktrinal seperti tauhid ,  keimanan , dan kekafiran . 


10.2. Ma'athiru'l-Baqiro


Dalam Ma'athiru'l-Baqir al-Baqir : 

         Dibahas beberapa topik, mulai dari sifat ruh dan sifat ulama hingga sifat-sifat Tuhan dan sifat ketuhanan (menjelaskan bahwa tidak mungkin manusia dapat memahaminya) . 

       Seorang pria bertanya kepadanya, "Haruskah saya memikirkan sesuatu (untuk memahami Allah)?" al-Baqir menjawab: "Ya, tetapi Anda harus membayangkan sesuatu yang tidak dapat ditampung oleh pikiran, dan yang tanpa batas".

     Dia tidak seperti apa pun yang muncul dalam pikiran Anda. Tidak ada yang menyerupai-Nya dan tidak ada pikiran yang dapat mencapai-Nya.

Dia juga berkata, 

         "Bicaralah tentang ciptaan Allah, tetapi jangan berbicara tentang Allah itu sendiri, karena itu tidak menambah pemilik pembicaraan kecuali kebingungan." 


    Dia mendefinisikan perbedaan antara Rasul dan Nabi, dengan berkata :


  "seorang Rasul sebagai seorang nabi yang mendengar dan melihat malaikat dalam wujud fisik atau dalam mimpi. Sedangkan, Seorang Nabi adalah seorang Nabi yang mendengar tetapi tidak melihat malaikat," 


  Ketika ditanya tentang pengetahuan kolektif Al - Qur'an , Imam al-Baqir mengatakan bahwa : "tidak ada yang mengumpulkan dan menghafal Kitab Suci seperti yang diturunkan Allah kecuali Muhammad sang Nabi , Ali bin Abu Thalib dan Keturunan langsungnya yang dikenal sebagai Ahl Bait ". 


   Selanjutnya, tidak ada yang bisa mengklaim bahwa mereka memiliki pengetahuan tentang seluruh Quran, esensi yang tampak dan tersembunyi, kecuali pelaksana kehendak Nabi Suci. 


10.3. Ummu al-Kitab


       Umm al-Kitab , atau Pola Dasar Kitab , adalah diskusi antara Al Baqir  dan tiga sahabat. Menyerupai Injil Masa Kecil Thomas , itu menggambarkan kesamaan antara imamologi dan Kristologi gnostik. 


    Konsep utama dari karya ini adalah deskripsi pengalaman numinus . Motif utamanya adalah penjelasan psikologis dan filosofis dari simbol-simbol spiritual, dengan orang-orang percaya yang diinstruksikan untuk melakukan tindakan pemurnian dan pembaruan diri. Warna digunakan untuk melambangkan teori dan tingkat kesadaran yang harus dikenali seseorang dalam dirinya. 


Umm al-Kitab adalah jawaban Baqir atas pertanyaan para pengikutnya. 


           Jabir bin Yazid al-Ju'fi adalah perawi beberapa hadis dalam kitab tersebut.  Di bagian utama buku ini, al-Baqir mengungkapkan rahasia al-Ju'fi, seperti bagaimana kosmos diciptakan, bagaimana jiwa manusia jatuh ke dunia ini dan bagaimana ia bisa mendapatkan pembebasan darinya. 


10.4. Tafsir al-Baqiro


      Tafsir al-Baqir , atau tafsir Abul Jaroud adalah al-Baqir ini tafsir dari Quran . 

      Ibn al-Nadim memasukkan buku ini dalam daftar penafsir Quran dalam Kitab al-Fihrist-nya , menulis bahwa Abul Jaroud Ziyad ibn Abi Ziyad (kepala Jarudiyya ) melaporkan buku al-Baqir.

     Menurut Sayyd Hasan al-Sadr, "Sekelompok orang  terpercaya melaporkan buku darinya [Abul Jaroud] dari hari-hari kebenarannya"; di antaranya adalah Abu Basir Yahya bin al-Qasim al-Asadi. Ali bin Ibrahï~m bin Hashim al-Qummi juga menyebutkannya dalam bukunya Kitāb al-Bāqir (“Kitab alBāqir”), dengan otoritas Abu Basr. [6] [4]


10.5. Dalam karya - karya lainnya ,


    Al-Baqir terkenal sebagai seorang Faqīh (ahli fiqih), karena pengetahuannya tentang Tafsir (tafsir Al-Qur'an), dan teologi.  "Ia juga dikenal sebagai Tshiqa, yang paling dapat dipercaya dalam menyampaikan hadits Nabi Muhammad".

       Al-Baqir dikutip oleh Ibn Ishaq untuk beberapa biografi Nabi dan oleh Al-Tabari untuk beberapa versi cerita Pertempuran Karbala, hanya saja tidak  ditemukan hadist dari riwayat beliau ini, dalam jumlah memadai, sebagaimana "Abu Hurairah ?". 


Abd Allah ibn Ata al-Makki :

    Mengatakan dia belum pernah melihat para ulama merasa begitu kecil di hadapan siapa pun seperti yang mereka rasakan sebelum al-Baqir. 

      Dia menambahkan; bahkan ahli hadis terkenal, al-Hakam ibn Utayba, terlepas dari usia dan kedudukannya, berperilaku dihadapan  al-Baqir, sebagaimana dia adalah seorang murid sebelum seorang guru. 

    Muhammad ibn al-Munkadir mengatakan bahwa dia belum pernah melihat orang yang melebihi Ali ibn al-Husain , sampai dia bertemu dengan Muhammad al-Baqir. 



Muhammad Al Baqir, dalam kitab 


11. Siapakah Muhammad Al Baqir ? 


        Muhammad al-Baqir adalah seorang tokoh sufi yang terkenal , yang sering menyebut dia dalam buku-buku biografi mereka sebagai seorang ahli dalam seluk-beluk ilmu (esoteris) (daqāʾiq al-ʿulūm), sindiran halus dari Quran (al-ishārāt). jalan spiritual (al-sulūk), dan gnosis (maʿārif). 


     Al Baqir juga dikenal melakukan mukjizat terkenal (karāmāt), tanda-tanda bercahaya (āyāt), dan bukti-bukti nyata (barāhīn) di antara para Sufi, dan dikatakan dia memperoleh tingkat spiritual para gnostik (maqāmāt al-ʿārifīn). 


     Al-Baqir telah mendefinisikan tasawuf sebagai "kebaikan watak: dia yang memiliki watak yang lebih baik adalah sufi yang lebih baik". 


Bagian menarik yang menunjukkan karakter intelektual dan spiritual  Al Baqir adalah sebagai berikut:

 Seorang pria pernah bertanya kepada al-Baqir,

        "Apakah Nabi Muhammad pewaris semua pengetahuan para nabi ?" 

Dia menjawab, "Ya";

         Kemudian dia ditanya apakah dia ( Maksudnya Al Baqir )  mewarisi nya?

Dia ( Al Baqir ) bilang dia punya. 

Dia kemudian ditanya apakah dia bisa menghidupkan orang mati, memulihkan penglihatan orang buta, dan membersihkan penderita kusta. 

          Dia berkata, "Ya, demi kebesaran  Tuhan Yang Mahatinggi.

         " Dia kemudian meletakkan tangannya di mata seorang pria dan membutakan nya, dan kemudian mengembalikan penglihatannya. Banyak lagi cerita seperti itu yang diceritakan. 


12. Kelompok yang sering dikaitkan dengan  Al Baqir : Kaum Ghulat


   Di antara para ekstremis yang mengklaim mendapatkan pengetahuan dan otoritas mereka dari al-Baqir, adalah "Abu Mansur al-Idjli", dan dilaporkan al-Mughira ibn Sa'id al-Idjli, yang mengatakan al-Baqir adalah seorang nabi dan menganggap diri mereka sebagai penerus yang ditunjuk. kepada al-Baqir. 

Klaim ini ditentang oleh Al Baqir, dan kelompok mereka ini di sebut : Ghulat, Ekstrim. 



----------------------

Referensi

 Syekh al-Mufid. "The Infallibles - Diambil dari Kitab al Irshad" . Diarsipkan dari versi asli pada 20 Agustus 2009 . Diakses pada 19 Mei 2009 .

 Sejarah Singkat Empat Belas Infalibel . Qum: Publikasi Ansariya. 2004. hal. 117.

 al-Qarashi, Baqir Shareef. "3". Kehidupan Imam Mohammad al-Baqir . Qum: Publikasi Ansariya.

 Sharif al-Qarashi, Baqir (1999). Kehidupan Imam Muhammad al-Baqir; Bab VI & VIII (PDF) . Diterjemahkan oleh Jasim al-Rasyid. Qum, Republik Islam Iran: Publikasi Ansariyan. ISBN  964-438-044-4.

 Tabatabai, Muhammad Husain (1975). Islam Syiah . Diterjemahkan dan Diedit oleh Seyyed Hossein Nasr. Universitas Negeri New York Press. hlm. 68, 179. ISBN  0-87395-390-8.

 Kohlberg 1993 , hal. 398

 Donaldson, Dwight M. (1933). Agama Syi'ah: Sejarah Islam di Persia dan Irak . PERS BURLEIGH. hal 112–119.

 Dakake, Maria Massi (2007). Komunitas Karismatik: Identitas Syi'ah di Awal Islam . Amerika Serikat: Universitas Negeri New York Pr. P. 72. ISBN  978-0-7914-7033-6.

Meri, Josef W (2005). Peradaban Islam Abad Pertengahan: Sebuah Ensiklopedia (Edisi ke-1). Routledge . P. 523. ISBN  978-0-415-96690-0.

 Al-Kulayni, Abu Ja'far Muhammad ibn Ya'qub (2015). Kitab al-Kafi . South Huntington, NY: The Islamic Seminary Inc. ISBN  9780991430864.

 Jual, Edward (1923). Itna Asharíyya, atau Duabelas Imam Syi'ah, hlm. 18-19. Penerbit . Madras, India: Masyarakat Sastra Kristen untuk India. hal.18–19.

 Corbin, Henry (2001). Sejarah Filsafat Islam . Diterjemahkan oleh Liadain Sherrard dengan bantuan Philip Sherrard. London dan New York: Kegan Paul Internasional. hal.75–76.

 Kohlberg 1993 , hlm. 398–399

Kohlberg, Etan (1993). Pellat, Heinrichs; C٫ Edmund Bosworth; E٫J٫ van Donzel (eds.). MUHAMMAD B. ALI ZAYN AL-ABIDIN . New York: Ensiklopedia Islam, Volume VII.

Lalani, Arzina R. (2000). Pemikiran Syi'ah Awal: Ajaran Imam Muhammad Al-Baqir . IB Tauris. ISBN 978-1860644344.


Referensi tambahan : 

 "Inilah Jalur Dzurriyah Nabi yang Tidak Mengutamakan Gelar". Duta Islam. 26 Oktober 2017. Diakses tanggal 13 Oktober 2020.

 Zad al-Ma'ad karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah; Quraisy adalah julukan bagi salah satu di antara Fihr atau an-Nadhr (Raudhatul Anwar karya Shafiyyurahman al-Mubarakfuri).

 Siyar Alamin Nubala karya Adz-Dzahabi

 Al-Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir

 Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani

Keturunan Muhammad al-Baqir. Naqobatul Asyraf


Catatan kaki

 Lihat Ibn Khallikan , terj. de Slane, Vol. II, hal. 579 dan Ya'qubi , Sejarah, Vol. II, hal. 384.

 Lihat buku-buku biografi orang-orang terkenal dalam Islam seperti Irshad, hlm.245-253. Lihat juga Kitab Rijal al-Kashshi oleh Muhammad ibn Muhammad ibn 'Abd al-'Aziz Kashshi , Bombay, 1317; Kitab rijal al-Tusi oleh Muhammad ibn Hasan Tusi, Najaf, 1381; Kitab-i fihrist dari Tusi, Calcutta, 1281: dan buku-buku biografi lainnya.

 Lihat Ibn Khallikan, terjemahan. de Slane , Vol. III, hal. 274.

 Lihat Shahrastani, Kjtab al-milal wa'l-nihal (Kitab Sekte Agama dan Filsafat) edit. Kureton , hal. 116 dst.