Rabu, 25 Desember 2024

SULTAN MUHAMMAD PONTIANAK

 MANAQIB KESULTANAN QADRIAH PONTIANAK 

SULTAN SYARIF MUHAMMAD ALKADRI JAMALULLAIL 

SULTAN (1895 M - 1944 M) Selama 49 Tahun


Sultan  Kesultanan Kadriah Pontianak ke VI
DYMM Sultan Syarif Muhammad Alkadri 
Ibni 
Allahyarham Sultan Syarif Yusuf Alkadri Jamalullail 



SULTAN SYARIF MUHAMMAD ALKADRI JAMALULLAIL 

SULTAN (1895 M - 1944 M) Selama 49 Tahun

Di nobatkan 22  Agustus 1895 M -  28 Juni 1944 M


Beliau termasuk korban pembunuhan Jepang 1944 M


Lahir : Pontianak, 1294 M - 1873 M


Wafat : Pontianak, 28 Juni 1944 M - 1365 H


Dalam Usia : 71 Tahun


Makam: Batu Layang Jalan Khatulistiwa Siantan Hulu Kota Pontianak Kalbar Indonesia 


Jumlah istri : 10


Istri yang di Sepuhkan: Ratu Suri Mahkota Agung Syecah Jamilah binti Mahmud Syarwani Almaky Adagistani Alghoust Asyadjely Alhasani anak tertua Syech Mahmud Syarwani


Adapun  putra-putri Sultan Muhammad , diantaranya yaitu :

 

1.Syarief Hamid Alqadrie,

2.Syarifah Maryam Alqadrie glr (gelar) Ratu Laksamana Negara,

3.Syarifah Hadijah Alqadrie glr Ratu Perbu Wijaya,

4.Syarifah Fatimah Alqadrie glr Ratu Anom Bendahara,

5.Syarifah Safiah Alqadrie glr Ratu Cikre,

6.Syarifah Maimunah Alqadrie glr Ratu Kusuma,

7.Syarif Usman Alqadrie glr Pangeran Adipati,

8.Syarief Mahmud Alqadri glr Pangeran Agung,

9.Syarief Abdul Muthalib Alqadrie glr Pangeran Muda,

10. dan Tengku Mahmud.

 

Sedangkan menantu-menantunya adalah:

1.Syarief Hamid Alqadrie       (suami: Syarifah Maryam),

2.Syarif Yusuf Alqadrie            (suami: Syarifah Hadijah),

3.Syarief  Usman Alqadrie     (suami: Syarifah Fatimah),

4.Syarief Ibrahim Alqadrie     (Suami: Syarifah Safiah),

5.Syarief Umar Alqadrie          (suami: Syarifah Maimunah).



Sejarah Kesultanan Pontianak
DYMM Sultan Syarif Abubakar 
Sultan Kesultanan Kadriah Pontianak
( 2004 - 2017 M ) 


Sultan Syarif Muhammad Alkadri, ...


 Adalah salah satu Sultan yang menjabat terpanjang Kesultanan Qadriah Pontianak (1895 M 1944 M) dan beliau merupakan korban peristiwa berdarah Pembunuhan Jepang yang menelan sekitar 50.000 Masyarakat Kalimantan Barat,


 Di mana terdapat sekitar 333 Marga Alkadri, 


Baik yang di masukan di dalam karung kemudian di bawa ke Mandor maupun yang di Sungkup dan di bawa ke Mandor dengan Trak - Trak perang Jepang secara di tumpuk sehingga di antara korban - korban tersebut ada yang terjatuh kemudian di lindas begitu saja secara berulang kali untuk memastikan bahwa orang yang di dalam karung tersebut sudah meninggal dalam kondisi yang mengenaskan


Sejarah pilu Sultan Syarif Muhammad Alkadri,... 


 Beserta 60 - 66 Keluarga di Istanah Qadriah Pontianak semuanya tewas kecuali yang sempat melarikan diri sebelum kedatangan Jepang mengepung Istanah Qadriah Pontianak baik dari pintu gerbang depan, belakang, samping kiri dan samping kanan di kala itu sudah terkepung (Penuturan Syarifah Aminah Binti Pangeran Ali Bin Sultan Syarif Muhammad Alkadri) di mana ayahnya Pangeran Cakra Syarif  Ali Bin Sultan Syarif Muhammad Alkadri juga merupakan korban penyungkupan Jepang


Ada kisah yang menarik tentang 

Sultan Syarif Muhammad Alkadri Jamalullail 


Beliau adalah salah satu Sultan yang di tangkap , 


Ketika akan di esxsekusi (Pancung) ternyata tidak bisa, kemudian di tusuk di bagian bawah juga tidak bisa, kemudian di tembak berkali - kali juga tidak bisa, bahkan sempat di masukan di dalam karung kemudian di beri pemberat batu di dalam air juga tidak bisa, maka Ahirnya Sultan Syarif Muhammad Alkadri Jamalullail berkata bahwa semua kehendak Allah



Akan tetapi karena hampir semua keluarganya sudah menjadi korban dan beliau juga mengatakan ALKADRI adalah orang yang PASRAH dan beliau juga berkata ""Bahwa Takdirnya Meninggal di tangan Jepang tetapi bukan dengan cara kekerasan melainkan cukup dengan mencabut kuku Induk jari sebelah kanan, maka Saya akan menghadap Allah""


Setelah Sultan Syarif Muhammad Alkadri meminta ijin untuk bersyahadat dan membaca Sholawat sebanyak tujuh kali baru Jepang mencabut Ibu Jari kuku sebelah kanan kemudian beliau langsung menghembuskan napas terakhir berpulang Kerahmatullah



Kekejaman Militer Jepanng



KESAKSIAN PUTRI SULTAN MUHAMMAD 


Ratu Perbu Wijaya dan Ratu Anom Bendahara, 


 Saksi hidup peristiwa yang sangat mengerikan itu. Saat kejadian beliau berusia sekitar 33 th dan 30 tahun ketika Jepang  masuk dan menduduki Kalbar pada tahun 1942.

Dimana kemudian terjadinya Tragedy Berdarah Mandor.

 

Pada penangkapan tanggal 24 Januari 1944,


 Sultan Muhammad telah diambil bersama seluruh anak laki-lakinya, 


       Kecuali Syarif Hamid ( Kemudian dikenal sebagai Sultan Hamid.II )  Juga semua menantunya, kecuali Syarief Ibrahim. Ditambah lagi dengan sejumlah keluarga dekat, baik yang bertempat tinggal di dalam lingkungan tembok Istana Qadriyah, maupun yang tinggal di luar tembok istana.


        PKKAJ (Persatuan Keluarga Korban Agresi Jepang) Kalbar mencatat ada 60 korban yang berasal dari keluarga Istana Qadriyah Pontianak.


Selanjutnya,............

inilah penuturan Ratu Perbu Wijaya dan Ratu Anom Bendahara:


           Pada subuh 24 Januari 1944, 

       Sekitar jam 03.00 tiba-tiba saja suasana yang mencekam dan mencemaskan terjadi di dalam lingkungan tembok Istana Qadriyah, Kampung Dalam – Pontianak. 


Diperkirakan tidak kurang dari 15 lusin tentara Jepang telah mengadakan stelling. Mereka berpencar di seluruh rumah yang didiami keluarga Alqadrie dengan senapan berbayonet terhunus.


Dari celah-celah lantai rumah yang bertiang tinggi, kelihatan bayonet diacung-acungkan. Kemudian setelah itu, pintu-pintu rumah digedor. 


Beberapa orang kempeitai masuk, membawa lampu senter. Di tangannya tergenggam sebuah daftar “les hitam” berikut foto dari calon-calon korban. Seluruh penghuni rumah dikumpulkan, dipilih mana yang termasuk ke dalam daftar tersebut.


Muka para calon korban ditutup dengan sembarang apa yang bisa. Apakah itu taplak meja, atau karung atau gorden. Tangan diikat ke belakang.


Di antara penghuni Istana Qadriyah ada yang bermaksud untuk meloloskan diri lewat pintu belakang. Tapi ternyata di sana pun telah berjaga-jaga tentara Jepang.


         Sultan Muhammad Alqadrie yang pada ketika itu baru saja selesai makan sehabis salat, diberitahu tentang apa yang sedang terjadi. Namun Sultan tampak tenang-tenang saja, bahkan berkata, :


”Tidak apa-apa, Jepang sedang mencari orang-orangnya…….. ”


Mungkin sesungguhnya kalimat itu masih akan berlanjut, tetapi keburu muncul tentara Jepang yang langsung menangkapnya. Semula Sultan akan diperlakukan juga seperti korban-korban lainnya, yaitu mata ditutup dan tangan diikat ke belakang.


 Tapi Sultan Muhammad menolak, dan dengan berwibawa berkata, 

”Saya tidak akan lari!”


         Di rumah yang lain, di samping istana, Ratu Anom Bendahara sempat menerima pukulan-pukulan senter di kepalanya karena menentang perlakuan Jepang terhadap suami dan keluarganya yang lain.


Di rumah-rumah keluarga Alqadrie itu,


Jepang bukan hanya telah mengambil manusia, tapi juga barang-barang perhiasan berharga. Untuk maksud itu mereka telah mengobrak-abrik seluruh isi rumah. Dari tingkat dua Istana Qadriyah tampak barang-barang perhiasan seperti emas, intan dan berlian diturunkan dengan menggunakan tali.


Termasuk di situ alat-alat senjata yang bertatahkan berlian, bahkan dua buah mahkota emas tulen. (Apa yang masih terlihat pada masa kini, hanyalah duplikat yang terbuat dari perak bersepuh emas – pen.). 


Orang-orang yang berhasil diambil dari rumahnya masing-masing itu dikumpulkan dekat tiang bendera, di halaman istana. Pada dada mereka disematkan secarik kertas atau kain sebagai tanda. Kemudian orang-orang itu diseberangkan dengan motor air yang dikenal dengan sebutan “motor sungkup”.


             Hingga sore hari Istana Qadriyah masih diblokir oleh tentara Jepang. Selain mencari orang-orang yang belum ditemukan, juga mencari barang-barang berharga. Untuk mencari yang disebut terkahir ini, kiranya cukup memakan waktu.


Salah seorang putra Sultan Muhammad yang berhasil meloloskan diri adalah Syarif Abdul Muthalib glr Pangeran muda. Ketika penangkapan berlangsung, ia berhasil mengelabui tentara Jepang.


Karena tak berhasil menemukannya, Jepang membuat janji bohong. Jika Pangeran Muda menyerahkan diri, maka Sultan Muhammad akan dipulangkan. Atas desakan saudara-saudara perempuannya yang menginginkan Sultan segera dikembalikan, pun atas kehendak sendiri,


Akhirnya Pangeran Muda menyerahkan diri.“Selamat tinggal……,” kiranya itulah kalimat perpisahan dan menjadi kalimat terakhir yang terdengar dari mulut Pangeran Muda.



Eksekusi Ala Jepang,..


Sungguh memilukan,.......


Selesai penangkapan itu,


       Tanggal 7 Maret 1944 kembali Jepang menangkap lagi seorang keluarga Qadriyah yaitu Syarifah Maimunah glr Ratu Kusuma. Berikutnya Syarief Ibrahim Alkadri, menantu Sultan Muhammad.


Namun yang terakhir ini dipulangkan setelah ditahan selama sebulan.


  Belum puas dengan apa yang telah diperolehnya, selama lebih kurang 6 bulan setelah penangkapan, tentara Jepang selalu saja datang ke istana. 


Mereka datang seolah-olah membawa pesan dari warga Istana Qadriyah yang telah ditahan, minta kirimkan ini dan itu.  Apa boleh buat, pesan itu terpaksa dipenuhi.


 Pesan yang benar dari sekian banyak pesan, mungkin hanyalah permintaan Sultan Muhammad, agar dikirimkan sebuah kelambu kasa, permadani, kipas dan tasbih.  


Dan kedatangan tentara-tentara Jepang itu, seakan mau berbaik-baik. Mereka menghibur dengan kata-kata, ”Jangan susah, anak-istri, Nippon jaga baik-baik…..”


          Terhadap anak kecil, mereka sangat baik. Suka menggendong dan mengajak bermain-main. Oleh kalangan istana, hal seperti itu diduga sebagai ingin mengetahui rahasia dari mulut anak-anak yang polos.


Pada waktu itu Jepang juga mengeluarkan pengumuman, agar semua barang berharga seperti emas, intan, berlian, diserahkan kepada pemerintah Jepang.


        Disebutkan bahwa barang-barang itu sangat diperlukan untuk membuat bom atom guna menghancurkan kekuatan orang Eropa. Tak ketinggalan, disebarkan pula isu, bahwa Nippon memiliki peralatan untuk mengetahui barang-barang yang disembunyikan.


Sampai pun dikatakan, bahwa di segenap pojok dan tiang Istana Qadriyah, Jepang telah memasang alat-alat untuk menangkap pembicaraan penghuninya! Sehingga perasaan duka yang dirasakan oleh keluarga Alqadrie semakin bertambah berat dengan rasa was-was dan khawatir selalu.  


Belum lagi, di mana para ratu diharuskan bekerja kasar ( Romusha ) seperti mencangkul kebun di seberang, yaitu di kawasan Sungai Bangkong.


Terpaksa para ratu mengenakan caping lebar untuk menahan sengatan matahari. Pun mengenakan sepatu yang terbuat dari karet mentah (rubber sheet).


  Mana lagi keadaan negeri bak “padang tekukur”.  


Beli apa-apa harus antre dan menggunakan kupon. Kalau beras habis, terpaksa makan lempeng sagu. Kalau pun ingin makan mie, terpaksa harus membuat sendiri dari cendawan hutan.


      Tanggal 1 Juli 1944, 


     Berita yang dilansir oleh surat kabar Borneo Sinbun, membuat kalangan keluarga Istana Qadriyah menjadi gempar!  Berita tersebut sampai juga ke istana, kendati ada pula usaha untuk menutup-nutupi nya.


Tak dapat dikatakan, betapa kedukaan telah menyelubungi seluruh keluarga Alqadrie.  Sampai-sampai tak dimiliki lagi air mata untuk diteteskan.  Kering dalam kehampaan rasa. 


Setelah kekuasaan Jepang di Indonesia runtuh pada tahun 1945, 


Ratu Perbu Wijaya, Ratu Anom Bendahara bersama keluarga korban lainnya, datang ke Mandor untuk menyaksikan tempat di mana Jepang telah melakukan pembantaian.


Yang datang ke sana bukan hanya keluarga Istana Qadriyah, tapi juga masyarakat lainnya. Kepergian ke Mandor diantar oleh anggota tentara sekutu, bersama beberapa orang Jepang yang diborgol sebagai penunjuk jalan.


  Apa yang ditemui, tak lain tulang-belulang yang sudah terpisah-pisah, berserakan di sana-sini. Tak dapat lagi dikenal identitas nya. Betapa luluh hati menyaksikan pemandangan serupa itu, tak kuasa kata-kata mengungkapkannya.



Jenazah Korban Keganasan Militer Jepang



PENEMUAN JENAZAH SULTAN MUHAMMAD  1945 


        Jenazah Sultan Muhammad Alqadrie ditemukan pada tahun 1945 , setelah hampir 2 tahun dijemput tentara Jepang, pencarian jenazah dipimpin oleh Sultan Hamid II,  itu juga atas petunjuk seorang hukuman yang ikut menyiapkan tempat penguburan nya bernama "Mat Kapang ".


 Tempat penguburan Sultan Muhammad itu lokasinya berada di belakang Kompleks Susteran, Dekat Lapangan bola Pontianak, kini Jalan Arif Rahman Hakim – Pontianak.


Waktu digali, tampak mayat masih dalam keadaan utuh, terbungkus kelambu kasa dan permadani. Di tangannya masih terlilit tasbih, sedang di bahu kirinya terletak gigi palsu. Kipas yang biasa dipakai Sultan, juga ditemukan dalam gulungan kelambu kasa.


   Waktu dikeluarkan dari bungkusan kelambu kasa dan permadani, tampak sebelah tangannya tertekuk ke atas. Kemudian mayat tersebut dibawa ke RSU Sungai Jawi Pontianak, diperiksa oleh dr. Soedarso. 


Selanjutnya, setelah itu, lalu dibawa pulang ke Istana Qadriyah.


     Ketika dimandikan kulit terkelupas, 

   Tampak daging tubuh masih memerah segar. Tidak ditemukan bagian-bagian tubuh yang cacat, seperti terpotong ataupun patah. Pun tak ditemukan bekas penganiayaan seperti bekas pukulan ataupun tembakan.  Kuku jari tangan dan kaki masih lengkap.


Apakah penyebab beliau wafat?


      Adakah beliau wafat karena sakit? 


   Hasil visum dari RSU Sungai Jawi – Pontianak tidak pernah diungkapkan, sehingga penyebab wafatnya Sultan Muhammad pun menjadi sebuah misteri.


Menurut dugaan kalangan Istana Qadriyah, kemungkinan almarhum belum lama meninggal. Kendati ditangkap sudah lebih kurang setahun.


Akhirnya, dengan upacara kebesaran, jenazah almarhum Sultan Syarief Muhammad Alqadrie dimakamkan di Pemakaman Raja-Raja Pontianak, di Batu Layang.


       Mengenai mayat korban lain yang berasal dari Istana Qadriyah, tetap tidak ditemukan. Apakah berada di Mandor ataukah di tempat lain, tidak diketahui dengan jelas…… ***



Pelaku Pembantaian adalah Tentara Angkatan Laut Kekaisaran Jepang ketika yang di lakukan di Pontianak kemudian menyebar di seluruh Kalimantan Barat


Syarifah Maryam Binti Syarif Alwi Assegaf yang bergelar Maharatu Seberang,  dan Ratu Syarifah Fatimah Binti Pangeran Bendahara Syarif Thoha Kholil Alkadri juga adalah istri Sultan yang termasuk korban pembunuhan Jepang yang di esxsekusi di Mandor


Dari 333 Marga Alkadri, 


 Terdapat 60 - 66 dan termasuk 28 - 30 keluarga Sultan Syarif Muhammad Alkadri Jamalullail yang terbunuh termasuk dirinya, istrinya dan anak - anak beliau, salah satu anak Sultan Syarif Muhammad Alkadri Jamalullail yang selamat hanyalah  Syarif Abdul Hamid  Alkadri Jamalullail karena saat itu sedang menjalani tahanan di Batavia Jakarta (selama 3 tahun)


Lambang Kesultanan Kadriah Pontianak




Peristiwa Mandor Berdarah, .....


 Dalam catatan sejarah merupakan penghancuran Elite Melayu Kalimantan Barat karena hampir semua Sultan dan Raja di tangkap dan di Esxsekusi di Mandor 


Jadi bukan hanya Sultan Syarif Muhammad Alkadri saja tetapi termasuk Sultan - Sultan yang lain dan elit politik


Peristiwa Pembantaian Mandor berdarah termasuk dalam 'Peristiwa Hindia Belanda yang masuk dalam rana bagian perang Dunia ke II yang telah menelan korban ribuan jiwa hanya dalam waktu yang singkat


Merupakan tindakan keji dan biadab yang di lakukan tentara Dainipon angkatan Laut Jepang saat itu (1944 M)


Sasaran utama Jepang adalah Raja dan Sultan, Pembesar Istanah Raja dan Kesultanan termasuk Toko Elit Politik dan Penggerak perjuangan melawan Penjajah Jepang


Akan tetapi dalam praktek nya mereka menyasar di semua lapisan Masyarakat sehingga hampir semua Etnis dan Suku menjadi korban Pembantaian tersebut


Terutama etnis - etnis yang mendiami Pontianak, Mempawah, Sambas, Singkawang, Landak (Ngabang), Sanggau, Sekadau, Sintang, Kapuas Hulu, Katong, Ketapang dan semua Etnis namun yang terbanyak menjadi korban adalah etnis Melayu Karena sasaran utamanya adalah Raja dan Sultan


Para Raja dan Sultan kebanyakan di bawa ke Mandor kemudian di esxsekusi di makam 11 tempat pemancungan


Jenis Serangan dari Jepang mereka sebut dengan ""Serangan Tengah Malam Menangkap Para Pemberontak Jepang""


Kemudian di kenal sebagai ""Serangan Pembantaian Jepang""


Karena yang mereka serang termasuk seluruh Masyarakat Kalimantan Barat baik Laki - laki dan Para perempuan, maka peristiwa tersebut lebih tepat di sebut "'Serangan Pembantaian"" Mandor Berdarah


Jepang mengklaim hanya membantai 3.000 orang,..... 


 Namun dalam data yang di rilis tercatat 21.000 orang tetapi dari pakta Mayat - mayat yang berserakan setelah peristiwa kejadian mencapai lebih dari 50.000 korban


Peristiwa Mandor berdarah merupakan rekayasa Jepang untuk menguasai Kalimantan Barat dalam waktu yang singkat dengan kedok penangkapan para pemberontak (orang - orang yang melawan Jepang) yang di pusatkan di Mandor kecamatan Mandor Kabupaten Pontianak (Tahun 2.000 M  di mekarkan menjadi Kabupaten Landak)


Adapun rekayasa Jepang dengan mencurigai Kalimantan Barat dan Selatan adanya Komlotan - Komplotan Feodal Lokal, Cendikiwan, Ambtenar, Politisi, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama hingga rakyat (mereka sebenarnya adalah perintis perjuangan Kemerdekaan Indonesia ) namun oleh Jepang di sebut komplotan dengan maksud mempermudah dan meyakinkan dunia untuk memuluskan reaksi kekejaman mereka


Tindakan Jepang kepada mereka adalah bentuk ketidaksukaan mereka karena adanya perlawanan Rakyat, sehingga oleh Jepang di anggap sebagai Komlotan demikian cara penjajah menginjak bumi Kalimantan Barat saat itu



DYMM Sultan Syarif Mahmud Melvin, SH
Sultan Kesultanan Kadriah Pontianak ke IX
Ditabalkan pada tahun : 2017 M
Ibni, 
Allahyarham Sultan Syarif Abubakar 
( 2004 - 2017 M ) 




Sebelum terjadi peristiwa Mandor Berdarah
 Juga sudah terjadi Peristiwa Cap Kapak.


Dimana tentara - tentara Dainivon Jepang mendatangi rumah penduduk dengan mengobrak - Abrik rumah penduduk, dengan tujuan agar penduduk takut dan tidak berani melakukan pemberontak atas tindakan kejam mereka. Tentara Dainivon Jepang sengaja merusak Pintu - pintu rumah penduduk dengan mengunakan Kapak untuk mengancurkan pintu - pintu rumah penduduk


Pada saat itu Jepang tidak segan - segan menakiti penduduk hingga membunuhnya dan merampas gadis - gadis untuk di jadikan budak mereka (Peristiwa Cap Kapak lebih pantas di sebut Jaman Perbudakan Jepang terhadap penduduk Kalimantan Barat). Genosida (Pembantaian)  merupakan cara yang paling cepat untuk menguasai suatu daerah dengan cara yang cepat


Sebelum Genosida mereka lakukan adalah dengan menyebar fitnah kepada masyakT adanya bentukan kelompok - kelompok perlawanan yang terdiri dari berbagai komponen unsur - undur masyarakat, mulai dari para Sultan/Raja, Cendikiwan, Ambtenar, Ulama, politik, tokoh adat, toko masyarakat, tokoh pemuda hingga yang di anggap sebagai rakyat Jelata


Kelompok inilah inilah yang nantinya akan di jadikan tumbal untuk gerakan Genosida mereka yang akan di isukan kepada Dunia


Tujuan utama dari Genosida tersebut untuk memberangus perlawatan Rakyat saat itu agar lumpuh secara total sehingga Kalimantan Barat dapat di kuasai dengan cepat untuk membangun Negara Neokolonis Jepang di Kalimantan Barat


Dalam terbitan Koran Jepang yang berjudul ""Buruneo Shinbun"" 1943 M adanya rencana Jepang untuk melakukan tindakan Genosida terhadap semua Komlotan perlawanan yang ada di Kalimantan Barat dan Selatan


Rencana Negeri Matahari tersebut sudah tersusun rapi hanya mencari waktu yang tepat untuk Genosida tersebut berdasar keterangan dari Koran yang di terbitkan di  Jepang saat itu


Dalam Mitos Jepang tanggal 28 Juni 1944 M merupakan hari yang tepat untuk Genosida tersebut 


Karena terdiri dari anggka genap 28 - 6 - 44


Dimana angka Genap menurut primbon Jepang adalah angka kemenangan untuk mereka dan anggka kekalahan bagi orang yang mereka perangi


Sedangkan menurut Sultan Syarif Muhammad Alkadri Jamalullail tahun 1944 M adalah angka tahun yang penuh dengan huru - hara dan prahara, dan tahun berhenti ya kebijakan dan terhentinya tindakan orang bijak


Artinya Sultan Syarif Muhammad Alkadri Jamalullail sudah mendatkan firasat sebagai hari berhentinya kekuasaan beliau sebagai Sultan, namun belum di ketahui kapan terjadi


Sebab itu di Ahir masa hidupnya Sultan Syarif Muhammad Alkadri Jamalullail mengatakan tahun 1944 M adalah tahun "Takdir" tahun berpasrah diri "'Alqadar"" (Alkadri) di tahun itu sehebat apapun ilmu akan musnah



Daerah Istimewa Kalimantan Barat




KORBAN PEMBANTAIAN JEPANG, ...


Dalam peristiwa 28 Juni 1944 M yang menjadi Korban Jepang adalah :

1. Sultan Syarif Muhammad Alkadri Jamalullail 71 tahun
2. Pangeran Adipati (Anak Sultan Syarif Muhammad Alkadri 31 Tahun)
3. Pangeran Agung (Anak Sultan Syarif Muhammad Alkadri Jamalullail 26 Tahun)
4. JE.Patiasina 54 tahun
5. Jhung Khok Men 57 tahun
6. NG Nyiap Soen 40 tahun
7. Lumban Pea 41 tahun
8. Dr.Rubini 56 tahun Mempawah 
9. Kei Liang Kei 60 tahun10.  NG Nyiap Khan
11. Ke Liang Kei 
12. Penagian 
Harahap 
13. Noto Suejdono
14. Pj Looway Patah
15. CW Oktavianoes Loeces
16. Ong Joei Kei
17. Oerya Aliuddien 
18. Goedti Sienan 44 tahun Penembahan Ketapang 
19. Sultan Mohammad Ibrahim Syafiuddin Sambas 40 Tahun 
20. Sawon Wongso Admonod 50 tahun
21. Abdul Sommad
22. Dr. Soenaryo Martowardojo
23. Muhammad Yatim
24. Raden Mas Suejdono
25. Nasaruddin 
26. Soedarmadie 
27. Tamboenan Sriger
28. Thie Boen Khen (wartawan Cina)
29. Nasroen RT (Pangeran)
30. E Londo Kawegian
31. WFM Tewoe
32. Wagimin Wososemito
33. Ng Liong Khoi
34. Theng Swa Teng 
35. Dr.RM Ahmad Diponegoro 
36. Dr. Ismail
37. Ahmad Maidin
38. Amalia Robini (istri Dr.Robimi)
39. Noerlela Penagian Harahap (istri Penagian Harahap)
40. Tengku Idris 50 Penembahan Sukadana
41. Goedti Mesir Penembahan Simpang Ketapang 43 tahun
42. Syarif Saleh Alidrus Penembahan Kubu Raya 63 tahun
43. Gusti A. Hamid Penembahan Ngabang Landak 
44. Ade Muhammad Arif Penembahan Kerajaan Sanggau 40 tahun
45. Gusti Mohamad Kelip Penembahan Sekadau 41 tahun
46. Gusti Ja'far Penembahan Penembahan Kapuas Hulu 
47. Raden Abdoel Bahry Roece Penembahan Sintang 
48. Gusti Mohamad Taufiq Penembahan Mempawah 63 tahun 
49. AFV Lantang Panglima Lantang Tibo
50. Raden Malaprana
51. Joen Kiu Liong


Pelaku utama yang melakukan Genosida dan bertanggung atas tragedi di sebut adalah Shujhijithiyo Seibu Youmo Gubernur Negara Bagian Kalimantan


Dialah yang merencanakan Genosida tersebut demi menguasai Pulau Kalimantan Barat dalam waktu yang singkat


Sehingga daftar keburukan Jepang menyebar ke seluruh dunia sebagai salah satu dasar Hukum Dunia Internasional untuk menjatuhkan Bom Nuklir di Negara Jepang



Makam Juang Mandor, .....


 Merupakan situs sejarah kekejaman pendudukan jepang di Kalimantan Barat yang direncanakan jepang 1943 M dan eksekusinya 1944 M, sehingga terkenal sebagai ""Peristiwa Tragedi Mandor Berdarah"" Jepang bagaikan Harimau buas yang hilang akal dan jatuh dirinya memberangus dan membumi hanguskan Penduduk Kalimantan Barat tanpa prikemanusiaan, bagaikan Harimau lapar yang harus darah dan kekuasaan


Sehingga anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat mengeluarkan Perda Nomor 5 Tahun 2007. Peristiwa Tragedi Mandor Berdarah sebagai ""Hari Bergabung" 28 Juni sebagai Hari Bergabung Kalimantan Barat""



Titik Koordinat : 0.316435, 109. 336575

diambil di depan pintu Gerbang masuk Utama Makam Juang Mandor 

Lokasi : Simpang Kasturi Desa Mandor Kecamatan Mandor 79355 Kabupaten Pontianak (sekarang Landak pemekaran tahun 2.000) Provinsi Kalimantan Negara Indonesia

Type : Makam Masal

Didekasikan Kepada: Masyarakat Kalimantan Barat atas Kekejaman Jepang



Tragedi Mandor Berdarah
Genosida Jepang di Kalimantan Barat




PELANTIKAN SULTAN SYARIF THAHA, ...


Pada tanggal 29 Agustus 1944 M
 Bertepatan penanggalan Jepang 26 Hatigatu 2605 J


Di adakan rapat untuk mengisi kekosongan Tahta Kesultanan Qadriah Pontianak 


Rapat untuk menentukan calon tokoh di hadiri Ken Kanrikan Tokoro Pontianak, Asjikin, Tamara, Jamagata, Hasnol Kabri, Syarif Oesman, Syarif Hamid Alhinduan, Syarif Ibrahim Alkadri dan seluruh kerabat Kesultanan Qadriah Pontianak yang selamat' dari peristiwa Mandor Berdarah


Dalam rapat di putuskan berdasarkan adat Kesultanan Qadriah Pontianak, ditetapkan 2 orang calon, keduanya adalah anak perempuan Sultan Syarif Muhammad Alkadri (yang selamat) dari istri Syarifah Zubaidah yang bergelar "Maha Ratu Besar Permaisuri" yaitu 


1. Syarifah Maryam Ratu Besar Laksamena Srinegara yang telah menjadi istri Syarif Hamid Alhinduan dan 


2. Syarifah Fatimah Ratu Anom Bendahara Istri dari Syarif Oesman Alkadri


Dari keputusan rapat tersebut kedua anak Putri Sultan Syarif Muhammad Alkadri dengan tegas menolak dan tidak bersedia dilantik menjadi " Sultanah" Sultan Perempuan, karena itu  dengan tegas mereka memberikan jawaban sebaiknya di ambil dari keluarga laki - laki yang terdekat sesuai dengan Tradisi Adat  Istiadat yang berlaku secara turun temurun


Karena keluarga terdekat Syarif Abdul Hamid Alkadrie masih dalam tahanan di Batavia dan belum kembali  hanya satu - satunya anak laki-laki yang selamat


Maka di putuskan,... 

 Di dalam rapat untuk memilih 5 orang cucu - cucu yang tertua dari Jalur Sultan Syarif Yusuf Alkadri dan jalur perempuan yang masih terhubung dengan Sultan Syarif Muhammad Alkadri


Akhirnya di pilih 5 kandidat :


1. Pangeran Syarif Thaha Bin Usman ibundah Fatimah binti Sultan Syarif Muhammad Alkadri 

2. Pangeran Syarif Achmad Yan Bin Usman Alkadri ibunda Fatimah Binti Sultan Syarif Muhammad Alkadri 

3. Pangeran Syarif Hasim Bin Usman Alkadri ibunda Fatimah Binti Sultan Syarif Muhammad Alkadri 

4. Syarif Ibrahim Bin Syarif Hamid Alhinduan ibunda Syarifah Maryam Bin Sultan Syarif Muhammad Alkadri 

5. Syarif Yusuf Bin Syarif Hamid Alhinduan ibunda Syarifah Maryam Binti Sultan Syarif Muhammad Alkadri


Maka dari rapat yang terakhir, di ambillah dari cucu yang tertua yaitu Syarif Thaha Alkadri Bin Usman ibundah Syarifah Fatimah Binti Sultan Syarif Muhammad Alkadri (Ratu Anom Bendahara)


Pada saat di nobatkan Syarif Thaha Bin Usman Alkadri 
Baru berusia 18 tahun dengan gelar Pangeran Negara 


Kemudian beliau di dampingi Majelis Kesultanan Qadriah Pontianak yang di sebut "Zityo Hyogikai" ( Majelis Kerajaan bentukan Jepang ) 



Pangeran Mas Perdana Agung
Syarif  Mahmud bin Sultan Syarif Muhammad
Syahid dibunuh Jepang 1944 M

Ayah dari :
Sultan Syarif Abubakar. Sultan Pontianak VIII
Kakek dari : 
Sultan Syarif Mahmud Melvin SH. Sultan Pontianak IX




KEBIJAKAN SULTAN SYARIF THAHA, .....


Setelah menjadi Sultan kebijakan yang baru dapat di ambil adalah melakukan identifikasi korban dari keluarga Alkadri


Saat itu beliau menunjuk Pangeran Bendahara Syarif Ahmad Alkadri (Achmad Kampak) yang juga selamat dari incaran Jepang dan dari keluar Kesultanan Syarif Ibrahim Alkadri


Maka identifikasi awal adalah kuhsus mendata korban dari keluarga Alkadri yang ternyata banyak yang menghilang di duga mereka semua menjadi korban pembunuhan Jepang'

Identifikasi di lakukan awal  bulan Juli 1944 M dan berakhir Januari 1945

Hasilnya akan di laporkan kepada Sultan Syarif Thaha Bin Usman Alkadri



Di mana pada saat itu sudah di persiapkan  pemakaman masal yang berjumlah 10 Makam, karena jasad dengan kepala sudah terpisah semua, maka sebagai dasar identifikasi hanya mengunakan muka  kepala saja sebab tubuh sudah tidak bisa di kenali tertumpuk di makam Pemancungan (sekarang di kenal makam 11 Pemancungan)


Dari data keluarga Alkadri yang melaporkan kehilangan keluarga terdapat sekitar 333 korban Marga Alkadri di seluruh Kalimantan Barat saat itu  hasil identifikasi Pangeran Bendahara Syarif Ahmad bin Usman Alkadri adalah :


1. Titik Koordinat Lokasi : Belum di temukan 


2. Lokasi : Distrik Mandor -Mentrado Dusun Kasturi Kabupaten Pontianak Wilayah Borneo Barat Kesultanan Qadriah Pontianak (1944 M) Informasi belum merdeka dan masih Resmi berbentuk Kesultanan Qadriah Pontianak)


3. Nama Kasus : Insiden Distrik Mandor Berdarah 

4. Motif : Rekayasa Penumpasan Pemberontak 

5. Jenis Gerakan : Genosida Pembunuhan Secara Masal

6. Sultan dan Raja serta Tokoh Masyarakat Borneo Barat dan Selatan 

7. Jenis Tindakan: Genosida 

8. Pelaku Pasukan Dainivon Angkatan Laut Jepang

9. Ide : Shujhijithiyo Seibu Youmo Gubernur Negara Bagian Kalimantan 

10. Tujuan: Penguasaan secara : Genosida 

12. Status Jepang : Penjahatnya Perang

13. Jumlah Penduduk yang di Genosida: 21.037 - 50.000 Jiwa

14. Jumlah makam Masal : 10 makam

15. Jumlah lokasi Pemancungan : 1 terkenal sebagai makam 11 

16. Sipat Kelakuan  : Tindakan Brutal

17. Marga Alkadri yang terbunuh  333 Korban




Balairung Istana Kadriah Pontianak




KAUM KERABAT ALKADRI YANG JADI KORBAN, .....



28. Daftar Korban Keluarga Alkadri di tampilkan hanya 25 %  di antaranya adalah :

1. Sultan Syarif Muhammad Alkadri bin Sultan Syarif Yusuf Alkadri 
2. Pangeran Adipati bin Sultan Syarif Muhammad Alkadxri 
3. Pangeran Agung bin Sultan Syarif Muhammad Alkadri
4. Syarifah Fatimah Binti Pangeran Bendahara Syarif Thoha Kholil Alkadri istri ke 6 Sultan Syarif Muhammad Alkadri 
5. Pangeran Ali bin  Sultan Syarif Muhammad Alkadri 
6. Pangeran Hasan bin Sultan Syarif Mohamad Alkadri
7. Pangeran Mas Perdana Syarif Abdul Muthalib bin Sultan Syarif Muhammad Alkadri 
8. Ratu Kesuma Yuda Syarifah Maimunah Binti Sultan Syarif Muhammad Alkadri 
9. Pangeran Kesuma Yuda Syarif Umar bin Sultan Syarif Muhammad Alkadri (Demang Siantan hingga Kakap yang di angkat ayahnya Sultan Syarif Muhammad Alkadri)
10. Pangeran Anom Bendahara Syarif Usman bin pangeran Mas Negara Syarif Mahmud Alkadri
11. Pangeran Perbu Wijaya Syarif Yusuf bin Syarif Abu Bakar' Alkadri (juru tulis Swapraja Sultan Syarif Muhammad Alkadri)
12. Pangeran Laksamana  Sri Negara Syarif Hamid bin Syarif Abu Bakar' Alkadri (menantu Sultan Syarif Muhammad Alkadri)
13. Pangeran Laksamana Syarif Ahmad bin Pangeran Mas Syarif Mahmud Alkadri bin Sultan Syarif Yusuf Alkadri 
14. Syarifah Aisyah binti Pangeran Mas Syarif Ahmad Alkadri
15. Syarifah Umi Kalsum binti Syarif Muhammad Yusuf bin Syarif Abdullah Alkadrie Kampung Arab (Keturunan dari Panglima Mangku Syarif Abdullah Alkadri)
16. Syarif Yusuf bin Thaha Bin Muhammad Alkadri (Batu Layang)
17. Syarif Abu Bakar' bin Thaha bin Muhammad Alkadri (Batu Layang)
18. Syarifah Ruqayah binti Thaha Bin Muhammad Alkadri (Batu Layang)
19. Syarifah Aminah binti Abu Bakar Bikri bin Abdullah Alkadri (Keturunan Panglima Mangku Syarif Abdullah Alkadri) Kampung Arab 
20. Syarifah Aminah binti Abu Bakar Shodiq bin Abdullah (keturunan Panglima Mangku Syarif Abdullah Alkadrie) Kampung Arab
21. Syarifah Hawa Nur Aisyah binti Thaha Abu Bakar' bin Pangeran Bendahara Ahmad Alkadri (Keturunan Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Alkadri) Tanjung Raya II
22. Syarifah Hayati binti Thoha Abu Bakar bin Pangeran Bendahara Ahmad Alkadri (Keturunan Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Alkadri) Tanjung Raya II 
23. Syarifah Aisyah Nur Hayati binti Thoha Abu Bakar bin Pangeran Bendahara Syarif Ahmad Alkadri (Keturunan dari Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Alkadri) Tanjung Raya II 
24. Syarifah Nur Aminah binti Ahmadi bin Ahmad Alkadri (Keturunan dari Sultan Syarif Kasim Alkadri) Batu Layang 
25. Syarif Hamid bin Hamid Ahmad Alkadri (salah satu penjaga makam batu Layang) keturunan dari Pangeran Hadikarya Wijaya Kusuma Syarif Ali Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie Batu Layang 
26. Syarif Abdul Majid Bin Ahmad Sanggau (Keturunan dari Panglima Syarif Muhammad Efendi bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie Sanggau
27. Syarif Jadid bin Muhammad Alkadri Sintang (Keturunan dari Pangeran Syarif Hasan Bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie) Sintang
28. Syarifah Zahara binti Abdullah Alkadrie Kakap keturunan dari Muhammad bin Sultan Syarif Kasim Alkadrie Kakap
29. Syarifah Maryam Binti Alwi Alkadrie Ketapang keturunan dari Panglima bendahara Syarif Ali Ketapang keturunan dari Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Alkadri 
30. Syarif Hasan Bin Usman Alkadri keturunan dari Pangeran Syarif Abu Bakar bin Husein bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie Sekadau
31. Syarifah Fatimah Binti Hasan keturunan dari Pangeran Syarif Muhammad bin Sultan Syarif Kasim Alkadrie Karangan
32. Syarifah Fatiiyah binti Hamid Alkadrie keturunan dari Pangeran Jubah Putih Syarif Abu Bakar bin Sultan Syarif Usman Alkadrie Tayan
33. Syarifah Zulfah binti Hamid Alkadri keturunan dari Pangeran Jubah Putih Syarif Abu Bakar' Alkadri bin Sultan Syarif Usman Alkadri 
34. Syarif Bakri Bin Abu Bakar Alkadri Nusapati keturunan dari Syarif Mustofa Serasan 
35. Syarif Muhammad Zein Bin Syarif Ahmad Alkadri keturunan dari Syarif Mustofa Serasan (Nusapati)
36. Syarifah Syecah binti Muhammad Zein Alkadri keturunan dari Syarif Mustofa Serasan (Peniraman)
37. Syarif Abdurrahman Bin Syarif Mahmud Alkadri keturunan dari Panglima Hitam Paku Alam Syarif Ibrahim Alkadri Segeram (Sei Purun)
38. Syarif Muhammad Bin Alwi Alkadrie keturunan dari Pangeran Tinggi Al-akbar Syarif Alwi Alkadri Solo ( Kelapa Tinggi Segedong )
39. Syarif Husein bin Alwi Alkadri keturunan dari Pangeran Tinggi Al - Akbar Syarif Alwi Alkadri Solo (Gedung Intan Segedong)



Dokumen ini di ambil tidak berurutan hanya untuk mewakili 333 korban Pembunuhan Jepang maka tidak sama dengan Dokumen yang pernah di posting tentang identifikasi yang juga di posting sebanyak 30 korban Pembunuhan Jepang



Pada tanggal 30 Januari 1945 M


Identifikasi selesai di lakukan Pangeran Bendahara Syarif Ahmad Bin Usman Alkadri yang merupakan ketua Maktab NanGq 1857  Generasi ke IV saat itu (1940 M - 1958 M)


Beliau jatuh sakit karena Infeksi /Rastong hidungnya kambuh kembali dan sakit yang menyebabkan menunda penyerahan Dokumen tersebut hingga berbulan - bulan


Pada tanggal 29 Oktober Syarif Abdul Hamid Alkadrie di angkat menjadi Sultan Qadriah Pontianak dengan nama Sultan Syarif Hamid II Alkadri


Sehingga mengahiri masa jabatan Sultan Syarif Thaha Bin Usman Alkadri 


Selanjutnya oleh NICA di resmikan sebagai Sultan Qadriah Pontianak yang ke VIII


Mengantikan Sultan Syarif Thaha Alkadri kemudian Sultan Syarif Thaha Bin Usman Alkadri di gelar sebagai ""Sultan Sehari"


Yaitu Sultan untuk mengisi kekosongan karena Sultan Syarif Hamid II Alkadri Bin Sultan Syarif Muhammad Alkadri masih berada di Batavia saat itu



Kaum Kerabat Kesultanan Kadriah Pontianak
Bergambar Bersama Sultan Muhammad Alkadri



DOKUMEN KORBAN PEMBANTAIAN JEPANG, ....


Ketika Pangeran Bendahara Syarif Ahmad ( dikenal  sebagai AHMAD KAMPAK Segedong )  Bin Pangeran Bendahara Syarif Usman bin Syarif Ja"far Pangeran Bendahara Tua, Putra Sultan Hamid.I. Alkadrie,  menemui Sultan Syarif Thaha Alkadri,  


Untuk menyerahkan dokumen Indentifikasi Korban Pembunuhan Jepang, (28 Maret 1945 M) Sultan Syarif Thaha Alkadri menolak dokumen tersebut dan menganjurkan untuk di serahkan kepada Sultan Syarif Hamid II Alkadri, karena Beliau sudah tidak menjadi Sultan dan tidak lagi bertanggungjawab dengan dokumen tersebut


Ketika Pangeran Bendahara Syarif Ahmad Alkadri menemui Sultan Syarif Hamid II Alkadri kemudian ingin menyerahkan Dokumen Identitas Korban Mandor Berdarah, ternyata Sultan Syarif Hamid II Alkadri juga menolaknya, dengan alasan cukup di simpan Pangeran Bendahara Syarif Ahmad Alkadri karena Beliau sudah cukup mengetahui keluarga Kesultanan saja


Agar tidak menambah daftar Kepiluan yang berkepanjangan, 


Sehingga sampai hari ini Dokumen tersebut tetap menjadi


 Dokumen Resmi MAKTAB NanGq 1857 Dewan Pimpinan Pusat 
Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri 
Kantor Pemeliharaan Dan Statistik Sejarah Ahlulbait
Yang tidak bisa di alihkan kembali kepada siapapun 


Karena menurut Sultan Syarif Hamid II Alkadri itu adalah Hak Keluarga Keturunan Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri yang berhak mengurusnya hingga Generasi ke Generasi selanjutnya


Pangeran Bandahara Syarif Ja"far 
Ibni, 
Allahyarham Sultan Hamid. I. 



HIJRAHNYA  PANGERAN BENDAHARA SYARIF JAFAR,.....


Kembali kepada Manaqib Sultan Syarif Muhammad Alkadri , 


Pada tanggal 12 Juli 1913 M, 

 Ratu Suri Mahkota Agung Syecah Jamilah binti Mahmud Syarwani Almaky Adagistani Alghoust Asyadjely Alhasani melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian di beri nama : Syarif Abdul Hamid Alkadrie (Sultan Hamid II Alkadri) kemudian anaknya di asuh oleh seorang wanita Belanda Inaaris


Pada tanggal 23 Juni 1911 Belanda kembali' lagi menyodorkan Kontrak Perjanjian Kerja Sama untuk yang ketiga kalinya


Dimana perjanjian ini baru dapat di realisasikan oleh Sultan Syarif Muhammad Alkadri Jamalullail pada tanggal 26 Maret 1912 M yang isinya ternyata "Pihak Belanda semakin jauh ikut campur dalam Kesultanan Qadriah Pontianak"


Di mana salah satu isinya yang sangat menekan pajak hanya di terima sebesar 20 %  dari Penghasilan Keseluruhan Rakyat Kesultanan Qadriah Pontianak 


Akibat dari tindakan ini Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja''far bin Sultan Hamid I Alkadri menahan pajak yang akan di setor kepada Residen Rentenir Belanda


Karena Pajak di tahan Ahirnya Residen Rentenir Belanda mendatangi Sultan Syarif Muhammad Alkadri dan menuntut agar segera di bayarkan 


Mengetahui hal tersebut Ahirnya Sultan menemui Pamanya Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri tentang pajak yang di tahan Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Bin Sultan Hamid I Alkadri 


Agar segera memberikan pajak tersebut karena sudah di di setujui dalam perjanjian tertanggal 23 Juni 1911 M yang lalu


Mengetahui kejadian tersebut Akhirnya Belanda memutuskan agar bendahara Kesultanan Qadriah Pontianak di ganti, namun Sultan Syarif Muhammad Alkadri tidak menggubris ke inginan pihak Belanda 


Karena kejadian tersebut membuat Pangeran Bendahara Syarif Ja"far Alkadri merasa tidak enak dengan Sultan Syarif Muhammad Alkadri 


Kemudian beliau memutuskan untuk Hijrah keluar dari Pontianak dengan tujuan ke tanah Arab Saudi yaitu di Mekah Al quds dan pihak Belanda juga menyarankan agar Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Alkadri agar Segera meninggalkan Pontianak sebelum mereka melakukan tindakan yang lebih jauh


Karena ada ancaman seperti itu, Ahirnya pada tanggal 12 Juni 1912 Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Alkadri keluar dari Pontianak bersama istrinya dan menitipkan anak - anaknya kepada mertuanya Syecah Khodijah Binti Abdullah Alkhotib dan Syech Mahmud Syarwani Almaky Adagistani Alghoust Asyadjely Alhasani 


Sedangkan anak laki-laki mengikuti paman - Pamanya yang dari keluarga Alkadri dan ada juga yang di asuh orang Bugis bernama Daeng Meteng Karaeng (Manaqib Tersendiri)


Akan tetapi setelah hampir 10 tahun menetap di tanah Arab Saudi, Istri Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Alkadri memutuskan untuk pulang kembali ke Pontianak hingga wafat dan di makamkan di Gang Melliau Jalan Tanjungpura Pontianak


Sementara Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri bersama ke 6 anaknya yang di lahirkan di Arab Saudi tetap bertahan hingga wafat nya, 


Terkecuali 1 orang yang wafat di Talango Sumenep bernama :


Syarif Achmad Bin Pangeran Bendahara Tua Syarif Ja'far Alkadri


Baca disini, 
Klik Link dibawah ini >>



Pesawat Bomber Jepang 




PERISTIWA BOM 9 JEPANG DI PONTIANAK,.....


Pada tanggal 14 Desember 1941  M, 


Pontianak di jatuhi Bom oleh pihak Jepang sehingga kondisi Pontianak lulu lantak, Bom tersebut menyisir benteng - benteng Mariana yang di buat pihak Belanda di Jaman Sultan Syarif Kasim Alkadrie hingga di Jaman Sultan Syarif Hamid I Alkadri


Bom tersebut di jatuhkan di pusat pelabuhan Belanda sehingga kampung seberang dan benteng Mariana musnah dalam sekejap (Sekarang Jalan Pak Kasih hingga Jalan Kom Yos Sudarso Sungai Jawie) yang menyisir hingga pelabuhan Rakyat Nipah kuning dan Sungai Rengas merupakan daerah yang terparah saat itu 24 Desember 1941 M  


Setelah Pelabuhan Belanda rusak dan tidak berpungsi kemudian Jepang mulai menduduki Pontianak dan pihak Belanda bertekuk lutut kepada Jepang  serta mengendalikan Kesultanan Qadriah Pontianak


Sejak saat itu terjadilah sistem kerja Rodi Kerja Paksa yang di lakukan tentara Angkatan Udara,  Angkatan Darat dan Angkatan Laut Jepang sehingga bukan saja Pontianak akan tetapi seluruh Nusantara 


Mengalami kerja Rodi Kerja Paksa


Sehingga Kesultanan Qadriah Pontianak mengalami masa - masa yang suram hingga meletusnya peristiwa Mandor Berdarah sebagai Puncak bentuk dari kebrutalan dan kekejaman tentara Dainivon Jepang


Demikian Manaqib Singkat Sultan Syarif Muhammad Alkadri Bin Sultan Syarif Yusuf Alkadri 


Semoga menjadi Ibrah apapun bentuk penjajahan semuanya akan menyengsarakan Rakyat 


Dokumen Sejarah ini hanya 25 % yang dapat di tampilkan



Pangeran Bendahara II, Syarif Usman 
Bin, 
Pangeran Bendahara I, Syarif Ja"far


Sumber : 

MAKTAB NANGQ 1857 
Dewan Pimpinan Pusat Pontianak
 Kantor Pemeliharaan Dan Statistik Sejarah Ahlulbait
 Pangeran Bendahara Syarif Ja'far Bin Sultan Syarif Hamid I Alkadri